TRIBUNGORONTALO.COM -- Selama ini, Diabetes melitus dikenal luas sebagai kondisi yang memengaruhi kadar gula darah dan menimbulkan komplikasi serius seperti penyakit jantung, kerusakan ginjal, hingga gangguan saraf.
Namun, penelitian terbaru mengungkap fakta baru: pengaruh diabetes tidak hanya berhenti pada organ-organ tersebut.
Ternyata, penyakit ini juga berpotensi mengganggu kesehatan kantung empedu, organ kecil yang sering terlupakan.
Sebuah studi yang diterbitkan oleh Peneliti Fakultas Kedokteran UNG melalui Medic Nutricia: Jurnal Ilmu Kesehatan (2025) menemukan hubungan yang signifikan antara riwayat diabetes melitus dan munculnya Kolelitiasis di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe.
Hasil ini menegaskan bahwa gangguan metabolik seperti diabetes tidak hanya memengaruhi gula darah, tapi juga dapat memicu pembentukan batu empedu.
Baca juga: UNG Buka Peluang Emas untuk Calon Mahasiswa melalui UTBK-SNBT 2026
Kolelitiasis adalah kondisi munculnya batu dalam kantung empedu akibat penumpukan kolesterol atau pigmen empedu. Di seluruh dunia, diperkirakan sekitar 11,7 % populasi mengalami kondisi ini.
Masalahnya, banyak kasus yang tidak menimbulkan gejala sama sekali.
Sekitar 50–75 % pasien bahkan tidak menyadari keberadaan batu hingga komplikasi serius muncul, seperti peradangan kantung empedu (kolesistitis) atau pankreatitis.
Data RSUD Aloei Saboe menunjukkan bahwa dari 91 pasien yang diteliti sepanjang 2024, sebanyak 45 orang (49,5 % ) dicurigai mengalami kolelitiasis.
Angka ini menandakan hampir separuh pasien dengan keluhan empedu berpotensi memiliki batu sesuatu yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Baca juga: Halal Bihalal UNG: Rektor Tegaskan Refleksi Pasca-Ramadan dan Perkuat Sinergi Kampus
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolelitiasis cenderung lebih sering terjadi pada perempuan (72,5 % ) dan individu berusia 45–59 tahun (37,4 % ).
Secara medis, perempuan memiliki risiko lebih tinggi karena hormon estrogen berperan dalam meningkatkan kadar kolesterol dalam empedu.
Di sisi lain, kelompok usia paruh baya hingga lanjut mengalami perubahan metabolisme lemak dan penurunan kemampuan kantung empedu untuk berkontraksi.
Meski begitu, faktor yang paling menonjol adalah diabetes melitus.
Baca juga: Rektor UNG Eduart Wolok Bakal Salat ID di Masjid Kampus, Lanjut Open House Bersama Sivitas Akademika
Dari 25 pasien yang memiliki riwayat diabetes, 18 orang di antaranya terdiagnosis kolelitiasis.
Analisis statistik menunjukkan nilai p = 0,008 (p < 0>
Bahkan, nilai Odds Ratio (OR) sebesar 2,799 menunjukkan bahwa pasien diabetes memiliki risiko hampir tiga kali lipat mengalami batu empedu dibandingkan mereka yang tidak menderita diabetes.
Baca juga: Festival Tumbilotohe UNG 2026, Mahasiswa Teknik Bawakan Lagu Hulondalo Lipu’u
Secara biologis, terdapat beberapa mekanisme yang menjelaskan hubungan tersebut:
- Resistensi insulin meningkatkan sekresi kolesterol ke dalam empedu
- Hiperglikemia kronis mengganggu kontraksi kantung empedu, sehingga empedu tidak dikeluarkan secara optimal
- Komposisi empedu menjadi lebih “litogenik” atau mudah membentuk batu
Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan kondisi ideal bagi terbentuknya batu kolesterol, yang diketahui menyumbang sekitar 90 % kasus kolelitiasis.
Baca juga: Wakil Rektor II Universitas Negeri Gorontalo Buka Festival Tumbilotohe 2026 di Kampus IV UNG
Temuan ini menjadi semakin relevan mengingat meningkatnya prevalensi diabetes di Indonesia, yang dipicu oleh perubahan gaya hidup, pola makan tinggi lemak, serta kurangnya aktivitas fisik.
Jika diabetes meningkatkan risiko batu empedu hingga hampir tiga kali lipat, maka pendekatan pengelolaannya perlu diperluas.
Pengendalian diabetes tidak cukup hanya berfokus pada kadar gula darah. Pendekatan yang lebih komprehensif perlu dilakukan, antara lain:
- Mengontrol gula darah secara optimal
- Memantau profil lipid secara berkala
- Mengadopsi pola makan rendah lemak jenuh
- Meningkatkan aktivitas fisik
- Melakukan pemeriksaan ultrasonografi pada pasien berisiko tinggi
Dengan demikian, pencegahan batu empedu dapat menjadi bagian integral dari manajemen diabetes.
Baca juga: Rektor UNG Eduart Wolok Berbagi Makanan untuk Mahasiswa Gorontalo
Penelitian ini memang memiliki beberapa keterbatasan karena menggunakan desain potong lintang berbasis data rekam medis, sehingga belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Beberapa variabel penting, seperti lama menderita diabetes, kontrol gula darah, dan kadar lipid, juga belum dianalisis secara mendalam.
Meski demikian, hasil temuan memberikan indikasi kuat bahwa gangguan metabolik dan masalah pada sistem hepatobilier saling terkait.
Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan metode prospektif sangat dibutuhkan untuk memperdalam pemahaman sekaligus merancang strategi pencegahan yang lebih efektif.
Baca juga: UNG Resmi Buka Spesialis Anestesiologi, Rektor: Solusi Kelangkaan Medis di Timur Indonesia
Batu empedu sering muncul tanpa gejala, sementara diabetes dikenal sebagai “silent killer”.
Ketika kedua kondisi ini terjadi bersamaan, risiko kesehatan menjadi jauh lebih tinggi.
Pesan ilmiahnya jelas: pengendalian diabetes tidak hanya bertujuan mencegah komplikasi klasik seperti stroke atau gagal ginjal, tetapi juga untuk menekan kemungkinan munculnya penyakit tersembunyi lainnya, termasuk batu empedu.
Di tengah meningkatnya kasus penyakit metabolik, pendekatan kesehatan tidak bisa dilakukan secara parsial.
Tubuh manusia berfungsi sebagai sistem yang saling terhubung, sehingga merawat satu bagian berarti melindungi keseluruhan. (***/UNG)