SURYA.CO.ID, SURABAYA – Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jawa Timur (Jatm) resmi mulai menguji coba kebijakan pembatasan penggunaan gadget di SMA, SMK dan SLB pada pekan pertama April 2026.
Kebijakan ini bertujuan menciptakan proses belajar yang lebih aman, sehat dan berfokus pada penguatan karakter siswa.
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, mengatakan aturan ini merupakan tindak lanjut dari Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri terkait pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial di dunia pendidikan.
“Pemanfaatan gadget dalam pembelajaran memiliki potensi besar untuk mendukung efektivitas dan inovasi. Namun, perlu diatur agar penggunaannya tetap aman dan tidak berdampak negatif bagi murid,” ujar Aries, Senin (30/3/2026).
Baca juga: Gubernur Jatim Khofifah Kawal PP Tunas: Anak Bawah 16 Tahun Dibatasi Main Medsos
Dalam aturan tersebut, siswa hanya boleh menggunakan gadget untuk kepentingan pembelajaran yang terencana dan dengan pengawasan guru.
Selama kegiatan belajar mengajar (KBM), siswa tidak diperkenankan menggunakan gadget secara bebas, termasuk untuk hiburan.
“Handphone yang dibawa ke sekolah wajib dalam kondisi senyap (silent) dan disimpan di tempat yang telah ditentukan, kecuali digunakan atas instruksi guru,” lanjutnya.
Penggunaan perangkat hanya diperbolehkan untuk kegiatan edukatif seperti:
Sekolah juga diminta menyusun aturan internal atau SOP sesuai kebutuhan masing-masing.
Selain itu, Dindik Jatim mendorong penguatan aktivitas non-digital untuk meningkatkan interaksi sosial serta kesehatan fisik dan mental siswa.
Dindik Jatim menegaskan larangan penggunaan gadget untuk:
“Bagi pelanggaran, sekolah akan menerapkan sanksi bertahap mulai dari teguran lisan, penyitaan sementara, hingga pemanggilan orang tua. Untuk pelanggaran berat, akan dilakukan penanganan khusus sesuai aturan yang berlaku,” tegasnya.
Kebijakan ini juga melibatkan orang tua dalam pengawasan penggunaan gadget siswa.
“Evaluasi pelaksanaan uji coba akan dilakukan oleh masing-masing sekolah sebelum kebijakan diterapkan secara menyeluruh di seluruh satuan pendidikan di Jawa Timur,” tambah Aries.
Dindik Jatim berharap kebijakan ini dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif serta mendorong penggunaan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.