Rumah Bujang Dirusak Warga Karena Mangkir Sidang Adat usai Selingkuh dengan Istri Orang
Torik Aqua March 29, 2026 12:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Nasib S alias Bujang yang rumahnya dirusak warga akibat mangkir sidang adat.

Bujang diketahui sedang terjerat kasus dugaan perselingkuhan di Desa Pematang Raman, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi.

Kelakuan Bujang yang mangkir membuat warga marah hingga berujung ricuh.

Bujang sempat disorot karena menjadi pelapor kasus guru honorer yang mencukur rambut siswa.

Baca juga: Istri Dokter Selingkuh dengan Kepala Puskesmas, Suami Rela Jadi Saksi Nikah: Saya Mengikhlaskan

Kini ia kembali menjadi sorotan publik setelah tertangkap basah diduga berbuat tindakan tidak senonoh dengan seorang perempuan bersuami berinisial D.

Peristiwa tersebut terjadi saat suami sah perempuan itu tengah bekerja di luar rumah.

Informasi mengenai dugaan perselingkuhan itu dengan cepat menyebar melalui video yang viral di media sosial sehingga memicu emosi warga.

Warga menilai perbuatan tersebut tidak hanya melanggar norma agama dan sosial, tetapi juga mencoreng adat istiadat setempat yang masih dijunjung tinggi.

Mangkir dari Sidang Adat

Kapolsek Kumpeh, Iptu Aris Israwan, membenarkan adanya kejadian tersebut.

Ia menjelaskan, persoalan itu mencuat pada Rabu malam, 25 Maret 2026 sekitar pukul 23.30 WIB, saat digelar sidang adat di Kantor Desa Pematang Raman untuk menyelesaikan dugaan kasus tersebut.

Namun, situasi semakin memanas setelah S alias Bujang tidak menghadiri sidang adat yang telah dijadwalkan.

Ketidakhadiran itu memicu kekecewaan warga yang menganggapnya tidak menghormati hukum adat.

Puncaknya, warga berbondong-bondong mendatangi rumah S dan melakukan aksi penggerudukan.

Dalam insiden tersebut, rumah milik S dilaporkan mengalami kerusakan akibat amukan massa.

Rumah bagian depan, terutama kanopi, hancur dibabat oleh masyarakat yang datang ke sana.

Sempat Laporkan Guru

Sebelumnya, S alias Bujang sempat melaporkan seorang guru di Muaro Jambi akibat mencukur rambut siswa.

Kasus ini mencuat, terutama setelah guru SD di Desa Pematang Raman itu ditetapkan sebagai tersangka.

DPR RI membawa kasus ini dalam rapat di Senayan.

Bahkan, Jaksa Agung ST Burhanuddin sampai turun tangan menyelesaikan perkara ini.

Kasus ini akhirnya berakhir damai setelah keduanya sepakat menyelesaikan kasus melalui restorative justice atau keadilan restoratif.

Dampak perselingkuhan

Dilansir dari Universitas Islam Indonesia (UII) Iswan Saputro, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang ahli di bidang Psikolog Klinis Dewasa & Personality Growth menjelaskan soal dampak perselingkuhan.

Hal itu diungkap saat menghadiri webinar bertemakan “Breaking Down Cheating Behavior: Faktor dan Dampak Psikologis Perselingkuhan”.

Topik ini diangkat dari isu perselingkuhan yang kini tengah marak diperbincangkan masyarakat luas dan membuat seseorang mengalami gangguan psikologis ketika menghadapinya.

Webinar dilaksanakan pada Minggu (27/2) dengan mengundang pemateri

Iswan menyebut dampak perselingkuhan tidak bisa dianggap enteng. Perselingkuhan dapat membuat orang merasa depresi, mengalami krisis kepercayaan, gangguan pascatrauma, kurang percaya diri, rendah diri, menyalahkan diri sendiri, merasa tidak berdaya, dan mengalami kecemasan.

Selain itu, apabila perselingkuhan terjadi terhadap seseorang yang telah menikah dan memiliki anak, hal ini juga dapat berdampak pada psikologis anak.

Beberapa dampaknya bagi anak yaitu: anak biasanya akan merasa kebingungan, kecemasan, abai, dan mengisolasi dirinya; anak akan cenderung sulit percaya kepada pasangannya di masa depan, memiliki perspektif negatif terhadap kesetiaan, dan meniru untuk melakukan perselingkuhan dalam hubungannya di masa depan.

Iswan mengatakan bahwa terdapat beberapa ciri bagi seseorang yang pernah melakukan perselingkuhan.

Pelaku cenderung merasa bersalah dan menyesal atas perselingkuhan yang dilakukan. Menurut data yang ia himpun, 30 persen pelaku kasus perselingkuhan mengakui kalau mereka berusaha bertahan dalam hubungan tersebut dan dalam jangka waktu tertentu memilih untuk mengakhirinya. Sementara 15,6 % orang berusaha untuk terus bertahan dalam hubungan tersebut, dan 54,5 % langsung memutuskan hubungannya saat adanya pengakuan tersebut.

Iswan menjelaskan bahwa setidaknya ada beberapa hal yang mendorong seseorang untuk melakukan perselingkuhan.

Salah satunya yakni kurangnya rasa percaya dari pasangannya terhadap dirinya. Kemudian, orang tersebut cenderung ingin merasa bebas dan tidak mau diatur oleh pasangannya. Selanjutnya, kurangnya rasa cinta dari pasangannya atau terdapat hal-hal yang memicu keraguannya terhadap pasangannya.

Penyebab lain bisa berupa adanya tindakan penolakan dari pasangannya, merasa dirinya memiliki keberhargaan diri, komitmen yang rendah dalam suatu hubungan, pengaruh keinginan seksual, dan adanya situasi yang mempengaruhinya untuk melakukan perselingkuhan tersebut.

Ia juga memerinci fase-fase dalam hubungan perselingkuhan. Di fase pertama, perselingkuhan dapat terjadi dalam suatu hubungan yang salah, yakni tidak ada keseimbangan antara seseorang dan pasangannya.

Biasanya salah satu pihak merasa takut untuk menolak terhadap pasangannya. Dari situasi ini, kemudian muncul fase kedua, yakni terjadinya tindakan perselingkuhan. Fase ketiga yaitu fase rekonsiliasi, di mana orang yang melakukan perselingkuhan menyesali perbuatannya dan meminta maaf. Dan keempat, fase calm, di mana tiap pasangan berusaha untuk menerima dan menganggap semuanya tidak terjadi apa-apa.

Iswan mewanti-wanti perilaku manipulatif orang yang berselingkuh. Biasanya, ia akan membuat pasangannya berada dalam kondisi lemah dan tidak berdaya sehingga leluasa mengeksploitasi pasangannya dengan melakukan perselingkuhan. Mereka juga cenderung akan terus-terusan berbohong kepada pasangannya.

Tidak jarang, pelaku sengaja membuat candaan-candaan yang membuat pasangannya ragu dan tidak percaya diri. Mereka juga lihai membuat pasangannya merasa bersalah dengan pengolahan kalimat.

Terakhir, Iswan menyampaikan bahwa tindakan perselingkuhan bisa saja dicegah atau dihentikan, dan perubahan tersebut hanya bisa berasal dari keinginan masing-masing pasangan dalam suatu hubungan.

“Your life does not get better by chance, it gets better by change,” ujarnya mengakhiri sesi penyampaian materi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.