TRIBUNJATIM.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan mencetak sejarah.
Donald Trump akan menjadi presiden petahana AS pertama yang tanda tangannya dibubuhkan di uang kertas dolar AS.
Langkah ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Hal ini juga sebagai tanda peringatan 25 tahun Amerika Serikat.
Baca juga: Apa itu Pearl Harbor? Peristiwa yang Disinggung Donald Trump saat Bertemu PM Jepang
Nantnya tanda tangan Trump akan muncul bersama tanda tangan Menteri Keuangan Scott Bessent.
“Tidak ada cara yang lebih ampuh untuk mengakui pencapaian bersejarah negara kita yang hebat dan Presiden Donald J. Trump selain uang kertas dolar AS yang memuat namanya,” kata Bessent, mengutip bbc.com, Minggu (29/3/2026).
Biasanya, uang kertas AS hanya memuat tanda tangan pejabat Departemen Keuangan.
Uang kertas pecahan 100 dolar AS (sekitar Rp1,7 juta) pertama dengan tanda tangan Trump dan Bessent akan dicetak pada Juni, dan pecahan lainnya akan menyusul.
Uang kertas yang saat ini beredar memuat tanda tangan mantan Menteri Keuangan era Presiden Joe Biden, Janet Yellen, serta Bendahara AS Lynn Malerba.
Sejak 1861, sudah menjadi tradisi bahwa tanda tangan bendahara AS tercantum pada uang kertas.
Namun, tradisi ini tampaknya akan berakhir di bawah rencana pemerintahan Trump.
Menjelang peringatan 250 tahun Amerika Serikat, Bessent mengatakan pencetakan mata uang dengan nama Trump merupakan cara yang kuat untuk menandai pencapaian bersejarah negara tersebut.
Bendahara AS saat ini, Brandon Beach, menegaskan bahwa mata uang negara akan tetap menjadi simbol kemakmuran, kekuatan, dan semangat tak tergoyahkan rakyat Amerika.
Tahun ini menandai peringatan 250 tahun sejak deklarasi resmi ketika 13 koloni Amerika, yang kemudian menjadi negara bagian, menyatakan kemerdekaan dari Inggris.
Pengumuman Departemen Keuangan ini menuai kemarahan dan sindiran.
“Setidaknya kita akan ingat siapa yang bertanggung jawab atas penurunan nilainya,” cuit ahli strategi Partai Republik sekaligus kritikus Trump, Mike Madrid, mengutip AL.com.
“Ini menjijikkan dan tidak sesuai dengan nilai-nilai Amerika,” ujar Anggota Kongres Shontel Brown.
“Tapi setidaknya ini akan mengingatkan kita kepada siapa kita harus berterima kasih ketika harga bensin, barang, dan bahan makanan menjadi lebih mahal.”
Jurnalis independen Terry Moran juga mengomentari langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, yakni pencantuman nama Trump pada mata uang.
“Ada alasan mengapa Washington tidak melakukan ini. Jackson tidak melakukan ini. Lincoln tidak melakukan ini. TR tidak melakukan ini. FDR tidak melakukan ini. Reagan tidak melakukan ini. Mereka semua adalah patriot Amerika sejati,” cuit Moran.
“Ini adalah sesuatu yang biasa Anda lihat di negara-negara republik pisang, dari para penguasa otoriter yang ingin mengultuskan diri seperti tokoh kartun.”
Bukan Pertama Kalinya Trump “Menempelkan” Namanya di Berbagai Tempat
Pada Desember tahun lalu, seperti dilansir Associated Press, pemerintahan Trump mengubah nama U.S. Institute of Peace menjadi Donald J. Trump Institute of Peace.
United States Institute of Peace (USIP) merupakan lembaga independen yang didirikan oleh Kongres AS pada 1984 untuk mempromosikan resolusi konflik dan pembangunan perdamaian di seluruh dunia.
Departemen Luar Negeri AS menyebut perubahan tersebut bertujuan mencerminkan sosok pembuat kesepakatan yang dianggap paling menonjol dalam sejarah Amerika Serikat.
Pada bulan yang sama, nama Donald Trump juga ditambahkan dalam memorial untuk mengenang presiden ke-35 AS, John F. Kennedy.
The Kennedy Center, atau The John F. Kennedy Center for the Performing Arts, merupakan pusat seni pertunjukan nasional Amerika Serikat di Washington, D.C., sekaligus menjadi memorial hidup bagi Presiden John F. Kennedy.
Gedung ini menjadi rumah bagi berbagai pertunjukan seni seperti musik, teater, opera, balet, dan tari.
Nama pusat tersebut kemudian diubah menjadi The Donald J. Trump and The John F. Kennedy Memorial Center for the Performing Arts.
Perubahan ini merupakan hasil keputusan dewan pengawas, yang sebagian anggotanya dipilih oleh Trump.
Trump juga menjabat sebagai ketua dewan.
Pihak Kennedy Center menyatakan bahwa keputusan tersebut merupakan bentuk pengakuan atas upaya Trump dalam merevitalisasi lembaga tersebut.
Donald Trump juga mengumumkan rencana besar bagi Angkatan Laut AS pada Desember lalu.
Mengutip Sky News, ia menyampaikan rencana pengembangan kelas baru kapal perang permukaan berbobot 30.000 hingga 40.000 ton yang dirancang untuk menghadapi dinamika konflik maritim modern.
Kelas kapal perang tersebut akan diberi nama “kelas Trump” dan disebut akan menjadi bagian dari “armada emas” baru yang terdiri dari kapal-kapal canggih.
Saat ini proyek tersebut masih berada dalam tahap desain, dengan pembangunan kapal pertama, USS Defiant, direncanakan dimulai pada awal 2030-an.
Menurut Trump, kapal tersebut akan dilengkapi rudal hipersonik, rudal jelajah nuklir, meriam rel, dan laser berkekuatan tinggi, teknologi yang masih dalam berbagai tahap pengembangan oleh Angkatan Laut AS.