BANGKAPOS.COM - Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, memastikan pelayaran kapal Indonesia di kawasan Teluk Persia saat ini berlangsung aman.
Fokus utama pemerintah saat ini adalah menjamin keamanan Kapal Pertamina di Selat Hormuz di tengah dinamika geopolitik global.
“Kementerian ESDM terus berkomunikasi dan berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Luar Negeri untuk memastikan proses pelintasan kapal Indonesia di Selat Hormuz dapat berjalan aman dan lancar,” kata Dwi Anggia, Minggu (29/3/2026).
Pemerintah memprioritaskan keselamatan seluruh awak kapal sebagai poin paling krusial dalam setiap proses pelayaran di kawasan tersebut.
“Tidak hanya soal muatan, tapi keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama pemerintah,” ujar Dwi menegaskan komitmen otoritas terkait.
Baca juga: Segini Harga Token Listrik Terbaru April 2026, Rp100 Ribu Dapat Berapa kWh?
Kementerian Luar Negeri Indonesia juga terus menjalin komunikasi aktif dengan otoritas Iran untuk memantau kondisi keamanan kru kapal.
Langkah diplomasi ini telah mendapatkan respons positif dari pihak Iran dan kini memasuki tahap tindak lanjut teknis operasional.
Di sisi lain, Pertamina International Shipping (PIS) tengah menyiapkan prosedur administratif ketat untuk armada kapal tanker raksasa mereka.
Langkah ini diambil agar kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro dapat melintasi Selat Hormuz dengan standar keamanan tertinggi.
“Prioritas kami tetap pada keselamatan seluruh awak kapal, serta keamanan kapal dan muatannya,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron.
Guna menjaga ketahanan energi nasional, pemerintah mulai melakukan diversifikasi sumber pasokan minyak mentah dari luar Timur Tengah.
Strategi ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada satu kawasan jalur pelayaran yang memiliki risiko geopolitik cukup tinggi.
Berdasarkan data tahun 2025, Indonesia mengimpor sebanyak 135,33 juta barel minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan domestik yang meningkat.
Sekitar 19 persen dari total impor tersebut berasal dari Arab Saudi, sementara sisanya dipasok dari berbagai wilayah global.
Pasokan energi kini mulai didatangkan secara rutin dari kawasan Afrika, Amerika Latin, Amerika Serikat, hingga negara-negara Asia Tenggara. (sumber : kompas.tv)