Laporan Kontributor Tribunjabar.id Karawang, Cikwan Suwandi
TRIBUNJABAR.ID, KARAWANG — Pada libur Lebaran 2026, Rudi Hartono (50), warga Rawamerta, Karawang, Jawa Barat, memilih bertahan dan menukar rindu dengan berjualan kopi dan es dari atas sepeda motor bebeknya.
Rudi harus memendam rindu kepada kedua orang tuanya karena tidak pulang kampung. Ia memilih berjualan di pinggir jalur mudik dan arus balik Lebaran.
Sejak sore hingga dini hari, Rudi setia menunggu pembeli di tengah lalu lalang kendaraan pemudik. Termos kopi dan minuman dingin yang ia bawa menjadi satu-satunya harapan untuk menambah penghasilan.
Baca juga: 1.957 Penumpang Ikuti Program Balik Mudik Gratis Polda Jabar, Dijemput di 13 Terminal
Selama sebulan terakhir, Rudi berjualan keliling. Biasanya ia mangkal di depan SMA 4 Karawang, mulai pukul 17.00 WIB hingga 01.00 WIB. Namun, menjelang Lebaran, ia mencoba peruntungan di jalur mudik setelah diajak temannya.
Sejak H-3 Lebaran, Rudi mulai berjualan di jalur Pantura. Hasilnya sempat memberi harapan.
Dalam sehari, ia bisa meraih omzet hingga Rp300 ribu. Namun kini, saat arus balik, penghasilannya menurun drastis menjadi sekitar Rp150 ribu per hari.
“Sekarang sudah sepi. Enggak seperti pas mudik,” katanya di Jalan Lingkar Luar Tanjungpura–Klari, Karawang, Sabtu (28/3/2026).
Di balik itu, Rudi bukan hanya pedagang kopi. Ia juga seorang petani penggarap dengan lahan sawah sekitar setengah hektare.
Namun, bertani tak lagi mudah. Meski harga padi naik, biaya produksi justru semakin tinggi akibat serangan hama dan kebutuhan perawatan.
“Kadang hasilnya enggak sebanding sama biaya,” ujarnya.
Setiap hari, Rudi memulai pagi di sawah, lalu siangnya berkeliling menjual kopi, hingga malam kembali berdagang di pinggir jalan.
Tenaganya diperas demi sekadar bisa bertahan hidup.
Baca juga: Ibu Kota Kian Keras, Banyak Warga Cirebon yang Pilih Tak Kembali ke Jakarta usai Mudik
Lebaran tahun ini menjadi momen paling berat baginya. Rudi memutuskan tidak mudik ke Sumedang karena tidak memiliki biaya.
Sekali pulang kampung, ia harus mengeluarkan sekitar Rp10 juta—angka yang jauh dari kemampuannya saat ini.
“Enggak ada biaya buat pulang,” katanya.
Rasa rindu kepada kedua orang tuanya hanya bisa ia pendam. Bahkan pada hari pertama Lebaran, Rudi mengaku tidak sanggup menghubungi mereka.
“Pas hari H itu enggak kuat nelpon. Takut kepikiran, takut sedih,” ujarnya.
Baru pada hari kedua, ia mencoba menghubungi orang tuanya, sekadar memastikan kabar. Tanpa tatap muka, tanpa pelukan, hanya suara di seberang telepon.
Di tengah gemerlap cerita mudik yang penuh kebahagiaan, kisah Rudi menjadi sisi lain yang jarang terlihat—tentang seseorang yang tetap berdiri di pinggir jalan, menahan rindu, demi menyambung hidup.