TRIBUNJATENG.COM, PATI – Puncak peringatan Sedekah Laut di Juwana, Pati, pada Minggu (29/3/2026) tampil beda dengan perpaduan ritual sakral dan edukasi keterampilan bagi para pelaut.
Di tengah prosesi larung kepala kerbau yang kini menjadi "pakem" baru di muara Sungai Silugonggo, para nelayan juga ditantang menunjukkan kebolehan dalam lomba menyulam jaring sebagai upaya melestarikan keahlian dasar melaut bagi generasi muda.
Perhelatan tahunan ini bukan sekadar bentuk syukur atas melimpahnya hasil laut, melainkan juga penegasan identitas budaya pesisir yang kini telah resmi menyandang status Kekayaan Intelektual Komunal.
Baca juga: Bukan Lagi Kepala Kambing, Sedekah Laut TPI Juwana Pati Kini Pakai Kepala Kerbau
Acara puncak sedekah laut tersebut digelar pada Minggu (29/3/2026), bertempat di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Juwana Unit 2 Desa Bajomulyo dan di Desa Bendar.
Ketua Paguyuban Mitra Nelayan Sejahtera, Eko Budiono, mengatakan bahwa lomba adu kecepatan dan kerapian dalam menyulam jaring ikan menjadi salah satu acara yang menarik.
"Lomba ini sengaja digelar untuk mengenalkan skill dasar nelayan kepada generasi muda nelayan di Juwana. Memperbaiki jaring sebagai alat tangkap ikan sangat dibutuhkan saat sedang berada di kapal dan bekerja mencari ikan,” ungkap dia.
Eko berharap, pelaksanaan Sedekah Laut Juwana bisa menjadi lebih meriah pada tahun-tahun mendatang.
Terlebih, pada 2025 lalu, Sedekah Laut Juwana telah ditetapkan oleh Kementerian Hukum sebagai kekayaan intelektual komunal dari Desa Bajomulyo dan Desa Bendar dalam kategori upacara adat.
Larung Kepala Kerbau
Tradisi Sedekah Laut digelar oleh Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Juwana di Desa Bajomulyo, Kecamatan Juwana, Pati, Minggu (29/3/2026).
Seremoni Sedekah Laut ini dipusatkan di TPI Juwana Unit II, Desa Bajomulyo.
Dalam kegiatan ini, dua kepala kerbau yang diletakkan di atas miniatur kapal nelayan dilarung ke Laut Jawa melalui muara Singa Silugonggo.
Sebelum dilarung, dua miniatur kapal yang berisi sesaji diangkut ke atas perahu motor nelayan sungguhan, kemudian dibawa ke muara.
Setibanya di muara, sesaji didoakan oleh tokoh masyarakat setempat, kemudian dilarung ke laut lepas.
Jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang dipimpin oleh Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati Risma Ardhi Chandra menyaksikan langsung pelaksanaan tradisi rutin tahunan ini.
Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur TPI dan para nelayan setempat atas hasil laut sepanjang tahun. Selain itu juga mengandung harapan agar para nelayan dan seluruh insan bahari senantiasa diberikan keselamatan.
Ketua Panitia Sedekah Laut TPI Juwana, Suratman, menjelaskan bahwa penggunaan kepala kerbau sebagai komponen utama sesaji yang dilarung merupakan hal baru.
“Biasanya kami menggunakan kepala kambing. Namun tahun ini para sesepuh menginginkan diganti dengan kepala kerbau agar suasananya berbeda dan lebih sakral,” jelas dia.
Suratman mengungkapkan, penggunaan kepala kerbau yang menggantikan kepala kambing diharapkan menjadi simbol rasa syukur yang lebih kuat kepada Tuhan.
Dalam pelaksanaan Sedekah Laut ke depannya, rencananya kepala kerbau akan menjadi semacam "pakem baru".
"Agar menjadi ciri khas tersendiri bagi sedekah laut di Juwana,” ucap dia.
Suratman menambahkan, selain kepala kerbau sebagai komponen utama, perangkat sesaji yang dilarung juga meliputi bubur tolak bala, sego buceng (tumpeng), dan berbagi hasil bumi yang melambangkan harapan akan keberkahan dan keselamatan.
Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, menyampaikan apresiasi terhadap masyarakat setempat yang melestarikan tradisi ini.
Dia menilai, tradisi ini merupakan bagian penting dari identitas budaya masyarakat pesisir.
Baca juga: Mengintip Kemeriahan Sedekah Laut di Pati, Tradisi Syukur dari "Kampung Nelayan Sultan"
“Hari ini kami melarung dua kepala kerbau ke laut. Alhamdulillah acara berjalan lancar. Ini adalah tradisi tahunan yang harus terus kita jaga dan kembangkan supaya makin meriah dan berdampak positif bagi masyarakat nelayan setempat,” ungkap Chandra.
Untuk diketahui, rangkaian acara sedekah laut di Bajomulyo berlangsung mulai Jumat hingga Selasa (27-31/3/2026).
Rangkaian acara meliputi manakiban, pengajian, pementasan kesenian ketoprak, hingga musik dangdut. (mzk)