Soto Pak No Johar, Kuah Bening Kaya Kaldu sejak 1970-an Jadi Incaran Penikmat Kuliner
rival al manaf March 29, 2026 02:54 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Firman, seorang pembeli asal Kudus mengaku selalu menyempatkan diri mampir ke Pasar Johar setiap kali berada di Semarang, khusus untuk menikmati Soto Pak No.

“Kalau ke Semarang pasti mampir ke sini, cocok sama rasanya, sekalian kangen juga sama suasana pasar Johar.” ujarnya, Minggu (29/3/2026).

Menurutnya Soto Semarang memiliki cita rasa yang berbeda, meski kuah yang bening namun kaldu dan rempahnya tetap terasa kuat.

"Lebih segar sih, biasanya soto itu kan kuahnya kuning. Kalau di Kudus ada yang pakai santen juga, tapi ini kuahnya bening yang bikin unik," jelasnya.

Baca juga: Berikut Ini Rekomendasi 5 Kuliner Legendaris di Pasar Johar Kota Semarang

Baca juga: Enam Pilihan Kuliner  di Pasar Johar Semarang, Selain Nagih, Rasanya Bikin Nostalgia Masa Kecil

Soto Pak No Johar, yang dirintis sejak 1970-an oleh Darsono atau dikenal sebagai Pak No, masih mempertahankan ciri khas kuah bening dengan rasa kaldu yang kuat.

Penerus generasi ketiga, Puji, mengatakan lonjakan pembeli terjadi setelah Lebaran, didominasi pengunjung dari luar kota.

“Ramai, banyak dari Jakarta, Bandung, Solo. Setelah Lebaran ini bisa naik sampai 100 persen dibanding hari biasa,” ujarnya.

Ia menyebut, usaha tersebut awalnya berada di luar area pasar, sebelum akhirnya menempati lokasi di Pasar Johar Tengah lantai dua seperti saat ini.

Ciri khas utama soto ini, lanjut Puji, terletak pada kuahnya yang bening namun tetap kaya rasa.

“Kuahnya bening, tapi rempahnya masih terasa. Itu yang dipertahankan dari dulu,” katanya.

Dalam satu hari, warung dengan kapasitas sekitar 50 hingga 70 orang ini bisa dipenuhi pelanggan, terutama saat akhir pekan.

Harga yang ditawarkan relatif terjangkau, mulai dari Rp9.000 untuk porsi kecil dan Rp12.000 untuk porsi besar. 

Selain di Pasar Johar, Soto Pak No kini juga telah membuka cabang di kawasan Moh Suyudi, Semarang Tengah dan Pasar Mijen, serta berencana menambah lokasi baru di kawasan Jembatan Jolotundo.

Meski berkembang, Puji memastikan resep yang digunakan tetap sama seperti yang diwariskan sejak generasi pertama.

“Resepnya masih sama, tidak ada perubahan. Dari dulu sampai sekarang rasanya tetap kami jaga,” pungkasnya. (Rad)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.