TRIBUNGAYO.COM - Sekitar 6 kepala keluarga (KK) yang merupakan korban banjir dan longsor di Kabupaten Bener Meriah melayangkan protes ke pemerintah.
Pasalnya, mereka belum menerima hunian sementara (huntara) padahal mereka merupakan korban bencana alam yang terjadi pada November 2025 silam.
Terkait protes tersebut, Pemkab Bener Meriah ikut memberikan klarifikasi dan penjelasan.
Melansir Kompas.com, sejumlah penyintas di Kampung Seni Antara, Kecamatan Permata, mengaku belum menerima bantuan hunian sementara (huntara) dari pemerintah.
Padahal saat ini sudah eempat bulan pascabencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Bener Meriah.
Sebanyak enam kepala keluarga (KK) dilaporkan belum mendapatkan bantuan sejak bencana terjadi pada 26 November 2025.
Salah satu penyintas, Taufik, mengatakan rumah miliknya mengalami kerusakan berat hingga tidak lagi layak dihuni.
Begitu pula dengan lima rumah tetangganya.
"Keenam rumah tersebut kerusakannya sangat parah, bahkan ada yang rusaknya hampir 100 persen," ujar Taufik saat ditemui, Sabtu (28/3/2026).
Ia menyebut rumahnya mengalami kerusakan sekitar 81 persen. Selain itu, area perkebunan di sekitar rumah juga terdampak.
Namun hingga kini, ia mengaku belum menerima bantuan apa pun, baik jaminan hidup (jadup), bantuan perabotan, maupun huntara.
Taufik mengungkapkan, dirinya telah melaporkan kondisi tersebut ke pemerintah kampung dan menyerahkan berbagai dokumen pendukung.
"Januari saya kirim berkas pertama, berhubung kami tidak masuk daftar penerima Jadup, Sekdes meminta saya menyerahkan foto kopi KK dan KTP pada 23 Februari lalu," ujarnya.
Ia kembali diminta menyerahkan dokumen serupa pada 2 Maret karena tidak mendapatkan bantuan perabotan.
Terbaru, Taufik menghubungi pihak kecamatan melalui pesan WhatsApp dan mendapat informasi bahwa dirinya masuk dalam daftar penerima bantuan tahap kedua.
Merasa belum mendapat kejelasan, Taufik berharap pemerintah dapat memberikan informasi yang transparan terkait status bantuan yang diajukan.
Ia mengaku tidak ingin melangkahi pihak desa maupun kecamatan, namun meminta adanya kejelasan atas proses yang telah dijalani.
"Kalau memang saya dinilai tidak berhak mendapat bantuan, katakan saja, biar saya puas hati, tidak usah digantung-gantung seperti ini," tutur Taufik.
Kepala Dinas Kominfo Bener Meriah, Ilham Abdi, menyatakan bahwa pihak staf Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BPBD Kabupaten Bener Meriah telah bertemu langsung dengan salah satu narasumber penyintas, Taufik, pada Sabtu (28/3/2026).
"Berdasarkan hasil penelusuran di lapangan, Saudara Taufik tinggal di rumah keluarganya dan tidak berada di Desa Seni Antara saat BPBD melakukan pendataan korban serta proses pembangunan huntara dimulai. Hal ini menyebabkan yang bersangkutan tidak masuk dalam data awal penerima," ungkap Ilham kepada Kompas.com.
Keduanya tercatat telah menempati unit huntara pada 27 Maret 2026.
Saat ini, Camat Permata tengah melakukan pengecekan ulang terhadap empat KK lainnya untuk memastikan tingkat kerusakan rumah mereka.
Langkah ini diambil guna menjamin warga yang memiliki hak tidak terlewat dari daftar bantuan.
"Camat Permata juga sedang menelusuri kemungkinan adanya warga lain yang belum terdata agar dapat diusulkan bersama," tambah Ilham.
Selain pengecekan data, pihak kecamatan akan menyisir 45 unit huntara yang telah dibangun untuk melihat apakah masih ada unit kosong yang bisa segera ditempati oleh warga yang berhak.
Jika hasil verifikasi menunjukkan ada warga dengan rumah rusak berat yang belum mendapatkan huntara, Pemkab akan memberikan solusi berupa Dana Tunggu Hunian (DTH).
Langkah ini diambil mengingat adanya keterbatasan lahan untuk pembangunan unit huntara baru di wilayah tersebut.
"Apabila hasil verifikasi menyatakan layak, maka akan ditindaklanjuti kepada Bupati Bener Meriah untuk penerbitan Surat Keputusan (SK) pemberian DTH," jelas Ilham.
Pemkab Bener Meriah menegaskan komitmennya untuk memastikan seluruh masyarakat terdampak bencana mendapatkan penanganan sesuai ketentuan yang berlaku berdasarkan data yang valid dan terverifikasi.
Baca juga: Masalah Air Bersih di Huntara Kute Kering Bener Meriah Akhirnya Teratasi