- Pasukan Amerika Serikat dilaporkan telah menembakkan lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk dalam empat minggu pertama perang AS dan Israel melawan Iran.
Penggunaan besar-besaran rudal jarak jauh itu kini memicu kekhawatiran serius lantaran persediaannya yang mulai menipis.
Laporan The Wall Street Journal pada Sabtu (29/3/2026) menyebut, rudal Tomahawk yang diluncurkan dari kapal perang dan kapal selam Angkatan Laut AS menjadi senjata utama Washington dalam menyerang target militer Iran.
Namun, produksi rudal yang hanya mencapai beberapa ratus unit per tahun dinilai tidak sebanding dengan tingkat penggunaan saat ini.
Sejumlah pejabat pertahanan AS memperingatkan stok rudal di kawasan Timur Tengah kini berada pada level mengkhawatirkan.
Pentagon bahkan disebut menghadapi kondisi kehabisan amunisi tempur.
Kekhawatiran ini memicu diskusi internal untuk mengalihkan persediaan rudal dari wilayah lain.
Termasuk kawasan Indo-Pasifik, sekaligus mempercepat produksi jangka panjang.
Meski serangan udara terus berlangsung, penilaian intelijen menunjukkan Iran masihmampu mempertahankan sebagian besar kemampuan misilnya.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas upaya militer AS dan Israel dalam melemahkan infrastruktur pertahanan Teheran.
Saat ini, Iran juga telah bersiap menghadapi pertempuran dan invasi darat melawan AS.
3.000 pasukan elit AS yang akan dikerahkan ke Iran harus menghadapi 1 juta kombatan Iran.