Negara yang Jadi Mediator AS-Iran usai Indonesia Ditolak, Berjuang Selamatkan Pasokan Energi Global
Ignatia Andra March 29, 2026 07:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Indonesia yang sempat ditolak karena menyatakan keinginan menjadi mediator dan memfasilitasi dialog antara negara konflik Amerika dan Iran, kini menemukan penggantinya.

Pakistan resmi menjadi tuan rumah bagi diplomat senior dari Arab Saudi, Turki, dan Mesir mulai Minggu (29/03).

Pertemuan tingkat tinggi ini menempatkan Islamabad sebagai episentrum negosiasi potensial antara Amerika Serikat (AS) dan Iran guna menyudahi konflik yang telah berkecamuk selama satu bulan terakhir.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif melalui akun instagramnya menyatakan, pemerintahnya berupaya melindungi masyarakat dari kenaikan harga minyak global yang melonjak, sekaligus mengintensifkan upaya diplomatik untuk membantu mengakhiri perang.

Ia mengatakan Pakistan sedang mengupayakan mediasi untuk menyelamatkan kawasan dan negara-negara Islam dari konflik yang menghancurkan tersebut.

Dukungan ramai negara tetangga soal Pakistan jadi mediator

Sementara, Kementerian Luar Negeri Pakistan dalam pernyataan resminya pada Sabtu (28/03) menegaskan bahwa menteri luar negeri dari keempat negara tersebut akan melakukan diskusi mendalam mengenai berbagai isu krusial.

Agenda utama fokus pada upaya deeskalasi atau meredakan ketegangan di kawasan yang kian memanas.

Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menyatakan bahwa pertemuan ini bertujuan membangun mekanisme konkret untuk meredam konflik.

"Kami akan membedah ke arah mana negosiasi perang ini bermuara, bagaimana keempat negara menilai situasi terkini, serta langkah nyata apa yang bisa diambil," tegas Fidan kepada penyiar A Haber, Jumat malam, seperti dilansir TribunJatim.com mengutip New York Times via Kontan, Minggu (29/3/2026).

4 negara berperan vital

Keempat negara tersebut kini berada di garda terdepan dalam memediasi Washington dan Teheran sejak perang meletus pada 28 Februari 2026 lalu.

Posisi mereka sangat krusial mengingat kerentanan terhadap gangguan pasokan energi dan ancaman pada rute perdagangan global.

Pakistan telah menyampaikan proposal 15 poin dari AS kepada Teheran guna mengakhiri peperangan.

Islamabad juga menawarkan diri sebagai lokasi perundingan, di mana pihak Iran memberikan sinyal bahwa negosiasi dapat dilangsungkan di Pakistan atau Turki.

Meskipun Presiden AS Donald Trump mengklaim proses pembicaraan dengan Iran berjalan "sangat baik," pihak Teheran masih secara terbuka membantah adanya dialog langsung dengan Washington.

Saat ini, Iran tengah meninjau 15 poin proposal AS tersebut, meski sejumlah pejabat di Teheran menganggapnya "sepihak dan tidak adil."

Poin-poin dalam proposal tersebut mencakup tuntutan besar, mulai dari pembongkaran program nuklir Iran, pembatasan pengembangan rudal, hingga penyerahan kontrol efektif atas Selat Hormuz.

Dalam konferensi di Istanbul, Sabtu, Menlu Fidan menekankan bahwa sistem "polisentris" dunia saat ini menuntut solusi segera untuk melindungi rute energi dan perdagangan vital.

Dialog tingkat tinggi ini diharapkan mampu merumuskan "langkah aksi" yang cepat untuk menghentikan perang sebelum kerusakan lebih luas menghantam ekonomi global.

Indonesia ditolak

Sebelumnya, Indonesia sempat menyampaikan keinginan untuk bisa jadi mediator perang yang terjadi antara Iran dan Amerika Serikat.

Pemerintah Indonesia menyatakan keprihatinan mendalam menyusul terjadinya serangan militer yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran 

Menanggapi situasi darurat itu, Presiden RI Prabowo Subianto disebut Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI) melalui pernyataan resmi di akun media sosial X siap untuk terjun langsung memfasilitasi dialog demi meredam ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Presiden Indonesia itu memiliki keinginan untuk menengahi dan menjembatani dialog antara dua negara besar yang sedang berselisih tersebut.

"Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi," tegas pernyataan tersebut.

Sikap Prabowo ini juga mengundang berbagai sorotan dan komentar dari rakyat Indonesia.

Seperti diketahui bersama, Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026).

Serangan tersebut telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Menghadapi serangan tersebut Iran melakukan balasan dengan meluncurkan rudal ke sejumlah Pangkalan Militer AS yang ada di kawasan Timur Tengah.

Pintu negosiasi ditutup

Iran memastikan menutup negosiasi dengan Amerika Serikat setelah pemimpin tertingginya tewas dirudal. 

Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi berterima kasih atas niat Presiden Prabowo yang ingin menjadi mediator antara Iran dan AS. 

Namun, di sisi lain ia juga menutup pintu negosiasi dengan Amerika Serikat.

Hal itu disampaikannya saat konferensi pers di kediamannya di kawasan Menteng Jakarta Pusat pada Senin (2/3/2026).

"Kami dari negara-negara sahabat berharap dukungan kepada negara kami. Tentu Iran berharap terhadap negara-negara sahabat untuk memberikan dukungan kepada negara kami. Kami tentu menyampaikan apresiasi atas pesan dan kesiapan yang telah disampaikan oleh Indonesia," kata Boroujerdi, dikutip TribunJatim.com via Tribunnews.com, Selasa (3/3/2026).

"Tetapi bagi kami tidak ada negosiasi dengan negara yang melancarkan permusuhan dengan kami yaitu Amerika Serikat. Dikarenakan apa jaminan Amerika Serikat patuh terhadap sebuah kesepakatan?" lanjutnya.

Baca juga: Presiden Prabowo Siap Terbang ke Teheran, Indonesia Tawarkan Mediasi di Tengah Serangan Iran–Israel

Berharap mengutuk serangan AS

Ia berharap negara-negara Islam mengutuk keras  serangan AS-Israel ke Iran.

Selain itu, ia juga berharap negara-negara Islam menggunakan seluruh kemampuan dan potensinya di badan OKI dan juga PBB untuk memberikan dukungan kepada Iran. 

"Dan yang ketiga adalah kami berharap sebuah kampanye dijalankan oleh negara-negara Islam, kampanye untuk menyatakan tidak kepada peperangan," ujarnya.

Menjawab pertanyaan lain terkait hal yang sama, Boroujerdi membuka ruang komunikasi dengan pemerintah Indonesia bila ingin melakukan komunikasi dan interaksi dengan pihak Iran.

Baca juga: Prabowo Minta Kepala BGN Awasi Korupsi Pada MBG, Tercium Bermain Sekecil Apapun Akan Dibuang

Namun, ia mengaku belum mengetahui apakah rencana pemerintah Indonesia itu akan berdampak atau tidak.

"Tetapi saya tidak bisa memberikan jawaban dan tidak tahu apakah mediasi dapat mencapai hasil atau tidak dan apakah di situasi seperti ini mungkinkah mediasi bisa membuahkan sebuah hasil atau tidak, saya tidak bisa menjawabnya," ucapnya.

"Tetapi pada saat bersamaan komunikasi dan interaksi antarpejabat senior pemerintahan dari kedua negara, maksudnya komunikasi dan mendapatkan informasi dari satu sama lain, tidak perlu harus selalu berarti mediasi akan terjadi. Tapi setidaknya dengan mendapatkan situasi terkini dari kedua negara, ini akan sangat baik untuk Iran dan Indonesia," ucapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.