10 ‘Bendera Merah’ Jenderal Zamir: Militer Israel di Ambang Runtuh
Ansari Hasyim March 29, 2026 12:03 AM

SERAMBINEWS.COM – Peringatan keras datang dari pucuk pimpinan militer Israel. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel (IDF), Eyal Zamir, mengungkap ancaman serius: militer bisa “runtuh dari dalam” jika krisis kekurangan personel tidak segera diatasi.

Dalam rapat kabinet keamanan, Sabtu Zamir menyampaikan apa yang ia sebut sebagai “10 bendera merah” sinyal bahaya yang menunjukkan kondisi IDF kian mengkhawatirkan di tengah tekanan perang yang terus berlangsung.

“Saya mengangkat 10 bendera merah sebelum IDF benar-benar runtuh,” tegasnya.

Kekurangan Tentara di Semua Front

Sumber militer menyebutkan, kekurangan personel sudah berada di tingkat mengkhawatirkan.

Bahkan dalam kondisi damai, Israel tetap membutuhkan lebih banyak pasukan untuk menjaga wilayah-wilayah sensitif seperti Gaza, Lebanon, Suriah, dan Tepi Barat.

Baca juga: Iran Sembunyikan Rudal dan Drone di Perut Gunung Berlapis Granit, Bikin AS–Israel Frustrasi

Tanpa tambahan pasukan, celah pertahanan dinilai akan semakin besar dan berisiko tinggi.

Wajib Militer Haredi Mandek

Salah satu penyebab utama krisis ini adalah mandeknya kebijakan wajib militer bagi komunitas ultra-Ortodoks (haredi).

Pemerintah sebelumnya sempat mendorong undang-undang kontroversial untuk memperluas wajib militer, namun langkah itu ditunda demi menjaga persatuan selama perang oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Penundaan ini menuai kritik keras, karena dinilai memperparah beban tentara aktif dan cadangan.

Sejumlah tokoh oposisi langsung bereaksi keras terhadap peringatan Zamir.

Pemimpin oposisi Yair Lapid memperingatkan bahwa pemerintah tidak bisa lagi berdalih tidak tahu jika bencana terjadi.

Sementara itu, Avigdor Liberman menyerukan wajib militer untuk semua warga, mengingatkan bahwa mengabaikan peringatan seperti ini pernah berujung pada tragedi besar.

Mantan Perdana Menteri Naftali Bennett bahkan menyindir tajam: “Apa lagi yang ditunggu?”

Nada serupa datang dari Benny Gantz yang menilai pemerintah terlalu sibuk dengan retorika kemenangan, namun gagal memastikan jumlah tentara yang cukup untuk benar-benar memenangkan perang.

Beban Berat Pasukan Cadangan

Di lapangan, pasukan cadangan disebut terus dipaksa menanggung beban berlebih. Yoaz Hendel menegaskan bahwa kemenangan tidak mungkin diraih tanpa jumlah tentara yang memadai.

“Pemerintah terus mengandalkan pasukan cadangan hingga batas maksimal,” ujarnya.

Peringatan Zamir membuka tabir bahwa ancaman terhadap keamanan Israel kini bukan hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam sistem militernya sendiri.

Dengan perang yang masih berlangsung dan reformasi wajib militer yang belum jelas arah, krisis personel ini berpotensi menjadi bom waktu yang menentukan masa depan kekuatan militer Israel.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.