SURYA.co.id - Israel kini menghadapi serangan dari tiga front setelah kelompok Houthi Yaman meluncurkan rudal balistik dan drone ke wilayahnya.
Eskalasi ini memperburuk konflik AS-Israel-Iran, menimbulkan ancaman besar terhadap jalur energi global.
Kelompok Houthi di Yaman mengumumkan pada Sabtu (28/3/2026) bahwa mereka telah melakukan serangan rudal balistik terhadap situs militer sensitif di Israel.
Serangan ini dikonfirmasi juru bicara Yahya Saree melalui video di platform X.
“Angkatan Bersenjata Yaman (pasukan Houthi) melakukan operasi militer pertama mereka menggunakan rentetan rudal balistik terhadap sasaran militer sensitif musuh Israel di Palestina selatan yang diduduki,” ujarnya, dikutip dari Anadolu Agency.
Saree menambahkan serangan dilakukan sebagai tanggapan atas eskalasi militer dan penargetan infrastruktur negara yang diserang.
Ia juga menegaskan operasi akan berlanjut hingga tujuan tercapai.
Baca juga: 10 Negara Tetangga Indonesia yang Krisis BBM Akibat Perang di Iran dan Penutupan Selat Hormuz
Militer Israel melaporkan peluncuran rudal dari Yaman untuk pertama kalinya sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai.
Israel juga mencegat sebuah drone di atas kota pelabuhan Eilat yang diduga berasal dari arah Yaman.
Sementara itu, Iran terus melancarkan serangan rudal dan drone ke Israel, Yordania, Irak, dan negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS. Salah satu serangan menghantam kota Beit Shemesh, melukai 11 orang.
Di perbatasan utara, bentrokan intensif terjadi antara Israel dan Hizbullah.
Militer Israel berupaya menciptakan zona penyangga di Lebanon selatan untuk mendorong Hizbullah menjauh dari perbatasan.
Baca juga: Beda Nasib Kapal Malaysia dan Indonesia di Selat Hormuz, Iran Izinkan Tanker Negeri Jiran Melintas
Keterlibatan Houthi menimbulkan ancaman langsung terhadap Selat Bab al-Mandab di Laut Merah. Jalur ini merupakan titik rawan utama dalam rantai pasokan energi global.
Dengan penutupan Selat Hormuz oleh Iran, potensi penutupan Bab al-Mandab akan semakin memperparah dampak perang terhadap ekonomi dunia.
Arab Saudi bahkan mulai mengalihkan ekspor minyak melalui pipa ke Laut Merah.
Farea Al-Muslimi dari Chatham House menyebut keputusan Houthi bergabung dalam konflik menandai eskalasi serius.
“Potensi dampaknya terhadap jalur maritim komersial utama, terutama di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, tidak dapat diremehkan,” ujarnya.
Pakistan berupaya mengambil peran sebagai mediator perdamaian. Perdana Menteri Shehbaz Sharif bersama panglima angkatan darat Asim Munir mendorong dimulainya pembicaraan antara AS dan Iran.
Donald Trump mengklaim, tanpa bukti, bahwa kontak semacam itu telah dimulai dan berjalan baik. Namun, Iran membantah adanya pembicaraan tersebut.
Sharif menyebut telah berdiskusi dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengenai upaya diplomatik Pakistan.