TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG — Kabar kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi per April 2026 mendadak berseliweran di media sosial.
Dalam infografis berlabel “CONFIDENTIAL” yang beredar, disebutkan harga jual eceran BBM nonsubsidi melonjak signifikan.
Pemicu yang ditulis: harga minyak dunia yang meroket dan nilai tukar rupiah yang melemah.
Data tersebut menyebut kurs rupiah turun 0,34 persen atau sekitar Rp 58 per dolar AS, dari Rp 16.819 menjadi Rp 16.877 per dolar AS.
Sementara itu, harga indeks pasar (HIP) diklaim naik tajam.
Gasoline RON 92, misalnya, disebut melonjak dari 73,91 USD per barel menjadi 120,060 USD per barel kenaikan lebih dari 60 persen.
Jika dikonversi, harga per liter naik dari Rp 7.818 menjadi Rp 12.744.
Kenaikan lebih tinggi terjadi pada Gasoil 2500 ppm yang disebut melonjak hingga lebih dari 90 persen, dari 87,23 USD per barel menjadi 166,31 USD per barel. Dalam rupiah, dari Rp 9.228 menjadi Rp 17.653 per liter.
Efeknya, seluruh BBM nonsubsidi dalam tabel itu ikut terdorong naik:
Pertamax: Rp 12.300 menjadi Rp 17.850 per liter
Pertamax Green 95: Rp 12.900 menjadi Rp 19.150 per liter
Pertamax Turbo: Rp 13.100 menjadi Rp 19.450 per liter
Pertamina Dex: Rp 14.500 menjadi Rp 23.950 per liter
Dexlite: Rp 14.200 menjadi Rp 23.650 per liter
Jenis solar nonsubsidi seperti Pertamina Dex dan Dexlite tercatat mengalami lonjakan paling tinggi nyaris menyentuh kenaikan Rp 10.000 per liter.
Pihak pertamina memastikan kabar tersebut belum bisa dipercaya.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, mengaku belum menerima arahan resmi terkait penyesuaian harga BBM nonsubsidi untuk April 2026.
“Saya belum dapat arahan,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Senin (30/3/2026).
Ia juga meragukan keabsahan data yang beredar luas di media sosial tersebut.
“Hoax, mungkin,” tambahnya singkat.
Hingga saat ini, belum ada pengumuman resmi dari Pertamina terkait perubahan harga BBM nonsubsidi. (Rad)