Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Dampak banjir yang melanda Aceh Utara tidak hanya dirasakan pada sektor hunian dan ekonomi, tetapi juga berdampak serius terhadap pendidikan agama anak-anak.
Hingga kini, ratusan anak penyintas banjir di Desa Buket Linteung, khususnya di Dusun Leubok Muku dan sejumlah dusun lainnya dalam Kecamatan Langkahan Kabupaten Aceh Utara, belum dapat kembali mengikuti kegiatan mengaji.
Kondisi serupa juga dialami anak-anak penyintas banjir di sejumlah desa dan kecamatan lainnya di Aceh Utara.
Kondisi ini terjadi akibat balai pengajian yang selama ini menjadi pusat aktivitas belajar agama mengalami kerusakan parah setelah diterjang banjir.
Hingga saat ini, fasilitas tersebut belum dapat digunakan kembali.
“Saat ini anak-anak belum bisa mengaji lagi karena balai pengajian rusak. Dulu sempat ada bantuan kegiatan selama Ramadan, tapi sekarang sudah tidak berlanjut,” ujar Musliadi seorang penyintas banjir yang juga kepala Dusun Leubok Muku, kepada Serambinews.com, Sabtu (28/3/2026).
Ia menjelaskan, selama bulan Ramadan lalu, kegiatan mengaji masih sempat berjalan berkat dukungan dari lembaga relawan yang turun langsung membantu anak-anak.
Baca juga: Satgas Rehab Rekon Aceh Kebut Pembersihan Lumpur Sisa Banjir, Libatkan Warga via Skema Cash For Work
Namun setelah Ramadan berakhir, kegiatan tersebut terhenti karena tidak adanya fasilitas yang memadai.
Akibatnya, anak-anak yang sebelumnya rutin mengikuti pengajian kini kehilangan akses untuk belajar membaca Al-Qur’an dan pendidikan agama lainnya.
Hal ini dikhawatirkan dapat berdampak pada pembinaan karakter dan pendidikan spiritual anak-anak dalam jangka panjang.
Warga setempat berharap pemerintah segera turun tangan untuk membangun kembali atau merehabilitasi balai pengajian yang rusak, sehingga aktivitas keagamaan anak-anak dapat kembali berjalan normal.
“Kami sangat berharap ada bantuan untuk membangun kembali balai pengajian, supaya anak-anak bisa belajar mengaji lagi seperti biasa,” harap Musliadi.
Selain itu, masyarakat juga berharap adanya perhatian berkelanjutan, baik dari pemerintah maupun pihak terkait lainnya, agar sektor pendidikan agama tidak terabaikan dalam proses pemulihan pascabencana.
Dengan kondisi yang masih terbatas, kebutuhan akan fasilitas pendidikan dasar, termasuk balai pengajian, menjadi salah satu prioritas yang mendesak untuk segera dipenuhi demi masa depan anak-anak di wilayah terdampak banjir.(*)