TRIBUNBENGKULU.COM - Sosok WAT pemilik SPPG di Bengkulu yang viral usai menyebut netizen pengkritik MBG sebagai suudzon, berhati busuk, dan dengki, mulai terungkap.
Ia diketahui merupakan mantan anggota DPRD dan memiliki sejumlah usaha, termasuk 10 unit SPPG yang tersebar di wilayah Bengkulu.
Pernyataan kontroversial yang menyebut netizen pengkritik sebagai pihak yang suudzon dan dengki memicu beragam reaksi.
WAT merupakan mantan anggota Komisi I DPRD Kota Bengkulu pada periode 2014-2019.
Sedikitnya 10 SPPG di Provinsi Bengkulu yang dikuasai WAT tersebut dikabarkan berada di bawah naungan Yayasan Putri Bungsu Asiah, dengan lokasi tersebar di Kota Bengkulu, Bengkulu Selatan, hingga Kabupaten Kepahiang.
Adapun titik yang diduga terkait antara lain berada di wilayah Singaran Pati, Teluk Segara, Selebar, Ratu Samban, Muara Bangka Hulu, serta wilayah Manna dan Kedurang di Bengkulu Selatan dan Taba Tebelet di Kepahiang.
Bahkan, dari informasi yang dihimpun, salah satu SPPG di wilayah Singaran Pati (Jembatan Kecil) disebut telah dihentikan operasionalnya sejak 28 Maret 2026, meskipun belum diketahui secara pasti alasan penghentian tersebut.
Polemik ini semakin menguat di tengah sorotan terhadap program MBG, yang sebelumnya juga diwarnai kritik publik terkait transparansi, etika komunikasi, serta dugaan praktik makelar dalam penunjukan mitra.
Baca juga: Pemilik SPPG di Bengkulu Tuai Sorotan Sebut Netizan Pengkritik MBG Suudzon, Berhati Busuk dan Dengki
Sejumlah pihak menilai, apabila benar satu pihak menguasai banyak titik SPPG, hal ini berpotensi menimbulkan ketimpangan dan bertentangan dengan prinsip pemerataan dalam program.
Hingga saat ini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak terkait maupun dari yang bersangkutan terkait berbagai informasi yang beredar tersebut
Pernyataan pemilik SPPG di Bengkulu menjadi sorotan publik setelah menyebut netizen yang mengkritik MBG sebagai pihak yang suudzon, berhati busuk, dan penuh dengki.
Seorang wanita berinisial WAT pemilik beberapa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bengkulu, viral mengkritik netizen yang mengkritik program Makanan Bergizi Gratis (MBG)
Ucapan tersebut memicu reaksi beragam di media sosial dan memperpanjang polemik yang tengah berkembang.
Pernyataan itu pertama kali mencuat melalui unggahan yang kemudian viral di berbagai platform media sosial.
Dalam pernyataannya, pemilik SPPG menilai kritik yang dilontarkan sejumlah netizen terhadap MBG tidak berdasar dan cenderung bernada negatif.
Para pengkritik memiliki sikap suudzon serta dipenuhi rasa iri dan dengki, sehingga tidak melihat persoalan secara objektif.
Pernyataan tersebut langsung menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat.
Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, pemilik SPPG yang diketahui bernama Wehelmi Ade Tarigan, mengkritik para netizen yang mengkritik program MBG.
"Saya kasih tahu ya dengan kalian, yang sering suudzon, berhati busuk, dengki, kalian mengatakan bahwa, ini, program Pak Prabowo Makan Bergizi Gratis, ini adalah proyek para petinggi, seperti itu kan kalian mengatakan, apa kalian ga punya otak, ga berpikir. Para petani sekarang kegirangan, para petani sayur sekarang sudah siap-siap untuk menambah lahan agar sayurnya semakin banyak, bisa memenuhi standar dari makan bergizi ini, jadi ketahanan pangan, itulah yang harus kita besarkan, lalu peternak telur, peternak ayam, mereka siap-siap semua, ini akan timbul ekonomi kerakyatan, berputar uang di daerah," ungkap wanita tersebut.
Pernyataan tersebut menjadi lanjutan dari polemik sebelumnya, dimana WAT juga sempat membela pelaku joget MBG dan menjelaskan bahwa angka Rp6 juta per hari bukanlah keuntungan bersih, melainkan masih digunakan untuk menutup biaya operasional serta investasi besar pembangunan dapur SPPG.
Ia kembali menegaskan bahwa program MBG memiliki dampak positif terhadap masyarakat, khususnya dalam menggerakkan sektor ekonomi lokal.
Menurutnya, program ini telah mendorong peningkatan aktivitas di sektor pertanian dan peternakan.
Sebelumnya, Hendrik menjadi sorotan tajam warganet setelah mengunggah video joget yang menyebutkan angka insentif mencapai Rp 6 juta per hari dari program MBG.
Diketahui, Hendrik Irawan mengelolah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pangauban di Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Aksi joget viralnya di ruangan SPPG serta pernyataannya mengenai insentif harian berujung pada sanksi administratif yang berat.
Konten tersebut dinilai kurang peka terhadap polemik program nasional yang tengah berjalan.
Langkah Hendrik semakin membuat kegaduhan setelah melaporkan beberapa akun ke Polres Cimahi terkait pelanggaran UU ITE.
Klarifikasinya menegaskan bahwa informasi yang beredar di berbagai media sosial telah mengalami distorsi, sehingga berdampak buruk pada reputasinya secara pribadi.
Menurutnya, narasi yang berkembang di tengah masyarakat tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya.
Hendrik menegaskan, dapur SPPG yang ia kelola dibangun menggunakan dana pribadi, bukan dari anggaran negara.
Ia mengklaim telah merogoh kocek hingga Rp 3,5 miliar untuk membuat mendukung program nasional tersebut.
"Saya buatnya (dapur SPPG) sampai Rp 3,5 miliar, jadi dari bapak presiden menghargai, akhirnya dibangunlah SPPG yang awalnya modal saya," ungkap Hendrik Irawan dalam video di akun TikTok pribadinya.
Terkait angka Rp 6 juta yang ramai diperbincangkan, Hendrik bilang bahwa nilai tersebut merupakan insentif bangunan bagi seluruh mitra yang bergabung, bukan penghasilan pribadi semata.
Meski menerima jutaan rupiah per hari, ia mengaku saat ini belum mencapai titik balik modal (break even point).
"Yang menerima Rp 6 juta tuh bukan saya, semua mitra yang bergabung dengan program semua menerima Rp 6 juta, itu untuk insentif bangunan yang kami buat," ucap Hendrik.
Menghadapi kecurigaan publik, Hendrik menyatakan dirinya sangat terbuka jika pihak berwenang ingin melakukan pemeriksaan keuangan terhadap operasional SPPG miliknya.
"Ada dua akun yang saya laporkan. Ke satu, akun yang meng-up tanpa seizin saya, dan itu sudah masuk ke ranah hukum."
"Kedua, ada Instagram yang membabi buta, mencaci maki saya tanpa dasarnya ada bukti, itulah delik aduannya," kata Hendrik.
Ia menilai, narasi yang beredar telah melenceng dari petunjuk teknis (juknis) yang ada.
"Tanggal 26 saya akan resmi melaporkan, pertama yang meng-up tentang video saya yang saya mendapat insentif SPPG Rp 6 juta, lalu salah saya di mana?"
"Dari juknis BGN itu sudah dituangkan, bahwa mitra berhak menerima insentif Rp 6 juta perhari. Si orang ini membuat narasi tidak baik, bahwa saya joget-joget menerima uang Rp 6 juta," sambungnya.
Meski Hendrik sudah menyampaikan klarifikasi, BGN tetap mengambil langkah tegas dengan membekukan sementara aktivitas di SPPG Pangauban guna evaluasi lebih lanjut.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan BGN tak hanya menyayangkan tindakan Hendrik, tapi juga marah.
Ia mengingatkan bahwa SPPG bukanlah sebuah bisnis.
Lebih lanjut, Nanik menyoroti viral video joget pria tersebut di dalam sebuah dapur MBG tanpa dilengkapi APD.
Nanik mengingatkan agar mitra MBG tidak bersikap aneh-aneh.
Ia mengancam mitra yang melakukan tindakan serupa akan disanksi tutup dapur MBG.
“Ya saya minta mitra itu low profile lah jangan aneh-aneh, kalau ada yang aneh-aneh nanti saya suspend atau malah kita hentikan dapurnya,” tutur Nanik.
Nanik menambahkan, setelah video joget-joget itu beredar, dapur Hendrik disidak oleh Direktur Tauwas Wilayah II BGN, Brigjen Doni Dewantoro.
Nanik menyebut dapur Hendrik rupanya salah layout dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL)-nya tidak benar.
Karena kedua hal itu, dapur Hendrik kini di-suspend atau dihentikan sementara.
“Dapurnya sudah kita suspend, bukan perkara dia nari, tapi karena layout-nya salah dan IPAL tidak sempurna,” ucap Nanik kepada wartawan, dikutip Rabu (25/3/2026).
Nanik mengatakan Hendrik mengelola tujuh SPPG di area Jawa Barat. Dari tujuh itu, Nanik menjelaskan baru satu yang berjalan.
Selain itu, Nanik juga menyayangkan Hendrik yang melaporkan sejumlah pengunggah ulang video jogetnya ke polisi. Nanik meminta Hendrik tak menyalahkan orang lain.
“Ngapain harus lapor polisi? Kan yang salah siapa, makanya jangan joget-joget. Jangan nyalahin yang upload dong,” tutur Nanik.