TRIBUNJOGJA.COM - Museum Chocolate Kingdom yang bernaung di bawah Chocolate Monggo kini resmi beroperasi dengan wajah baru di Bangunjiwo, Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sejak diinaugurasi pada 6 Februari 2026 lalu oleh Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, destinasi ini bertransformasi menjadi ruang edukasi sejarah dan warisan budaya cokelat berskala internasional.
Museum ini menjadi satu-satunya di Indonesia yang secara khusus memamerkan koleksi istimewa peranti cokelat Eropa dari abad ke-17 hingga ke-20 hasil kurasi langsung Direktur Chocolate Kingdom, Thierry Detournay, dari koleksi pribadinya.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, memberikan apresiasi tinggi terhadap kehadiran wajah baru museum ini sebagai pengaya khazanah pariwisata Yogyakarta.
Menurut Dian, kehadiran museum ini memberikan pengalaman budaya baru bagi masyarakat dan menjadi jembatan sejarah antara tradisi cokelat Eropa dengan kekayaan lokal Indonesia.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Chocolate Kingdom, Thierry Detournay, menegaskan bahwa benda-benda yang dipamerkan, seperti teko cokelat dan cangkir porselen kuno, bukan sekadar koleksi benda mati, melainkan setiap objek adalah saksi perjalanan sejarah, seni, dan budaya yang tak ternilai harganya.
Dalam penelusuran sejarahnya, pengunjung diajak mengenal artefak "Vas Palanda", sebuah replika pemberian Kedutaan Besar Ekuador untuk Indonesia yang membuktikan penggunaan kakao sejak 5.500 tahun lalu oleh kebudayaan Mayo Chinchipe.
Edukator Museum Chocolate Kingdom, Reza, menjelaskan bahwa setelah peradaban tersebut, Suku Olmec sekitar 4.000 tahun lalu mulai menyadari bahwa buah kakao adalah buah yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi minuman dan mulai mengolahnya secara sistematis, sehingga suku
Olmec disebut sebagai ibu peradaban dari seluruh minuman cokelat yang digunakan sebagai alat ritual.
Tradisi ini berlanjut pada Suku Maya yang menganggap kakao sebagai jembatan antara dunia dewa dan manusia, hingga Suku Aztec yang mengonsumsi cokelat dalam jumlah besar untuk stamina.
Reza memaparkan bahwa satu orang dari suku Aztec bisa mengonsumsi 50 gelas cokelat dalam satu hari dengan versi aslinya, yaitu rasa pahit, dan untuk mengurangi rasa pahitnya mereka biasanya akan menambahkan rempah-rempah seperti jahe, kayu manis, buah pala, atau yang paling ekstrem mereka akan menambahkan dengan bubuk cabai merah.
Kakao pun sempat menjadi alat tukar, di mana satu biji kakao setara dengan satu buah tomat, sedangkan 30 biji kakao disetarakan dengan satu ekor kelinci.
Perubahan rasa cokelat menjadi manis yang dikenal luas saat ini bermula dari pengaruh bangsa Eropa. Reza menjelaskan bahwa versi manis dari cokelat yang bisa dinikmati oleh semua kalangan itu karena pengaruhnya dari bangsa Eropa, dimulai dari ekspansi yang dilakukan oleh Kerajaan Spanyol yang dipimpin oleh penjelajah dunia kedua setelah Christopher Columbus, yaitu Hernando Cortes, ketika berkunjung dan menaklukkan beberapa daerah, beliau tertarik dengan hasil alam dari suku Aztec, lalu membawanya dari Amerika menuju ke Eropa. Di Indonesia sendiri, tanaman ini mulai dibudidayakan sekitar abad ke-17 hingga ke-18 melalui jalur perdagangan di Minahasa, Sulawesi Utara.
Dari sisi budidaya, petani kakao harus memiliki pemahaman mendalam karena pohon kakao tidak boleh dipanjat dan buahnya tidak boleh sembarang ditarik. Reza mengungkapkan bahwa jika buah bisa dijangkau dengan tangan pun tidak boleh langsung ditarik dari buahnya, melainkan harus menggunakan benda tajam seperti pisau atau gunting, sebab ketika ditarik atau diputar dari pohonnya, maka buah kakao tidak bisa tumbuh lagi di tempat yang sama. Proses pascapanen pun memakan waktu lama, mulai dari fermentasi selama 5-6 hari hingga penjemuran untuk mencapai kadar air 6-8 persen agar biji benar-benar kering sebelum dikirim ke pabrik untuk diolah menjadi cokelat.
Tahapan produksi berlanjut pada proses penggilingan hingga menghasilkan pasta dan bubuk cokelat. Reza menuturkan bahwa dari pasta kakao itu akan diperas lagi atau di-pressing untuk mendapatkan murni mentega atau lemak kakaonya, di mana ampasnya atau sisa pressing yang ditumbuk hingga menjadi bubuk inilah yang baru disebut sebagai bubuk kakao atau cokelat.
Keunikan lain di museum ini adalah koleksi peranti minum perak murni milik bangsawan Eropa yang berfungsi ganda, di mana penggunaan perak murni ini sekaligus sebagai pendeteksi adanya racun, karena ketika ada yang salah dalam makanan atau minuman, maka warnanya akan langsung berubah menjadi warna kehitaman.
Kini, Museum Chocolate Kingdom memantapkan posisinya sebagai titik rujukan utama pembelajaran sejarah cokelat di Indonesia. Selain tur museum, masyarakat yang telah melakukan reservasi dapat menikmati pengalaman menyeluruh melalui factory tour, Chocolate Experience untuk membuat cokelat sendiri, hingga Tasting Experience untuk mencicipi berbagai bahan baku cokelat.
Kehadiran wajah baru ini diharapkan mampu menempatkan Yogyakarta sebagai pusat literasi cokelat yang menghubungkan tradisi dunia dengan potensi lokal.