Lobi Udara di Balik Perang Iran: Komentator TV Amerika Berebut Pengaruhi Keputusan Trump
Budi Sam Law Malau March 31, 2026 12:35 AM

 

WARTAKOTALIVE.COM – Layar kaca di Amerika kini menjadi medan tempur kedua dalam perang antara AS dan Iran.

Sejumlah komentator konservatif di Amerika Serikat dilaporkan tengah melancarkan "lobi udara" melalui acara televisi untuk memengaruhi keputusan strategis Presiden Donald Trump.

Mulai dari desakan eskalasi militer hingga peringatan keras agar tidak terjebak dalam "perang tanpa akhir."

Di satu sisi, tokoh seperti Mark Levin dari Fox News mulai melunakkan medan dengan mendukung upaya militer yang lebih luas, seperti dilansir CNN, Senin (30/3/2026).

Melalui unggahan di Truth Social, Trump bahkan mengajak publik menonton acara Levin, yang secara terbuka menyarankan pengerahan pasukan khusus guna mengamankan cadangan uranium Iran.

Faksi Konservatif yang Terbelah

Namun, suara di lingkaran internal Partai Republik tidaklah seragam.

Veteran Korps Marinir Johnny “Joey” Jones justru memberikan peringatan langsung melalui kamera di program “The Big Weekend Show”.

Baca juga: Iran Tertawakan Donald Trump yang Didemo 8 Juta Rakyatnya

Pesannya singkat namun tajam: Jangan membangun negara (don’t nation build).

Jones mengingatkan Trump akan memori kelam Perang Irak dan mendesak agar tindakan militer, jika memang harus dilakukan, wajib berlangsung cepat tanpa pendudukan jangka panjang.

Komentator politik CNN, SE Cupp, menilai fenomena ini sebagai bentuk keputusasaan.

"Banyak politikus Republik tampil di TV untuk membujuk Trump agar tidak mengirim pasukan darat karena mereka tidak punya cara lain untuk didengar. Dia (Trump) lebih mendengarkan sosok seperti Laura Loomer dan Lindsey Graham," ungkap Cupp.

Tragedi Kemanusiaan: Ribuan Nyawa Melayang dalam 31 Hari

Di saat perdebatan strategi memanas di Washington, realita berdarah terus terjadi di lapangan.

Berdasarkan data yang dihimpun CNN selama 31 hari sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, ribuan nyawa telah melayang.

Di Iran, sedikitnya 1.900 orang dilaporkan tewas, termasuk ratusan anak-anak.

Serangan terbaru koalisi AS-Israel bahkan dilaporkan menghantam sebuah panti asuhan di barat Teheran.

Sementara itu, Lebanon mencatat 1.247 kematian akibat gempuran udara, dan 13 tentara AS dikonfirmasi gugur dalam satu bulan terakhir.

Konflik ini juga memakan korban dari pihak ketiga, termasuk seorang pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) asal Indonesia yang gugur di Lebanon Selatan pada Minggu (29/3/2026).

Dampak Global: Krisis Energi di Depan Mata

Ketegangan di Teluk Persia mulai mencekik ekonomi dunia.

Meskipun Pakistan mengumumkan Iran mengizinkan 20 kapal berbendera mereka melewati Selat Hormuz, aktivitas pelayaran global masih jauh di bawah level normal.

JPMorgan memperingatkan bahwa guncangan energi akibat perang ini mulai dirasakan di Asia dan akan segera bergerak ke Barat.

Di Amerika Serikat, harga bahan bakar gas rata-rata telah menyentuh angka $3,99 per galon, level tertinggi sejak 2022, membawa ancaman inflasi baru di tengah kecamuk perang yang tak kunjung mereda.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.