TRIBUNNEWS.COM – Maskapai berbiaya hemat AirAsia menyatakan bahwa kenaikan harga tiket pesawat adalah hal yang tidak terhindarkan di tengah konflik Timur Tengah dan krisis minyak global yang saat ini tengah terjadi.
Meski demikian, pihak maskapai tetap merasa percaya diri terhadap pemenuhan permintaan perjalanan di seluruh jaringannya
Pihak maskapai yang bermarkas di Malaysia ini bahkan berani mempertahankan tarif yang terjangkau semaksimal mungkin.
Jaminan untuk mempertahankan ongkos tiket pesawat ini disampaikan langsung oleh Tony Fernandes selaku Chief Executive Capital A sekaligus pendiri maskapai AirAsia.
Melalui konferensi pers pada Senin awal pekan ini (30/3/2026), Tony menyampaikan bahwa selama dua dekade terakhir AirAsia telah melewati banyak pasang surut.
Melansir dari The Star, Tony menyebut, pandemi Covid-19 sejauh ini merupakan masa yang paling buruk karena seluruh armada pesawat terpaksa harus dihentikan operasionalnya di darat.
Terkait konflik di Timur Tengah yang telah memicu krisis minyak global, Tony menegaskan bahwa AirAsia masih dapat mengoperasikan penerbangan untuk memenuhi permintaan perjalanan yang tetap kuat.
Alih-alih mengalami penurunan pemesanan tiket, Tony justru mengklaim bahwa permintaan perjalanan saat ini justru mengalami peningkatan.
Menurut Tony, hal ini dikarenakan banyak penumpang yang memilih untuk tetap berada di dalam kawasan regional dan menahan diri untuk terbang menuju Eropa atau Amerika Serikat.
Menurutnya, Adapun penerbangan di kawasan regional Asia Tenggara merupakan rute spesialisasi dari maskapai yang berdiri sejak tahun 1993 tersebut.
Tony justru menyoroti penurunan kapasitas kursi global, yang sebagian besar disebabkan oleh gangguan operasional di antara maskapai-maskapai Teluk yang menyumbang 15 hingga 20 persen dari total kapasitas maskapai.
Baca juga: Daftar Maskapai di Asia yang Akan Naikkan Tarif Tiket Pesawat
Menurutnya, hal ini dinilai turut mendorong tingginya permintaan bagi AirAsia.
Mengenai kondisi sektor penerbangan secara keseluruhan, Fernandes mengakui adanya tekanan pada harga tiket akibat situasi konflik tersebut.
Ia menyatakan bahwa untuk sektor penerbangan secara keseluruhan, tarif angkutan udara pasti akan melonjak di tengah konflik.
Namun demikian, Tony menjamin AirAsia akan mencoba yang terbaik untuk mempertahankan tarif yang terjangkau bagi penumpang.
Ia menambahkan, perusahaan tetap merasa yakin untuk bangkit lebih kuat dari krisis ini, karena pihak manajemen memanfaatkan periode ini untuk meningkatkan efisiensi.
Saat ini, harga minyak dilaporkan akan memiliki sedikit atau bahkan tidak ada dampak langsung terhadap bisnis non-penerbangan lainnya yang berada di bawah naungan Capital A.
Sebelumnya, Capital A telah menunjuk Effendy Shahul Hamid sebagai Deputy Chief Executive baru saat perusahaan memasuki fase pertumbuhan baru, menyusul penjualan bisnis penerbangannya ke AirAsia X Berhad.
Saat ini Capital A mengoperasikan lima cabang bisnis, yakni Asia Digital Engineering (ADE) untuk pemeliharaan, perbaikan, dan pemeriksaan; Teleport untuk logistik; AirAsia MOVE untuk platform mobilitas dan perjalanan; AirAsia Next untuk merek dan kekayaan intelektual; serta Santan untuk bisnis makanan dan minuman.
Unit bisnis ADE saat ini sedang memperluas empat lini pemeliharaan baru di Kuala Lumpur dan merencanakan pembangunan hanggar baru di Thailand, Bahrain, serta Filipina pada paruh kedua tahun ini.
Baca juga: Tiket Pesawat Mahal, DPR Soroti Dugaan Monopoli Penerbangan di Kawasan Timur Indonesia
Sementara itu, unit logistik Teleport mendapatkan keuntungan dari meningkatnya permintaan e-commerce dan berkurangnya kapasitas kargo global di antara maskapai-maskapai Timur Tengah.
Perusahaan juga berencana untuk memperluas bisnis makanan dan minumannya melalui konsep grab-and-go dan format restoran kecil, dengan tujuan untuk mereplikasi kesuksesan McDonald’s dalam ruang lingkup ASEAN.
Selain itu, terdapat rencana untuk mencatatkan AirAsia Next di bursa saham Amerika Serikat pada akhir tahun ini, serta mengupayakan pencatatan ganda Capital A di Hong Kong pada Juli atau Agustus mendatang dengan tujuan merambah pasar Asia Utara.
(Tribunnews.com/Bobby)