TRIBUNNEWS.COM - Perjalanan Timnas Indonesia era John Herdman di FIFA Series 2026 ditutup dengan kekalahan di tangan Bulgaria.
Timnas Indonesia kalah tipis 0-1 dari tim yang ada di peringkat 85 ranking FIFA itu, Senin (30/3/2026) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
Meskipun masih kurang beruntung pada pertandingan tersebut, Timnas Indonesia tetap patut berbangga diri.
Bisa dibilang justru timnas-lah yang mengendalikan jalannya pertandingan, terutama di babak kedua.
Barangkali sedikit yang mengira Timnas Indonesia akan sanggup mengurung dan memaksa Bulgaria tampil bertahan total.
Hampir sepanjang 45 menit kedua Indonesia selalu dominan dalam menguasai bola.
Baca juga: Calvin Verdonk Terpukau dengan Aksi Dony Tri di Timnas Indonesia: Saya Berharap Dia Main di Eropa
Sayangnya memang Garuda masih belum menemukan celah di pertahanan lawan.
Selain itu mereka juga belum bisa berimajinasi lebih lagi untuk membongkar pertahanan gerendel di laga itu.
Di tengah beberapa kekurangan tersebut, rasanya wajar hal-hal semacam itu masih terjadi di skuad sekarang.
Herdman baru menangani timnas secara resmi di dua pertandingan saja.
Itupun ia belum bisa memanggil beberapa pemain yang biasanya masuk kerangka timnas.
Nama-nama seperti Thom Haye hingga Marselino Ferdinan masih menghilang dari skuad.
Kebetulan juga dua pemain itu yang biasanya menjadi tumpuan kreativitas tim.
Menghilangnya kedua nama tersebut agak membuat permainan timnas di sektor tengah menjadi kurang menggigit.
Pada saat yang sama, Herdman tak mau menyerah dengan keadaan.
Ia terus mengutak-atik komposisi timnas arahannya untuk menjadi lebih versatile atau fleksibel.
Para pemain seperti didorong keluar dari zona nyaman dan aman mereka dengan bermain di luar posisinya.
Contoh paling mudah untuk diamati di dua pertandingan awal Herdman bersama timnas adalah soal penempatan posisi Calvin Verdonk.
Verdonk hampir menjelajah seluruh posisi di sektor tengah Garuda.
Mulai dari sayap kanan, sayap kiri, hingga gelandang tengah pun dijalani pemain yang merumput di Liga Prancis ini.
Dalam waktu singkat, Herdman ingin memberikan kesan soal wajah baru timnas di bawah asuhannya.
Para pemain Garuda tak boleh alergi bermain dengan ball possession atau penguasaan bola yang lama.
Selain itu, para pemain juga harus fleksibel dalam menentukan menyerang ruang di belakang bek atau maju secara kolektif untuk memanfaatkan umpan silang.
Pertandingan melawan Bulgaria bisa menjadi pelajaran berharga.
Sewaktu beberapa pemain pengganti dimasukkan, seperti Dony Tri Pamungkas dan Beckham Putra, permainan Garuda menjadi lebih variatif.
Dony berani melakukan take-ons di sisi kiri yang bisa memecah padatnya lini belakang lawan.
Sedangkan pergerakan Beckham yang menyerang ruang di belakang bek lawan sempat memberikan huru-hara baru.
Kemampuan bervariasi dalam serangan juga menjadi tekanan penting bagi para pemain timnas ke depan.
Mereka bakal menghadapi lawan yang seperti Bulgaria ini, bertahan total dengan 10 pemain outfield mereka.
Memegang kendali permainan dalam sistem terbuka bakal membutuhkan kreativitas tinggi.
Herdman tak membatasi pemainnya untuk mengambil risiko, tetapi ia juga menekankan pentingnya sebuah presisi.
Setidaknya Indonesia menunjukkan diri soal kualitas diri saat ini.
Timnas Indonesia siap berbicara lebih banyak di kancah internasional bersama Herdman.
(Tribunnews.com/Guruh)