Haul Wali Gembyang Kendal, Ngalap Berkah Wali Sambil Nikmati Gurih Sedap Lontong Opor Gratis
raka f pujangga March 29, 2026 08:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Kompleks makam Wali Gembyang di Kelurahan Patukangan Kabupaten Kendal mendadak ramai peziarah dibanding kondisi normal, Minggu (29/3/2026).

Warga berbondong-bondong berziarah sekaligus memperingati acara haul salah satu tokoh penyebar islam di Kendal itu yang digelar rutin setiap tahunnya.

Di tahun ini, agenda haul dilangsungkan bersama perayaan lebaran ketupat.

Baca juga: Bupati-Wakil Bupati Jepara Sediakan Lontong Opor saat Halal Bihalal dengan ASN

Tak ayal, sekitar 2.000 porsi lontong opor dengan irisan ayam dan sambal goreng tahu, serta soto sebagai pelengkap menjadi kuliner gratis yang langsung diserbu warga usai pelaksanaan haul.

Salah satu peziarah, Narti mengatakan dirinya selalu menyempatkan waktu untuk ikut menghadiri haul Wali Gembyang setiap tahunnya.

Selain berharap keberkahan, Narti juga bisa menyantap lontong opor maupun soto gratis yang disediakan panitia.

Meski digelar sederhana, tradisi makan bersama ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian penting dari rangkaian haul.

Selain sebagai bentuk sedekah, kegiatan ini juga mempererat kebersamaan antarwarga.

"Ngalap berkah wali, semoga bisa kecipratan berkahnya," katanya.

Takmir Musala Wali Gembyang, M. Toha, menjelaskan bahwa haul ini digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa Mbah Wali Gembyang dalam menyebarkan agama Islam di wilayah Kendal.

“Ini bentuk penghormatan kami kepada beliau sekaligus upaya menjaga tradisi agar tetap lestari,” katanya.

Dia menambahkan, haul Wali Gembyang rutin dilaksanakan setiap tanggal 9 Syawal. Adapun rangkaian kegiatan meliputi pembacaan tahlil, doa bersama.

"Kemudian ada pengajian yang dipusatkan di kompleks makam Wali Gembyang di Kelurahan Patukangan," sambungnya.

Ketua panitia haul, Muhammad Jayus Asrori menuturkan dalam tradisi haul ini, pihaknya selalu menyediakan makanan gratis yang terus dilestarikan hingga kini.

Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya menjaga nilai-nilai religius, tetapi juga memperkuat budaya gotong royong dan kepedulian sosial yang telah mengakar sejak lama.

“Setiap tahun jumlahnya terus bertambah. Tidak hanya lontong opor dan soto, kami juga menyediakan minuman serta buah-buahan untuk para pengunjung,” tuturnya.

Ia menambahkan, pada pelaksanaan tahun ini panitia juga memborong dagangan pedagang asongan di sekitar lokasi acara.

Seluruh makanan tersebut kemudian dibagikan secara gratis kepada pengunjung.

"Semoga kita semua mendapatkan berkahnya," ujarnya.

20260329_Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari berziarah_1
BERZIARAH - Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari berziarah di makam Wali Gembyang, Minggu (29/3/2026). Haul ini merupakan agenda rutinan yang dilaksanakan setiap tahun.

Perjuangan Dakwah 

Jayus menerangkan, perjuangan dakwah Mbah Gembyang hingga dikenang sebagai wali cukup lama. Syiar agama islam yang dibawa Mbah Gembyang turut serta membangun pondasi religius di Kabupaten Kendal.

Dia menuturkan, Wali Gembyang merupakan sosok ulama asal timur tengah yang sempat menyebarkan Islam di Cina. 

Selama berdakwah di sana, Wali Gembyang yang memiliki nama asli Hamzah itu kerap dipanggil Han Byan. Oleh orang Jawa, pelafalan nama tersebut kemudian berubah menjadi Gembyang.

"Beliau dakwah dulu di Cina kemudian berpindah dakwahnya untuk menyebarkan islam di Kendal," tuturnya.

Selama berdakwah, Wali Gembyang dikenal sebagai sosok ramah, sederhana dan sopan serta termasuk sosok yang dituakan di Kabupaten Kendal.

Wali Gembyang mulai berdakwah sekitar tahun 1628 Masehi, namun Jayus tak mengetahui secara persis kapan Wali Gembyang wafat.

Jayus menambahkan, dakwah yang dilakukan Wali Gembyang memiliki keterkaitan dengan Sunan Katong. 

Dalam buku Aspek-aspek Budaya di Kabupaten Kendal, disebutkan bahwa Raja Demak, Raden Patah meminta saudaranya Sunan Katong untuk menjadi penyebar islam di Kaliwungu.

Keberhasilan Sunan Katong menyebarkan islam dengan corak sufistik di Kaliwungu membuat wilayah itu menjadi pusat keilmuan islam di Kendal. 

Di periode berikutnya yang diteruskan oleh Wali Jaka dan Wali Gembyang, juga identik dengan corak serupa. Bahkan, Wali Gembyang disebut Jayus memiliki kelinuwehan atau kelebihan khusus berupa perkataannya yang mujarab.

"Dalam bahasa jawa itu mandhi ucape," imbuhnya.

Baca juga: Masih Ada ASN Pemkot Semarang Absen Hari Pertama Kerja Usai Lebaran, Agustina: Kebanyakan Makan Opor

Hingga kini, makam Wali Gembyang yang berada di sebelah utara Alun-alun Kendal itu tak pernah sepi peziarah.

Jayus bercerita, setiap awal ramadan peziarah selalu memadati kompleks makam Wali Gembyang.

"Pas awal ramadan itu selalu ramai. Yang datang dari berbagai daerah," tandasnya. (ags) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.