Musim Kemarau di Jembrana Diprediksi Mulai April, 6 Bulan Sangat Panas Hampir Tidak Ada Hujan
Ida Ayu Suryantini Putri March 29, 2026 03:20 PM

TRIBUN-BALI.COM, JEMBRANA - Musim kemarau panjang diprediksi bakal terjadi di tahun 2026 ini.

BPBD Jembrana mulai melakukan persiapan sebagai langkah awal untuk menangani dampak dari musim kemarau sesuai dengan dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) yang sudah dimiliki Kabupaten Jembrana.

Musim kemarau panjang ini diprediksi bakal terjadi mulai April-Oktober atau selama enam bulan lamanya. 

Baca juga: Diprediksi Mulai April hingga Oktober, Petani Diminta Waspadai Ancaman Dampak Musim Kemarau 2026

"Tentunya kita selalu siaga untuk menghadapi segala kondisi, termasuk musim kemarau," jelas Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra saat dikonfirmasi, Minggu 29 Maret 2026.

Dia menyebutkan, sesuai prediksi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), cuaca sangat panas bahkan hampir tidak terjadi hujan bakal terjadi selama enam bulan kedepan atau mulai April hingga Oktober 2026 mendatang.

"Prediksi BMKG April sampai Oktober cuaca sangat panas dan hampir tidak ada hujan," ungkapnya. 

Baca juga: Update Bursa Transfer Paruh Musim 2026 Persija Lepas Alfriyanto, Figo, dan Jehan

Artana mengakui, pihaknya telah melakukan langkah-langkah awal untuk antisipasi kekeringan di sejumlah wilayah di Gumi Makepung sesuai yang tertera pada dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) Kabupaten Jembrana.

Dan khusus untuk masyarakat yang nantinya membutuhkan air bersih bisa bersurat ke BPBD Jembrana melalui Pemerintah Desa masing-masing.

Dalam penyalurannya, BPBD Jembrana berkolaborasi dengan truk tangki milik Satpol PP Jembrana, PMI Jembrana dan juga pihak Polres Jembrana.

Baca juga: RAMALAN Cuaca Bali, Musim Kemarau 2026 Lebih Awal Terjadi di Sejumlah Daerah Termasuk Bali

Diharapkan, masyarakat yang masuk dalam wilayah berpotensi kekeringan bisa melakukan langkah awal misalnya dengan menyiapkan tempat penampungan air yang memadai agar terhindar dari krisis air bersih nantinya.

"Selain pemetaan wilayah berpotensi krisis air bersih, kita juga siapkan tandon atau tempat penampungan air serta penyaluran air bersih ke wilayah yang membutuhkan air bersih selama musim kemarau yang diprediksi bakal terjadi cukup lama," tandasnya.

Sebelumnya, Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Jembrana mulai meminta seluruh petani untuk mewaspadai dampak musim kemarau di tahun 2026 ini.

Sebab, BMKG sendiri memprediksi musim kemarau bakal mulai terjadi pada April mendatang dengan puncak di bulan Agustus. Bahkan bisa lebih panjang hingga Oktober mendatang.

Petani diharapkan mulai melakukan sejumlah langkah antisipasi seperti menerapkan skema pola tanam yang menyesuaikan dengan kondisi cuaca belakangan ini. 

Menurut data yang diperoleh, sedikitnya ada belasan subak tersebar di empat kecamatan wilayah Jembrana (kecuali Pekutatan) yang berpotensi atau rawan terdampak musim kemarau yang diprediksi bakal terjadi secara berkepanjangan ini. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.