TRIBUNNEWS.COM - Pizaro Ghazali Idrus, jurnalis sekaligus pengamat Timur Tengah, mengungkapkan pentingnya Pulau Kharg bagi Iran di tengah kecamuk perang melawan Amerika Serikat (AS)-Israel.
Pulau Kharg terletak sekitar 15 mil dari pantai Iran. Pulau itu menjadi titik vital untuk ekspor minyak karena hampir semua ekspor minyak mentah Iran diproses melalui pulau ini.
Adapun beberapa hari lalu Presiden AS Donald Trump dikabarkan mempertimbangkan rencana untuk mengambil alih kendali Pulau Kharg di Iran. Menurut Axios, langkah ini bertujuan untuk menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz.
“Sejak 1984, CIA sudah mengidentifikasi Pulau Kharg sebagai pulau yang punya sistem paling vital bagi ekonomi Iran,” kata Pizaro dalam program Breaking News di tvOne, Sabtu, (28/3/2026).
Pizaro menyebut Pulau Kharg adalah kunci bagi ekonomi Iran, sebagaimana istilah Jawa sebagai kunci dalam konteks Indonesia. Menurut dia, 90 persen ekspor minyak melalui Selat Hormuz dikendalikan melalui Pulau Kharg.
“Pulau ini hanya sekitar 8 km2, tetapi dia bisa menampung 30 juta barel minyak. Sekarang Pulau Kharg sedang menampung 18 juta barel. Bayangkan begitu besarnya dan pentingnya Pulau Kharg,” kata dia menjelaskan.
Dia menyampaikan bahwa AS tidak akan mudah menguasai Pulau Kharg karena Iran sudah melakukan banyak persiapan dan antisipasi.
Karena Pulau Kharga sudah lama diincar AS, Iran memutuskan memasang sistem pertahanan udara, mengerahkan prajurit, dan menebar ranjau di sana.
“Iran juga sedang mempersiapkan perang semesta. Perang yang melibatkan masyarakat banyak, kemudian berhadapan dengan AS,” ujar Pizaro.
Kata dia, Pulau Kharg ibarat pintu masuk bagi AS. Jika menguasai pulau itu, AS juga akan bisa menguasai Selat Hormuz.
Baca juga: Pasukan Amfibi dan Marinir AS Segera Mendarat, Iran Perkuat Pulau Kharg Pakai Ranjau!
“Maka, Pulau Kharg bisa dibilang mati hidupnya Iran. Ini bisa dibilang pertaruhan militer Iran dan pertaruhan ekonominya agar tidak kemudian dikuasai AS.”
Sekali lagi, Pizaro menegaskan Iran akan berperang habis-habisan atau mati-matian untuk mempertahankan Pulau Kharg.
CNN melaporkan Iran telah meningkatkan penempatan ranjau, sistem pertahanan udara, dan personel militer tambahan di Pulau Kharg dalam beberapa pekan terakhir.
Perkuatan sistem pertahanan di Pulau Kharg ini sebagai persiapan untuk potensi operasi darat pasukan AS untuk merebut pulau tersebut.
AS dilaporkan telah mengerahkan dua unit pengintai Korps Marinir ke Timur Tengah. Mereka diperkirakan akan bergabung dengan sekitar 1.000 tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 dalam beberapa hari mendatang.
Laksamana Purnawirawan James Stavridis, mantan Panglima Tertinggi Sekutu NATO, mengindikasikan bahwa blokade angkatan laut terhadap Kharg dapat menjadi pilihan alternatif untuk menekan Iran tanpa benar-benar mendaratkan pasukan di pantai.
"Ini dapat dilakukan tanpa mempertaruhkan tentara kita di pantai," kata Stavridis.
Semenara itu, negara-negara sekutu AS di Teluk mendesak AS untuk tidak memperpanjang perang dengan mengerahkan pasukan darat untuk menduduki Pulau Kharg karena khawatir akan menyebabkan banyak korban jiwa.
Negara-negara itu mengkhawatirkan makin luasnya pembalasan Iran terhadap infrastruktur Teluk, dan konflik yang berkepanjangan.
Sebaliknya, negara-negara Teluk mendesak para pejabat AS tentang perlunya membongkar program rudal balistik Iran.
Baca juga: Demi Paksa Iran Buka Selat Hormuz, Trump Berencana Blokade Pulau Kharg yang Jadi Pusat Minyak
Adapun Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf pada Rabu (25/3/2026) memperingatkan "musuh" agar tidak mencoba menduduki pulau-pulau Iran mana pun.
(Tribunnews/Febri/Hasiolan)