Laporan Wartawan TribunJatim.com, Anggit Pujie Widodo
TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Aktivitas di jalan raya perbatasan Kecamatan Peterongan dan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, mulai menggeliat meski langit masih temaram.
Tampak di pinggir Jalan Peterongan-Sumobito, sebuah kendaraan roda tiga jenis Tossa berhenti.
Baca juga: Inovasi Mahasiswa UK Petra Buat Yoghurt dari Buah Maja, Bantu Lindungi Dinding Lambung
Dari sanalah, aroma sambal kacang pecel khas Ngawi perlahan menyebar, mengundang siapa saja yang melintas untuk menepi.
Pria asal Desa Plosokerep, Kecamatan Sumobito, Ahmad Rifai (46), sudah memulai harinya sejak selepas salat subuh.
Bersama sang istri, Nasri, ia menempuh perjalanan sekitar 20 menit menuju tempat berjualan yang telah menjadi sumber penghidupan mereka selama satu dekade terakhir.
Tempat berjualan bukan sebuah lapak, melainkan di Tossa miliknya, tepat di depan kedai warung kopi.
Di atas Tossa miliknya, Rifai mengangkut seluruh perlengkapan berjualan mulai dari panci, kompor, gelas, hingga aneka lauk pelengkap pecel.
Setibanya di lokasi, ia tak membutuhkan waktu lama untuk menata dagangan.
Semua sudah tersusun rapi, siap disajikan kepada pelanggan setia maupun pengendara yang melintas.
Pasangan suami istri ini berbagi peran.
Rifai bertugas menyiapkan minuman seperti teh dan kopi.
Sementara Nasri sigap meracik pecel pesanan pembeli.
Gerak mereka terlatih, seakan sudah menjadi rutinitas yang menyatu dengan keseharian.
"Mulai jualan pecel ini sejak 2015, sudah sekitar 10 tahunan," ucap Rifai kepada TribunJatim.com pada Minggu (29/3/2026).
Sebelum menekuni usaha kuliner, Rifai sempat bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah bank.
"Dulu kerja security di sebuah bank," katanya.
Namun, ia memilih beralih profesi demi memiliki usaha sendiri yang bisa dikelola bersama keluarga.
Dalam sehari, Rifai mengaku mampu menghabiskan sekitar 10 kilogram bahan pecel dalam kondisi normal, dan bisa mencapai 15 kilogram saat ramai.
Sementara untuk pelengkap, ia menyediakan telur hingga 3 kilogram dan tempe dengan nilai belanja sekitar Rp80 ribu per hari.
Lapak pecel Tossanya mulai buka sekitar pukul 05.00 WIB dan biasanya tutup menjelang pukul 10.00 WIB.
Dalam rentang waktu tersebut, omzet kotor yang diperoleh berkisar Rp600 ribu per hari.
Harga yang ditawarkan pun terjangkau.
Satu porsi pecel original dibanderol Rp7 ribu.
Sedangkan pecel dengan tambahan lauk seperti sate jeroan, sate puyuh, telur dadar, telur ceplok, hingga telur bumbu bali dijual sekitar Rp10 ribu per porsi.
Selain beragam menu yang disajikan, bumbu pecel juga menggunakan resep khusus, terlebih sang istri sendiri berasal dari Ngawi.
Bumbu pecel tersebut sudah ia buat sejak sehari sebelum mulai berjualan.
"Sehari sebelum jualan biasanya sudah mulai masak, mulai dari buat bumbu pecel, sampai lauk-lauk tambahan," bebernya.
Baca juga: 6 Jam Tunggu Menyeberang, Pengemudi Mobil Pingsan Lemas saat Antre di Pelabuhan Ketapang
Untuk pelanggan, pecel khas Ngawi yang ia jajakan ini digemari oleh warga sekitar, maupun para pelanggan yang melintas saat hendak berangkat kerja.
Anak kuliahan, pekerja, ibu-ibu komplek, setiap hari selalu memenuhi lapak Tossa pecel Rifai.
"Kalau pelanggan macem-macem, anak kuliah, mondok, pekerja yang mau berangkat kerja, sama warga sekitar," ungkap Rifai.
Kesederhanaan lapak pecel khas Ngawi milik Rifai justru menjadi daya tarik tersendiri.
Di tengah lalu lintas pagi yang mulai padat, kehadirannya menjadi persinggahan singkat bagi mereka yang mencari sarapan hangat dengan cita rasa rumahan.
Bagi Rifai dan Nasri, berjualan pecel bukan sekadar mencari nafkah.
Lebih dari itu, usaha kecil di pinggir jalan tersebut adalah cerita tentang ketekunan, kerja sama, dan harapan yang terus mereka rawat setiap pagi.
"Usaha ini saya bangun berdua bersama istri, alhamdulillah masih berjalan, dan semoga ke depan terus berjalan dan para pengunjung semakin banyak," pungkasnya.