TRIBUNNEWS.COM - Toprak Razgatlioglu tak mampu menyembunyikan kekecewaannya usai sesi practice di Grand Prix Amerika 2026.
Juara dunia World Superbike (WSBK) tiga kali tersebut sangat marah setelah adanya kendala pengereman pada Yamaha M1 miliknya.
Permasalahan tersebut membuyarkan ambisi untuk menembus posisi sepuluh besar di Circuit of the Americas (COTA) untuk lolos ke Q2.
Pembalap asal Turki tersebut sebenarnya menunjukkan potensi besar saat memasang ban baru pada percobaan terakhirnya.
Toprak sempat membukukan waktu kompetitif 2 menit 02,373 detik dan hanya terpaut 0,3 detik dari Marco Bezzecchi besutan Aprilia.
Namun, petaka muncul di penghujung lintasan lurus panjang tikungan 12. Motor Pramac Yamaha miliknya mendadak sulit dikendalikan saat memasuki fase pengereman.
Kegagalan menuntaskan putaran bersih membuat Toprak harus puas terdampar di posisi ke-18, tertinggal lebih dari 1,4 detik dari sang pemuncak waktu, Marc Marquez.
Pembalap berusia 29 tahun ini menumpahkan rasa frustrasinya terhadap paket pengereman Yamaha yang dianggap tidak kooperatif.
"Saya selalu melakukan kesalahan di Tikungan 11 dan 12 karena motor tidak mau berhenti di sana," keluh Toprak sebagaimana mengutip Motorsport.
"Saya tidak tahu mengapa. Kami sedang mencoba memahami alasan motor ini enggan melambat. Di Tikungan 12, setelah lintasan lurus panjang, ban depan selalu terkunci saat mengerem. Ini sangat aneh."
Baca juga: Sprint Race MotoGP Amerika 2026 Hasilkan Rekor Baru, Marc Marquez & Pedro Acosta Haram Menang
Toprak meyakini bahwa tanpa kendala tersebut, ia seharusnya bisa bersaing di barisan tengah.
"Jika saya bisa berhenti di dua tikungan itu, catatan waktu saya pasti jauh lebih baik. Hari ini saya benar-benar marah karena tidak bisa menyelesaikan putaran. Jika saya berhasil, mungkin saya akan finis di posisi 10 atau 11," tambahnya.
Transisi Yamaha dari mesin inline-4 ke konfigurasi V4 pada musim dingin lalu ternyata belum memberikan hasil instan.
Bagi Toprak, yang sedang dalam fase belajar usai pindah dari motor berbasis produksi (WSBK) ke prototipe MotoGP, kendala ini kian mempersulit proses adaptasinya.
Ia mengaku harus berkelahi dengan motor di setiap tikungan, terutama terkait sistem engine braking.
Terlebih, kondisi grip sirkuit COTA yang tinggi justru menjadi bumerang bagi gaya balap agresifnya.
Ia menjelaskan bahwa saat ia mencoba mengerem sedikit lebih lambat untuk memangkas jarak, motornya justru kehilangan stabilitas di fase akhir.
"Pembalap lain berkendara dengan sangat halus dan mudah. Sementara saya harus bertarung dengan motor di setiap tikungan dan saat mengerem hanya demi menjaga jalur balap."
Selain masalah teknis pengereman, Toprak juga menyoroti perbedaan performa mesin Yamaha saat melaju di lintasan lurus melawan pabrikan lain.
Walau mesin baru Yamaha bekerja baik di gigi rendah, mereka tampak kehilangan taring saat memasuki gigi tinggi.
"Di lintasan lurus, saya mengikuti Aprilia. Mereka membuat jarak 0,2 hingga 0,3 detik. Di gigi satu, dua, dan tiga, motor kami sempurna. Namun, saat saya pindah ke gigi empat, Aprilia sangat kuat," pungkasnya.
(Tribunnews.com/Niken)