Ukraina Tawarkan Senjata Hemat Lawan Drone Iran ke Negara Teluk, Qatar Jadi Pionir
Ansari Hasyim March 29, 2026 12:19 AM

 

SERAMBINEWS.COM – Ukraina mulai memainkan peran baru di panggung global. Di tengah tekanan perang yang belum mereda, Kyiv justru menawarkan solusi murah dan efektif kepada negara-negara Teluk untuk menghadapi ancaman drone Iran dan Qatar menjadi yang pertama menyambut tawaran tersebut.

Ukraina dan Qatar resmi menandatangani perjanjian kerja sama pertahanan, Sabtu. Kesepakatan ini mencakup pengembangan teknologi, proyek bersama, hingga pertukaran keahlian dalam menghadapi rudal dan pesawat tanpa awak.

Yang menarik, Ukraina membawa “pengalaman tempur nyata” ke meja perundingan. 

Selama lebih dari tiga setengah tahun perang, negara itu telah menghadapi serangan intensif drone Shahed yang digunakan Rusia sejak September 2023. 

Hampir setiap hari, ribuan drone ditembak jatuh memberi Ukraina keunggulan dalam taktik pertahanan udara murah namun efektif.

Berbeda dengan negara-negara Teluk yang selama ini mengandalkan sistem mahal seperti rudal Patriot dan THAAD—dengan biaya mencapai hampir 4 juta dolar per tembakan—Ukraina menawarkan solusi yang jauh lebih ekonomis: hanya sekitar 2.000 dolar per unit.

Baca juga: Iran Serang Pangkalan AS di Arab Saudi, 15 Prajurit Amerika Serikat Terluka

Kunci dari strategi ini adalah penggunaan “Sting”, drone pencegat yang dikendalikan operator untuk memburu dan menghancurkan drone musuh. 

Teknologi ini dinilai mampu memangkas biaya pertahanan secara drastis tanpa mengorbankan efektivitas.

Tak hanya itu, Ukraina juga telah mengirim sekitar 200 ahli militer ke berbagai negara Teluk. 

Selain Qatar, kerja sama serupa juga telah dijalin dengan Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.

Meski begitu, kesepakatan ini masih berada pada tahap kerangka kerja. 

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut detail teknisnya masih dalam proses finalisasi, termasuk jumlah drone, tenaga ahli, serta skema imbal balik dari negara mitra.

Namun satu hal mulai terlihat jelas: Ukraina mengincar pendanaan dari negara-negara Teluk. 

Di sisi lain, meningkatnya konflik dengan Iran telah menguras stok rudal Patriot secara global—memicu kekhawatiran Kyiv akan berkurangnya pasokan untuk menghadapi serangan rudal balistik Rusia.

Dengan kondisi tersebut, Ukraina kini tak hanya bertahan tetapi juga menjual keahliannya sebagai solusi baru dalam perang modern: lebih murah, lebih fleksibel, dan terbukti di medan tempur.

Iran Sembunyikan Rudal dan Drone di Perut Gunung, Bikin AS–Israel Frustrasi

Iran dilaporkan menyimpan kekuatan militernya di lokasi yang nyaris tak tersentuh, memanfaatkan jaringan fasilitas bawah tanah yang tertanam jauh di dalam gunung granit.

Sejak hari-hari awal konflik, Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) disebut telah mengaktifkan doktrin pertahanan “Decentralized Mosaic Defence” (DMD). 

Strategi ini memungkinkan Iran menyebar dan menyembunyikan persenjataan vital di berbagai titik tersembunyi, termasuk di kedalaman pegunungan.

Lokasi-lokasi tersebut dirancang dengan struktur ekstrem yang membuatnya hampir mustahil dijangkau, bahkan oleh bom penghancur bunker paling canggih milik Amerika Serikat.

Kondisi ini memicu “permainan kucing dan tikus” antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, di mana upaya pelacakan dan penghancuran target menjadi semakin sulit.

Berdasarkan analisis sumber terbuka dan citra satelit terbaru, terungkap adanya kompleks rudal balistik berskala besar yang tersembunyi di bawah pegunungan di wilayah selatan Yazd.

Dari fasilitas bawah tanah tersebut, Iran diyakini tetap mampu meluncurkan serangan, meskipun berada di tengah gempuran intensif dari musuhnya.

Strategi ini menunjukkan bahwa kemampuan militer Iran tidak hanya bertahan, tetapi juga terus beroperasi secara efektif dari “benteng tak terlihat” yang sulit dihancurkan.


Taktiknya pun cerdik.

Drone dan rudal dikeluarkan dari gua, diluncurkan, lalu segera disembunyikan kembali ke dalam pegunungan. Saat peluncuran terdeteksi, serangan balasan dari AS dan Israel biasanya hanya mampu menghancurkan pintu masuk gua. Namun, puing-puing tersebut dapat dibersihkan dalam hitungan hari, sementara persenjataan di dalam tetap aman.

Seorang analis, Shanaka Anslem Perera, menggambarkan fasilitas ini seperti “sistem kereta bawah tanah untuk rudal balistik”.

Ia menyebut adanya jaringan rel otomatis yang mengangkut hulu ledak dan peluncur dari ruang perakitan hingga ke beberapa pintu keluar tersembunyi di lereng gunung, dengan kedalaman mencapai 500 meter.

Serangan berulang AS dan Israel pada awal hingga pertengahan Maret dilaporkan hanya merusak infrastruktur permukaan, seperti ventilasi dan pintu masuk.

Namun, bagian utama yang berada jauh di bawah tanah disebut tetap utuh dan berfungsi.

Bahkan, pada 20 Maret, sebuah rudal balistik jarak jauh sempat diluncurkan dari kompleks tersebut, meski gagal di fase awal dan jatuh di wilayah Yazd.

Para analis menilai, fakta bahwa peluncuran itu tetap terjadi menunjukkan kemampuan operasional Iran masih berjalan.

Penilaian independen turut menguatkan temuan ini. Laporan CNN menyebut adanya struktur terowongan terorganisir, sementara lembaga riset Alma memetakan sebagian jaringan tersebut. Militer Israel mengklaim sekitar 60 persen infrastruktur peluncuran telah dihancurkan, sedangkan estimasi AS menyebut sekitar 50 persen kapasitas masih bertahan.

Para analis militer menekankan bahwa kedalaman fasilitas menjadi tantangan utama.

Bom penghancur bunker terkuat AS, GBU-57 Massive Ordnance Penetrator, hanya mampu menembus sekitar 40 meter batuan—jauh dari kedalaman 500 meter yang dilaporkan.

“Ini bukan sekadar selisih kemampuan, tapi ketidakmungkinan secara fisik,” ujar Perera.

Desain kompleks ini memungkinkan operasi tetap berjalan meski sebagian pintu masuk hancur.

Setiap jalur keluar berfungsi secara independen, dan jaringan terowongan dapat dialihkan bila satu akses tertutup.

“Iran tidak hanya mempersiapkan perang dengan membangun rudal,” kata Perera. “Mereka mempersiapkannya dengan membangun jalur kereta di dalam gunung.”

Trump Geram ke Sekutu: NATO Disebut “Tak Lakukan Apa-apa” Hadapi Iran

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meluapkan kekecewaannya terhadap sekutu-sekutu Barat. 

Ia menilai aliansi militer NATO tidak memberikan kontribusi berarti dalam menghadapi konflik dengan Iran.

Dalam pernyataannya pada Kamis, Trump menyebut negara-negara sekutu “sama sekali tidak melakukan apa pun” untuk membantu menghadapi Iran, yang ia gambarkan sebagai negara yang kini “hancur secara militer”.

“AS tidak membutuhkan apa pun dari NATO, namun kami tidak akan pernah melupakan momen yang sangat penting ini,” tulis Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social.

Pernyataan keras itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Dalam beberapa hari terakhir, Trump mendesak berbagai pihak—baik sekutu maupun rival seperti China—untuk membantu mengamankan Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak paling vital di dunia. 

Gangguan di wilayah tersebut telah memicu lonjakan harga minyak global.

Namun, seruan itu tidak sepenuhnya mendapat respons positif. Sejumlah negara Eropa justru menolak terlibat lebih jauh. 

Mereka menilai konflik dengan Iran merupakan perang yang dipicu oleh kebijakan Washington sendiri tanpa konsultasi dengan sekutu.

Trump pun kembali menegaskan sikap lamanya terhadap NATO. Ia menyebut respons aliansi tersebut sebagai “kesalahan yang sangat bodoh”. 

Meski demikian, Trump mengatakan saat ini belum ada rencana untuk menarik Amerika Serikat keluar dari NATO, meski opsi tersebut “layak dipertimbangkan”.

Diketahui, sejak lama Trump kerap mengkritik NATO. Bahkan pada masa jabatan pertamanya, ia dilaporkan pernah secara terbuka mempertimbangkan kemungkinan menarik AS dari aliansi pertahanan Barat tersebut.

Pasukan Iran Siapkan “Medan Jebakan” di Pulau Kharg, AS Dihadapkan Risiko Invasi Mematikan

Ketegangan di Timur Tengah kian memanas. Laporan terbaru mengungkap bahwa Iran telah mengubah Pulau Kharg—pusat vital energi nasionalnya—menjadi benteng pertahanan sekaligus “medan jebakan” untuk menghadapi kemungkinan invasi darat Amerika Serikat.

Mengutip laporan CNN, koresponden Pentagon Natasha Bertrand menyebut dalam beberapa pekan terakhir Iran secara signifikan meningkatkan kekuatan militernya di pulau strategis tersebut. Penambahan pasukan, penguatan sistem pertahanan udara, hingga pemasangan berbagai jebakan tempur disebut telah dilakukan berdasarkan laporan intelijen Amerika.

Pulau Kharg bukan sekadar wilayah biasa. Letaknya yang strategis dan perannya sebagai salah satu pusat produksi energi terpenting Iran menjadikannya target bernilai tinggi dalam konflik. Namun, kondisi di lapangan justru membuat potensi operasi militer AS dinilai sangat berisiko.

Sejumlah sekutu Amerika di kawasan Teluk bahkan telah memperingatkan bahwa invasi ke Pulau Kharg dapat menimbulkan korban besar di pihak AS. Mereka mendesak agar rencana tersebut dipertimbangkan ulang mengingat kompleksitas medan tempur yang telah disiapkan Iran.

Spekulasi di Washington juga semakin menguat. Beberapa anggota Partai Republik di Kongres, termasuk pimpinan komite militer DPR dan Senat, disebut memberi sinyal bahwa opsi invasi darat ke Iran tengah dipertimbangkan serius oleh Pentagon.

Namun, para analis militer menilai misi tersebut jauh dari mudah. Brigadir Jenderal purnawirawan Steve Anderson menegaskan bahwa operasi di Pulau Kharg akan menjadi salah satu misi paling menantang yang pernah dihadapi militer AS.

Selain harus menghadapi puluhan ribu penduduk di pulau tersebut, pasukan AS juga berpotensi berhadapan dengan ranjau, jebakan tersembunyi, serta serangan asimetris berupa drone dan rudal. Ditambah lagi, jarak Pulau Kharg yang hanya sekitar 15 mil dari daratan utama Iran memungkinkan dukungan artileri datang dengan cepat.

“Anda mungkin bisa merebut pulau itu, tetapi mempertahankannya akan menjadi tantangan terbesar,” ujar Anderson.

Di tengah meningkatnya ketegangan ini, Pulau Kharg kini menjadi titik panas baru yang berpotensi memicu eskalasi konflik lebih luas di kawasan.

Houthi Nyatakan Perang, Rudal Balistik Pertama Mengarah ke Israel

Sementara itu, konflik kian meluas setelah kelompok Houthi di Yaman secara terbuka menyatakan keterlibatannya dalam perang dengan meluncurkan serangan rudal balistik ke Israel.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengumumkan serangan tersebut melalui televisi Al-Masirah. Ia menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga tujuan mereka tercapai dan agresi terhadap “poros perlawanan” dihentikan.

Militer Israel mengonfirmasi bahwa satu rudal berhasil dicegat. Namun, sirene peringatan sempat berbunyi di wilayah Beer Sheba dan area sekitar pusat penelitian nuklir Israel, menandakan meningkatnya ancaman keamanan.

Serangan ini menjadi yang pertama sejak perang AS-Israel melawan Iran memanas, sekaligus menandai pembukaan front baru dalam konflik kawasan. Sebelumnya, Houthi belum terlibat langsung dalam perang tersebut meski telah lama menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, sejak 2014.

Dalam pernyataannya, Saree menyebut target serangan adalah “situs militer sensitif” di wilayah selatan Israel. Ia juga memberi sinyal bahwa operasi lanjutan bisa terjadi dalam waktu dekat.

Keterlibatan Houthi dinilai memiliki dampak besar terhadap jalur perdagangan global. Selama ini, kelompok tersebut telah menyerang lebih dari 100 kapal dagang di Laut Merah menggunakan rudal dan drone, bahkan menenggelamkan dua kapal serta menewaskan empat pelaut.

Ancaman semakin serius ketika Houthi membuka kemungkinan menutup Selat Bab al-Mandab—jalur vital yang dilalui sekitar 30 persen impor Israel dan menjadi salah satu rute perdagangan internasional terpenting dunia.

Pengamat menilai, jika jalur ini terganggu, dampaknya bisa merambat ke ekonomi global, terutama jika dikombinasikan dengan potensi gangguan di Selat Hormuz dan Terusan Suez.

“Kita bisa menghadapi dua titik hambatan utama perdagangan dunia secara bersamaan,” ujar Mohamad Elmasry, profesor Studi Media di Doha Institute.

Dengan bertambahnya aktor dalam konflik—mulai dari Iran, Hizbullah, hingga Houthi—situasi di Timur Tengah kini memasuki fase yang semakin kompleks dan berbahaya. Eskalasi lanjutan dinilai hanya tinggal menunggu waktu, dengan risiko meluas ke konflik regional yang lebih besar.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.