Laut menutupi sekitar 71 persen permukaan bumi. Begitu banyak air di lautan, kenapa rasanya asin? Kita tahu air yang turun dari langit dan mengalir di sungai, rasanya tidak asin. Namun, begitu menuju ke laut dan tercampur, semuanya akan ikut asin.
Saking asinnya laut, kandungan garam jika diangkat ke daratan tingginya bisa mencapai 166 meter atau setara gedung 40-50 lantai. Lantas dari mana asal usul air laut bisa terasa asin?
Penyebab Air Laut Asin
Secara singkat, air laut terasa asin karena adanya kandungan garam mineral seperti natrium klorida (NaCl). Pertanyaannya: "Dari mana garam ini berasal?"
Jawabannya, karena proses geologis miliaran tahun. Proses ini melibatkan interaksi antara daratan, atmosfer, dan samudra.
Secara garis besar, garam di lautan berasal dari dua sumber utama, yaitu pelapukan batuan di daratan dan lubang ventilasi di dasar samudra.
Batuan yang ada di daratan merupakan penyumbang terbesar mineral garam yang larut dalam air laut, demikian dilansir dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).
Proses ini bermula dari air hujan yang jatuh ke bumi. Air hujan bersifat sedikit asam, sehingga ketika mengenai batuan, air tersebut akan mengikis dan melepaskan ion-ion mineral.
Hal ini terkait dengan cara air mengalir menuju samudra. lon-ion yang terlepas tadi terbawa oleh aliran arus hingga ke sungai, yang pada akhirnya bermuara di laut luas.
Karena banyak ion terlarut yang digunakan oleh organisme laut untuk bertahan hidup, konsentrasinya pun berubah. Namun, ion-ion lain yang tidak terserap tetap tinggal di dalam air, sehingga konsentrasinya terus meningkat seiring berjalannya waktu dan membuat laut tetap asin.
Sumber yang Menyumbang Kandungan Garam
Sungai dan aliran air permukaan daratan bukanlah satu-satunya penyumbang garam. Di kedalaman samudra, terdapat ventilasi hidrotermal yang terus-menerus memompa mineral terlarut ke dalam air laut melalui retakan di kerak samudra.
Air laut yang meresap ke dalam kerak bumi akan dipanaskan oleh magma, melarutkan mineral dari batuan sekitarnya. Air panas tersebut kemudian menyembur kembali ke lautan dengan membawa mineral terlarut.
Para peneliti memperkirakan seluruh volume air laut di dunia dapat mengalami sirkulasi melalui sistem ini setiap 10 hingga 20 juta tahun. Proses ini berperan besar dalam menjaga kadar garam di lautan.
Natrium dan klorida mendominasi lebih dari 90 persen ion terlarut di laut. Kedua unsur ini membentuk garam dapur yang membuat air laut terasa asin. Rata-rata kadar garam (salinitas) air laut mencapai sekitar 35 per seribu bagian, seperti dilansir dari laman resmi U.S. Geological Survey (USGS).
Selain itu, letusan gunung berapi bawah laut juga memainkan peran serupa dalam menyumbangkan mineral ke lautan. Menariknya, selain garam, satu mil kubik air laut juga bisa mengandung sekitar 25 pon emas, meski kadarnya terlalu rendah untuk ditambang.
Kenapa Air Laut Tidak Bisa Diminum?
Mengutip , air laut memiliki rata-rata kandungan garam sebesar 35 gram per liter. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ingkan air tawar yang hanya mengandung maksimal satu gram garam per liter, sehingga rasa asinnya sangat kuat dan tidak bisa menghilangkan rasa haus manusia.
Rasa asin ini berasal dari proses alami yang berlangsung terus-menerus. Sungai tidak hanya membawa air ke laut, tetapi juga mengangkut garam dan mineral dari daratan.
Saat mengalir melewati tanah dan batuan, air sungai melarutkan mineral, lalu membawanya ke laut dalam jumlah sangat besar setiap tahun. Di laut, garam tersebut menjadi semakin terkonsentrasi.
Kondisi tersebut terjadi karena panas matahari menguapkan air dalam jumlah besar, tetapi meninggalkan garam di dalamnya. Proses inilah yang membuat air laut semakin asin dari waktu ke waktu.
Kadar garam juga memengaruhi sifat air laut. Semakin tinggi kadar garam, semakin tinggi pula massa jenis air, sehingga tubuh manusia lebih mudah mengapung. Itu sebabnya berenang di laut terasa lebih ringan, bahkan di perairan dengan kadar garam sangat tinggi.
Meski terus bertambah, jumlah garam di laut tetap relatif stabil. Hal ini karena ada proses alami yang juga mengurangi garam, seperti organisme laut yang menyerapnya dan endapan di dasar laut. Dalam jangka waktu sangat lama, jumlah garam yang masuk dan keluar dari laut mencapai keseimbangan.
Selain itu, proses penguapan dalam skala besar juga dapat meninggalkan lapisan garam tebal di dasar laut, seperti yang pernah terjadi di wilayah Laut Mediterania jutaan tahun lalu.





