4 Hal yang Disebut Buat Iran Kecewa Sekali kepada Indonesia: Kapal Arman hingga BoP
Febri Prasetyo March 29, 2026 04:32 AM

 

TRIBUNNEWS.COM – Indonesia sedang bernegosiasi dengan Iran agar dua kapal tanker milik PT Pertamina, yakni VLC Pertamina Pride dan Gamsunoro, diizinkan melewati Selat Hormuz yang ditutup Iran.

Sementara itu, muncul kabar bahwa Iran sudah memberikan “lampu hijau” sehingga dua kapal yang tertahan sejak awal Maret ini akan bisa melintas.

Berbeda dengan kapal Indonesia, kapal Malaysia, Tiongkok, Pakistan, hingga Thailand sudah lebih dulu diizinkan melewati Selat Hormuz.

Dian Wirengjurit, mantan Duta Besar Indonesia untuk Iran, menyebutkan bahwa sebenarnya sudah ada dua kapal tanker Indonesia yang dibebaskan.

“Pertama, karena memang tidak terlalu besar. Kedua, karena kedua kapal itu, Paragon dan Rinjani, memang berbendera Indonesia,” ujar Dian dalam program Kompas Petang di Kompas TV, Sabtu, (28/3/2026).

“Nah, dua tanker lain, yang supertanker itu, belum bisa dilepaskan oleh pihak Iran, setahu saya karena berbagai hal.”

Dian kemudian menyebut Iran merasa sudah berkali-kali dikecewakan oleh Indonesia. Menurut dia, kekecewaan itu tidak ada kaitannya dengan perang saat ini antara Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel. Kekecewaan itu muncul sebelum perang.

“Kenapa? Karena Iran itu, dalam konteks diplomasi, ada asas diplomasi yang namanya resiprokalitas (perbuatan imbal balik),” ucap Dian.

Mantan Dubes itu menyebut jika suatu negara melakukan kebaikan, negara itu akan dibalas dengan kebaikan, begitu juga sebaliknya. Dia lalu mengungkapkan sejumlah hal yang membuat Iran kecewa kepada Indonesia.

“Pertama, sejak 2-3 tahun yang lalu, ketika latihan perang negara-negara Pasifik, Iran diundang secara resmi. Dua kapalnya sudah berangkat, kapal perangnya ikut bergabung untuk latihan bersama yang dikoordinir oleh Indonesia.”

Namun, kata Dian, kapal Iran kemudian justru ditolak masuk ke perairan Indonesia. Keikutsertaan Iran akhirnya dibatalkan. Dia mengatakan pembatalan itu disebabkan oleh paksaan dari AS.

Baca juga: Houthi Yaman Luncurkan Serangan Rudal Balistik Perdana ke Israel sejak Perang Iran Meletus

Kekecewaan kedua berkaitan dengan kapal tanker Iran yang bernama MT Arman 114 yang sudah bertahun-tahun disandera oleh Indonesia setelah ditangkap.

“Mereka memperdagangkan minyak di tengah lautan yang mereka klaim sebagai lautan internasional, tetapi kita menganggap di perairan Indonesia. Hingga saat ini statusnya belum jelas,” ucap Dia.

Adapun kekecewaan yang ketiga berkenaan dengan terlambatnya Indonesia mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei beberapa waktu lalu.

Dian mengklaim Presiden Prabowo Subianto justru memberikan pernyataan yang tidak bersimpati kepada Iran yang sedang diserang AS-Israel.

Mengenai dua kapal tanker besar berbendera Indonesia yang belum bisa melewati Selat Hormuz, Dian menduga Iran meminta imbalan dari Indonesia, minimal melepaskan atau menjelaskan status kapal MT Arman 114 yang ditahan.

Iran disebut kecewa karena Indonesia gabung dengan BoP

Di sisi lain, pengamat ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menduga bahwa sulitnya kapal Indonesia untuk melintasi Selat Hormuz disebabkan oleh Iran yang merasa "sakit hati" karena Indonesia masuk menjadi anggota Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS Donald Trump.

Tak hanya itu, dia juga menilai kesepakatan Indonesia dan AS dalam perjanjian tarif resiprokal turut menjadi alasan Iran seakan mempersulit izin agar kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro untuk melintasi Selat Hormuz.

Bhima meminta agar pemerintah mencontoh langkah Malaysia yang enggan masuk menjadi anggota BoP serta membatalkan kerjasama tarif resiprokal dengan AS.

"(Dua kapal sulit melintasi Selat Hormuz) buntut dari masuknya Indonesia ke BoP dan perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan AS."

"Malaysia sudah membatalkan kerja sama ART dan mengecam agresi AS ke Iran. Indonesia sepertinya salah memilih posisi," katanya ketika dihubungi, Jumat, (27/3/2026).

Baca juga: Kapal Pertamina Berpeluang Lintasi Selat Hormuz, Jubir Kemlu: Iran Beri Sinyal Positif

Bhima pun mendorong agar Indonesia keluar dari BoP dan membatalkan perjanjian tarif resiprokal dengan AS agar Iran "luluh" sehingga kapal bisa melintas di Selat Hormuz.

"Sekarang yang terpenting bukan melayani kemauan Trump, tapi menyelamatkan rakyat Indonesia," tuturnya.

(Tribunnews/Febri/Tyo)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.