Oleh: Goldy Ogur
Mahasiswa IFTK Ledalero, Maumere - Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Di banyak media, kita sering mendengar narasi yang sama: semuanya baik-baik saja.
Semua itu membentuk kesan bahwa keadaan negara sedang dalam kondisi yang aman dan terkendali.
Namun, di balik narasi yang terlihat rapi ini, ada realitas yang tidak selalu ikut ditampilkan.
Dalam perspektif Michel Foucault, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga alat kekuasaan. Wacana yang terus diulang dapat membentuk cara masyarakat melihat dunia.
Baca juga: Opini: Menata Pesisir Ndao, Menimbang Hak atas Kota
Ketika “semuanya baik-baik saja” terus disampaikan, maka ia perlahan menjadi kebenaran yang diterima tanpa dipertanyakan.
Foucault menegaskan bahwa kekuasaan modern bekerja melalui produksi wacana, bukan hanya paksaan.
Artinya, apa yang dianggap benar sering kali ditentukan oleh siapa yang memiliki kuasa untuk berbicara dan menyebarkan narasi.
Dalam konteks ini, narasi optimisme bisa menjadi alat untuk mengatur cara berpikir publik.
Namun, realitas di lapangan sering kali tidak sesederhana itu. Ketika narasi terus menampilkan keberhasilan, sementara masyarakat mengalami kesulitan, maka muncul Jarak antara bahasa dan kehidupan nyata. Jarak ini lama-kelamaan dapat melahirkan ketidakpercayaan.
Narasi yang terlalu dominan juga berpotensi menyingkirkan suara-suara kritis.
Mereka yang mengangkat masalah sering kali dianggap negatif atau tidak mendukung.
Padahal, kritik justru penting untuk menjaga keseimbangan informasi. Jika ruang kritik semakin sempit, maka masyarakat hanya menerima satu versi
realitas.
Dalam kondisi seperti ini, kebenaran menjadi tidak utuh karena hanya dilihat dari satu sudut pandang.
Oleh karena itu, narasi publik harus selalu dibuka terhadap realitas yang lebih luas, bukan hanya versi yang nyaman didengar.
Jika kita melihat kehidupan nyata, banyak persoalan yang menunjukkan bahwa keadaan tidak selalu “baik-baik saja”.
Salah satunya adalah pelaksanaan program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang di beberapa tempat masih menghadapi banyak masalah.
Ada laporan tentang distribusi yang tidak merata, kualitas makanan yang tidak selalu terjamin, bahkan kasus dugaan keracunan yang menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.
Masalah ini menunjukkan bahwa program yang baik di atas kertas tidak selalu berjalan mulus di lapangan.
Ketika implementasi tidak diawasi dengan baik, maka tujuan awal program bisa tidak tercapai. Bahkan, yang seharusnya membantu justru bisa menimbulkan masalah baru.
Selain itu, persoalan air bersih juga masih menjadi tantangan di banyak daerah.
Tidak semua masyarakat memiliki akses yang layak terhadap air bersih yang aman untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini berdampak langsung pada kesehatan dan kualitas hidup masyarakat kecil.
Di bidang pendidikan, masih terlihat ketimpangan yang cukup besar. Fasilitas yang tidak merata, keterbatasan guru di daerah tertentu, serta akses pendidikan lanjutan yang sulit menjadi kenyataan yang masih dialami banyak orang. Ini menunjukkan bahwa Pendidikan belum sepenuhnya adil bagi semua.
Dalam sektor ekonomi dan pekerjaan, banyak masyarakat masih berjuang untuk mendapatkan penghasilan yang stabil.
Lapangan kerja yang terbatas membuat banyak orang harus bekerja di sektor informal dengan penghasilan tidak menentu. Sementara itu, biaya hidup terus meningkat.
Masalah sosial lainnya seperti kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan juga masih nyata.
Semua ini menunjukkan bahwa tidak semua orang bisa mengatakan bahwa hidup mereka “baik-baik saja”.
Dengan demikian, realitas sosial menunjukkan bahwa ada banyak pekerjaan rumah yang belum selesai, meskipun narasi publik sering kali terdengar optimistis.
Dalam masyarakat modern, ruang publik seharusnya menjadi tempat bertemunya
berbagai pengalaman dan pandangan. Namun, ketika narasi tunggal mendominasi, ruang ini menjadi kurang sehat.
Masyarakat tidak lagi berdialog, tetapi lebih banyak menerima informasi satu arah.
Jurgen Habermas menekankan bahwa ruang publik yang ideal adalah ruang komunikasi yang bebas dari dominasi. Dalam ruang seperti ini, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat. Tujuannya adalah mencapai pemahaman bersama yang lebih rasional.
Namun dalam kenyataan, tidak semua suara memiliki ruang yang sama. Suara dari kelompok kecil atau masyarakat bawah sering kali kurang terdengar. Sementara itu, narasi dari pihak yang memiliki kekuasaan lebih mudah tersebar luas.
Ketika kritik dianggap mengganggu, maka ruang publik kehilangan fungsi utamanya.
Padahal, kritik adalah bagian penting dari proses perbaikan sosial. Tanpa kritik, kebijakan sulit untuk dievaluasi secara jujur.
Habermas juga menegaskan bahwa kebenaran lahir dari dialog, bukan dari satu pihak yang dominan. Jika dialog tidak terjadi secara seimbang, maka pemahaman bersama menjadi tidak utuh.
Dalam konteks ini, narasi “semuanya baik-baik saja” bisa menjadi penghambat
diskusi kritis.
Ia menciptakan kesan bahwa tidak ada masalah, sehingga kritik dianggap tidak perlu. Padahal, ruang publik yang sehat justru membutuhkan keterbukaan terhadap masalah agar solusi yang lebih baik bisa ditemukan.
Dalam kehidupan politik dan sosial, kebenaran adalah hal yang sangat penting.
Apa yang disampaikan kepada publik tidak hanya membentuk opini, tetapi juga mempengaruhi kebijakan dan tindakan masyarakat. Karena itu, kejujuran menjadi tanggung jawab moral yang besar.
Hannah Arendt mengingatkan bahwa kebohongan atau manipulasi fakta dalam politik dapat menciptakan realitas semu.
Jika hal ini terus terjadi, masyarakat bisa kehilangan kemampuan untuk membedakan antara kenyataan dan citra yang dibangun.
Arendt menekankan bahwa politik tanpa kebenaran akan kehilangan arah moralnya. Ketika masalah nyata seperti kegagalan program, ketimpangan ekonomi, atau kesulitan sosial tidak diakui, maka kebijakan yang diambil bisa salah sasaran.
Dalam konteks program seperti MBG, masalah di lapangan seperti pelaksanaan yang tidak konsisten atau kasus keracunan tidak boleh diabaikan.
Jika hal ini ditutupi demi menjaga citra, maka yang dirugikan adalah masyarakat itu sendiri.
Kejujuran juga penting dalam isu-isu lain seperti air bersih, pendidikan, ekonomi, dan pekerjaan. Tanpa pengakuan yang jujur terhadap masalah, perbaikan hanya akan menjadi slogan.
Arendt menegaskan bahwa ruang publik yang sehat membutuhkan keberanian untuk
mengatakan kebenaran, meskipun tidak nyaman. Tanpa itu, masyarakat akan hidup dalam ilusi stabilitas.
Pada akhirnya, bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang selalu mengatakan semuanya “baik-baik saja”, tetapi bangsa yang berani melihat realitas apa adanya, termasuk masalah MBG, air, pendidikan, ekonomi, dan sosial, dan mengubahnya menjadi dasar untuk perbaikan yang nyata dan adil. (*)