TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Peristiwa ledakan yang menewaskan seorang bocah di kawasan Kampung Pondok, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, beberapa waktu lalu, masih menyisakan duka mendalam sekaligus kekhawatiran di tengah warga.
Insiden yang terjadi pada dini hari pada Jumat (20/3/2026) tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga membuka fakta baru soal mudahnya akses bahan berbahaya melalui belanja online dengan sistem cash on delivery (COD).
Ledakan yang diduga berasal dari bahan mercon tersebut terjadi sekitar pukul 01.00 WIB dan sempat menggegerkan warga karena suara dentumannya terdengar sangat keras hingga ke radius cukup jauh dari lokasi kejadian.
Baca juga: Soto Pak No Johar, Kuah Bening Kaya Kaldu sejak 1970-an Jadi Incaran Penikmat Kuliner
Baca juga: BREAKING NEWS: Satu Korban Ledakan Petasan di Kota Pekalongan Meninggal Dunia
Salah satu warga, Wiwik, mengaku saat pertama kali mendengar suara tersebut, ia tidak sedikit pun mengira berasal dari mercon.
“Enggak kepikiran sama sekali kalau itu mercon. Kami kira trafo listrik yang meledak,” ujar Wiwik saat dikutip Tribun Jateng, Minggu (29/3/2026).
Ia menjelaskan, suara ledakan terdengar sangat keras di tengah suasana malam yang sunyi, bahkan lebih keras dibanding suara ban truk yang meletus.
“Seperti ban truk meletus, tapi lebih besar lagi. Keras sekali, sampai warga sekitar hampir semua keluar rumah. Mungkin sekitar 90 persen keluar karena kaget,” jelasnya.
Warga yang panik kemudian berhamburan keluar rumah untuk mencari sumber suara.
Namun, karena tidak terlihat adanya api atau asap, sebagian warga menduga ledakan berasal dari panel atau gardu listrik.
“Awalnya kami pikir listrik. Bahkan sempat khawatir kalau listrik padam dan situasi jadi rawan,” tambahnya.
Beberapa warga sempat bersiaga mengantisipasi kemungkinan gangguan keamanan, mengingat kondisi lingkungan yang mendadak tegang setelah suara ledakan tersebut.
Namun, setelah beberapa saat, informasi mulai menyebar bahwa sumber ledakan berasal dari sebuah rumah di Kampung Pondok.
Informasi tersebut diperoleh dari warga yang lebih dulu mendekati lokasi kejadian.
“Awalnya simpang siur. Tapi kemudian ada yang dari sana bilang itu mercon yang meledak,” katanya.
Dari informasi yang beredar di lingkungan warga, bahan mercon tersebut diduga diperoleh melalui pembelian online.
Paket yang datang sebelumnya tidak menimbulkan kecurigaan karena dianggap sebagai barang biasa.
“Katanya beli parfum lewat online, COD. Yang bayari neneknya, mungkin tidak tahu kalau itu barang berbahaya,” ungkap Wiwik.
Ia menambahkan, bahan yang dibeli diduga berupa bubuk mercon yang kemudian dirakit sendiri di dalam rumah.
“Informasinya bubuknya mercon sebagai bahan untuk dirakit sendiri, tapi pastinya masih menunggu hasil penyelidikan,” ujarnya.
Akibat ledakan tersebut, satu orang bocah dilaporkan meninggal dunia di lokasi kejadian, sementara beberapa orang lainnya mengalami luka-luka dan telah mendapatkan penanganan medis.
Peristiwa ini tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga korban, tetapi juga menyisakan trauma bagi warga sekitar, terutama anak-anak.
“Anak-anak sekarang jadi lebih pendiam. Mungkin masih syok. Biasanya ramai, sekarang lebih banyak diam,” kata Wiwik.
Ia juga menyoroti perubahan perilaku anak-anak yang kini lebih tertutup setelah kejadian tersebut, serta meningkatnya kekhawatiran para orang tua terhadap aktivitas anak, terutama dalam penggunaan ponsel dan akses terhadap belanja online.
Menurutnya, perkembangan teknologi membuat anak-anak lebih mudah mengakses berbagai informasi dan barang, termasuk yang berpotensi berbahaya.
“Anak sekarang lebih pintar. Bisa beli sendiri, bisa simpan sendiri. Kadang orang tua tidak tahu,” ujarnya.
Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terulang dan mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi aktivitas anak.
“Pesannya sederhana, anak harus jujur sama orang tua. Karena sekarang apa saja bisa dibeli lewat HP. Kalau tidak jujur, bisa bahaya seperti ini,” tandasnya.
Temuan Polisi
Kapolrestabes Semarang, Brigjen Pol M Syahduddi, mengatakan tim Gegana Satbrimob telah melakukan sterilisasi menyeluruh di lokasi kejadian di Kampung Pondok, Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari.
“Situasi sudah clear, sudah steril, dan masyarakat bisa kembali beraktivitas tanpa kekhawatiran adanya ancaman lain,” ujar Syahduddi saat ditemui di Mapolrestabes Semarang, Jumat (20/3/2026) sore.
Sebelumnya, ledakan tersebut mengakibatkan seorang bocah berusia 9 tahun bernama Gilang meninggal dunia, serta melukai dua anggota keluarga lainnya.
Kondisi rumah dilaporkan mengalami kerusakan parah, mulai dari atap dan plafon yang ambrol hingga dampak kerusakan pada bangunan di sekitarnya.
Dari hasil penyelidikan sementara, polisi menduga ledakan berasal dari petasan atau mercon yang dirakit sendiri oleh penghuni rumah.
“Patut diduga ledakan tersebut berawal dari mercon yang dimiliki penghuni rumah,” jelasnya.
Polisi juga mengungkap fakta baru, bahwa bahan peledak tersebut diduga dibeli secara online melalui platform TikTok Shop oleh salah satu penghuni rumah berinisial T.
“Ini ada hal menarik, dari keterangan pemilik rumah, ada anak yang membeli bahan peledak dari TikTok Shop. Ini sedang kita dalami jaringannya,” tegasnya.
Saat ini, polisi masih memburu pihak-pihak yang terlibat, termasuk penjual dan pemasok bahan berbahaya tersebut.
Tim gabungan dari Inafis, Laboratorium Forensik Polda Jawa Tengah, dan Gegana juga masih bekerja untuk mengungkap penyebab pasti ledakan, termasuk proses autopsi terhadap korban.
“Semua fakta nanti akan disimpulkan dari hasil penyelidikan yang sedang berjalan,” pungkasnya. (Rad)