Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita
TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI - Bupati Jayapura Yunus Wonda memberi peringatan keras kepada pemilik hak ulayat agar berhenti menjual tanah yang berada di areal kawasan hutan sagu.
Langkah ini diambil guna memproteksi area konservasi sagu yang kian menipis akibat masifnya pembangunan pemukiman di Kabupaten Jayapura.
Yunus menegaskan selama masa kepemimpinanya bersama Wakil Bupati Haris Richard Yocku, pemerintah tidak akan menerbitkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) atau izin pembangunan apa pun di atas lahan produktif sagu.
"Saya tidak akan pernah izinkan, apalagi di area tanam sagu. Cukup beberapa tempat penanaman sagu yang hari ini hilang jadi perumahan. Jangan harap IMB keluar dari saya jika itu lahan sagu," tegasnya usai melakukan pencanagan penanaman 1.000 bibit pohon sagu di Kampung Ifale, Distrik Sentani, Senin (30/3/2026).
Baca juga: Berangkat dari Dapur Kecil di Tanah Rantau, Astia Mulyawati Angkat Sagu Papua Jadi Camilan Modern
Bupati Yunus menyamakan kebijakan proteksi lahan sagu ini dengan pembatasan ritel modern (minimarket) di Jayapura yang bertujuan melindungi ekonomi lokal.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak melepas lahan sagu, mengingat posisi Kabupaten Jayapura sebagai salah satu daerah dengan populasi tanaman sagu terbesar di Papua.
"Masa kita nanti minta sagu ke Timika atau Kaimana? Sagu paling besar ada di sini, jadi jangan dilepas. Sagu adalah sumber pangan generasi Papua yang bisa diolah secara tradisional tanpa ketergantungan pada energi listrik atau bahan bakar, berbeda dengan beras," jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati memberikan apresiasi kepada GKI Klasis Sentani yang memulai gerakan penanaman 1.000 bibit pohon sagu.
Menurutnya, kesadaran menjaga lingkungan harus dimulai dari lembaga keagamaan dan masyarakat, bukan sekadar menunggu program pemerintah.
"Setiap ke kebun, bawa satu bibit lalu tanam. Ini persoalan kesadaran, dan hari ini dimulai dari gereja. Saya harap gereja-gereja lain melakukan hal yang sama," imbuhnya.
Gerakan 1.000 Bibit Sagu di Kampung Ifale
Sementara itu, Ketua Klasis GKI Sentani, Pendeta Albert Suebu, menjelaskan bahwa pencanangan penanaman 1.000 bibit pohon sagu ini sejalan dengan tema "Tahun Kepedulian" yang diusung Badan Pekerja Sinode.
Baca juga: Colo Sagu Jadi Ruang Cerita Sejarah Kota Jayapura
Gerakan ini dimulai dari Kampung Ifale, di mana seluruh Persekutuan Kaum Bapak (PKB) di Sentani terlibat menanam bibit sepanjang tiga kilometer ke arah Danau Sentani.
Aksi ini mendapat dukungan penuh dari pihak adat melalui Ondofolo Ifale yang telah menghibahkan tanah seluas 500 hektar untuk gerakan tersebut.
"Sagu adalah lumbung pangan dunia. Ia mampu bertahan dalam segala cuaca tanpa pupuk dan berfungsi sebagai area resapan air. Kami berharap masyarakat di 19 distrik dan 139 kampung di Kabupaten Jayapura ikut terlibat," ujar Pendeta Albert Suebu.
Ia juga menambahkan bahwa penebangan pohon sagu di pinggiran danau selama ini turut berkontribusi pada naiknya permukaan air danau, sehingga penanaman kembali menjadi langkah krusial untuk menjaga ekosistem Danau Sentani. (*)