TRIBUNNEWSMAKER.COM - Iran menanggapi aksi demonstrasi besar di Amerika Serikat dengan nada sindiran terhadap Presiden Donald Trump.
Aksi unjuk rasa bertajuk No Kings protest tersebut disebut diikuti sekitar 8 juta warga dan menjadi sorotan internasional.
Dari sudut pandang Iran, gelombang protes ini dianggap sebagai bukti adanya ketidakpuasan publik terhadap kepemimpinan di AS.
Menariknya, aksi No Kings kali ini disebut lebih besar dibandingkan gelombang demonstrasi serupa pada Oktober 2025 lalu.
Jumlah peserta yang mencapai jutaan orang bahkan disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah unjuk rasa di Amerika Serikat.
Momentum ini kemudian dimanfaatkan Iran untuk kembali mengangkat pernyataan mendiang pemimpinnya, Ali Khamenei.
Pernyataan tersebut diunggah ulang melalui akun resmi di platform X pada Sabtu (28/3/2026), bertepatan dengan berlangsungnya aksi No Kings jilid kedua.
Dalam pernyataan sebelumnya, Khamenei sempat menyoroti sikap pemerintah AS yang dinilai terlalu sering mencampuri urusan negara lain.
Ia juga menyinggung bahwa pemerintah AS justru menghadapi persoalan domestik yang belum terselesaikan.
Baca juga: Langkah Nekat Donald Trump, Kini Incar Uranium Iran, Siap Lakukan Operasi Militer Besar-besaran
“Saat ini, orang-orang di seluruh negara bagian AS meneriakkan slogan-slogan menentangnya [Trump]. Jika Anda memang mampu, selesaikan masalah mereka! Anda mencampuri urusan negara lain; Anda membangun pangkalan militer…!” tulis Khamenei pada 20 Oktober 2025 lalu saat aksi No Kings jilid satu berlangsung.
Pernyataan tersebut kembali menjadi perbincangan karena dinilai relevan dengan situasi demonstrasi terbaru.
Melalui narasi tersebut, Iran seolah ingin menegaskan kritiknya terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat di tengah gejolak internal yang sedang terjadi.
Selain mengunggah ulang muatan Khamenei, Presiden Iran Massoud Pazeshkian memaklumi kemarahan warga AS dalam unjuk rasa No Kings kali ini.
Pasalnya saat ini AS justru berperan sebagai pelindung Israel dibanding pelindung rakyat AS itu sendiri dalam perang melawan Iran.
Saat ini kata Pazeshkian, AS telah dikuasai oleh raja-raja Israel yang memerintah negara yang mengklaim sebagai negara demokrasi itu.
“Para ahli AI di Amerika Serikat harus membuat Presiden Trump menyadari kenyataan bahwa orang-orang di negaranya ikut serta dalam protes "No Kings". Rakyat Amerika marah dengan kebijakan "Israel First",”
“Mereka lelah dengan raja-raja Israel yang memerintah demokrasi Amerika,” tulis Pazeshkian.
Diketahui Presiden Amerika Serikat (AS) didemo jutaan masyarakatnya pada Sabtu (28/3/2026) waktu setempat.
Unjuk rasa di AS yang menolak kepemimpinan Donald Trump itu berlangsung serempak di sejumlah negara bagian AS.
Di Washington misalnya, terlihat puluhan ribu orang memenuhi Washington Park di pusat kota.
Baca juga: Trump Berambisi Ambil Alih Pulau Kharg dari Iran, Yakin Bisa Merebut Jantung Ekspor Minyak: Mudah!
Mereka menolak invasi AS ke Iran yang telah dilakukan Donald Trump.
Pengunjuk rasa menyebut bahwa Tidak Ada Raja di Washington Park.
Selain mengutuk serangan Donald Trump ke Iran, unjuk rasa juga menolak operasi imigran besar-besaran yang telah dilakukan pemerintahan Donald Trump.
Senator Bernie Sanders pun mengaku bangga dengan unjuk rasa jutaan masyarakat AS di Washington Park tersebut.
Sebab menurutnya, AS tidak akan pernah dan mau terjebak dalam sistem otoritarianisme yang sedang diciptakan Donald Trump.
"Saya bangga bergabung dengan warga Amerika di seluruh negeri hari ini untuk mengatakan dengan lantang dan jelas: Kami tidak akan menerima otoritarianisme,"
"Kami juga tidak akan menerima oligarki. Dan kami tidak akan menerima presiden yang merusak Konstitusi setiap hari," tulis senator dari jalur independen itu di X.
Di jalanan seperti dimuat Al Jazeera, pengunjuk rasa juga mendesak agar Donald Trump segera dimakzulkan.
Aksi demonstrasi bertema No Kings ini menjadi yang terbesar dalam sejarah Amerika Serikat selama menjadi salah satu negara demokrasi tertua di dunia.
(Tribunnewsmaker.com/ Wartakotalive)