BPS Beltim Kerahkan 120 Petugas Ketuk Pintu Warga Mendata UMKM hingga Usaha Tak Kasat Mata
Hendra March 30, 2026 09:19 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Di balik dinding rumah warga di Kabupaten Belitung Timur, sering kali tersimpan aktivitas ekonomi yang luput dari pandangan mata.

Tidak ada papan nama toko, tidak ada etalase, namun ada perputaran uang dari transaksi yang mengalir setiap harinya.

Fenomena usaha tak kasat mata inilah yang kini menjadi salah satu target utama Badan Pusat Statistik (BPS) Belitung Timur, Senin (30/3/2026).

Mulai pertengahan tahun ini, tepatnya 15 Juni hingga akhir Agustus 2026, suasana di pemukiman dan desa-desa di tujuh kecamatan akan sedikit berbeda.

Sebanyak 120 lebih petugas sensus akan diterjunkan secara door-to-door untuk melakukan pendataan besar-besaran dalam tajuk Sensus Ekonomi 2026.

Momen ini merupakan agenda langka yang berlangsung 10 tahun sekali dan akan memotret wajah asli ekonomi di Belitung Timur.

Plh. Kepala BPS Belitung Timur, Syahroni, mengatakan bahwa kali ini petugas tidak hanya akan menyisir pasar atau deretan ruko yang terlihat jelas secara fisik.

"Seluruh usaha, mulai dari usaha perorangan, usaha mikro kecil, sampai usaha besar itu didata. Ini dilakukan door-to-door, identifikasi ke setiap rumah karena barangkali ada usaha-usaha yang dilakukan secara digital yang tidak kasat mata," ujar Syahroni.

Geliat ekonomi di Belitung Timur kini memang telah bergeser. Jika sebelumnya aktivitas ekonomi hanya terlihat di sektor pertambangan, kini dapur rumah tangga sudah mulai berinovasi berkat penjualan online.

Petugas sensus nantinya harus jeli melihat potensi ini, meski dari luar rumah hanya terlihat seperti hunian biasa.

Syahroni menjelaskan bahwa tanpa pendataan rumah ke rumah, pemerintah akan kehilangan data penting mengenai pelaku usaha mandiri yang bergerak di dunia maya.

"Sekarang usaha itu sudah bertransformasi, tidak hanya melalui usaha bentuk fisik, tapi juga usaha yang dilakukan melalui media digital. Jadi seluruhnya itu mau didata," ucapnya.

Tak bisa dipungkiri, bagi sebagian masyarakat, kedatangan petugas sensus mungkin sering dianggap sebagai beban. Namun, Syahroni menjelaskan data yang diberikan adalah bentuk kontribusi nyata warga dalam membantu pemerintah merancang kebijakan yang tepat sasaran.

Oleh karena itu, BPS berharap masyarakat tidak perlu merasa curiga saat didatangi petugas. Kejujuran mengenai omzet, jenis usaha, hingga kendala yang dihadapi tentunya dapat menjadi bantuan untuk mengetahui potensi ekonomi di daerah ini.

"Momen langka ini tolong benar-benar dimanfaatkan, tolong benar-benar dibantu, tolong benar-benar diberikan jawaban. Karena bentuk kontribusi nyata kita bagi pemerintah ya itu tadi, dengan menerima kedatangan petugas dan memberikan data yang benar," ungkap Syahroni.

Proses door-to-door ini memang menantang karena petugas harus menyisir setiap sudut kecamatan. Namun, dengan total 120 lebih petugas yang direncanakan, BPS optimistis seluruh target rumah bisa terjangkau.

Syahroni berharap melalui Sensus Ekonomi, tidak ada lagi pelaku usaha digital yang merasa dipinggirkan. Semua aktivitas ekonomi akan dihitung sebagai bagian dari kekuatan ekonomi daerah.

Syahroni kembali menegaskan bahwa kesuksesan pendataan ini sangat bergantung pada keterbukaan masyarakat untuk menjawab setiap pertanyaan kuesioner apa adanya.

"Penting bagi Indonesia untuk melakukan pemetaan usaha agar terpetakan potensi ekonomi berdasarkan skalanya dan sektornya seperti apa," tutupnya.

 (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.