BANGKAPOS.COM, BANGKA – Panas terik menyelimuti aktivitas di Pasar Pasir Putih Pangkalpinang, Selasa (31/3/2026). Di tengah suhu yang menyengat, deretan lapak penjual ayam kampung tampak ramai didatangi pembeli yang datang silih berganti.
Ayam-ayam hidup terlihat memenuhi kandang di setiap lapak. Suara kokok ayam bercampur dengan riuh tawar-menawar, sementara pembeli terlihat berpindah dari satu penjual ke penjual lain untuk menanyakan harga dan memastikan kondisi ayam yang akan dibeli.
Menjelang perayaan Ceng Beng, harga ayam kampung mengalami lonjakan cukup tinggi. Pedagang di lokasi menyebutkan harga kini mencapai Rp100 ribu per kilogram, bahkan di beberapa tempat bisa menyentuh Rp120 ribu per kilogram.
“Biasanya cuma Rp60 ribu sampai Rp65 ribu per kilo, sekarang sudah Rp100 ribu,” ujar Tinar, pedagang ayam kampung di pasar tersebut.
Kenaikan harga ini mulai terasa sejak momen Lebaran dan terus berlanjut hingga mendekati Ceng Beng.
Dibandingkan tahun sebelumnya, lonjakan harga tahun ini juga dinilai lebih tinggi. Pada periode yang sama tahun lalu, harga ayam kampung masih berada di kisaran Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram.
Selain harga yang naik, ketersediaan ayam kampung juga mulai terbatas. Permintaan yang meningkat tidak diimbangi dengan pasokan yang cukup, sehingga pedagang harus menyesuaikan jumlah penjualan.
“Sekarang stok agak kurang, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Permintaan meningkat,” katanya.
Pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas jual beli berlangsung cukup intens. Dalam waktu singkat, pembeli terus berdatangan, baik secara individu maupun berkelompok. Bahkan, terlihat satu kelompok yang terdiri dari tiga orang membeli hingga 10 ekor ayam sekaligus untuk kebutuhan mereka.
Pola pembelian dalam jumlah banyak ini menunjukkan tingginya kebutuhan ayam kampung menjelang Ceng Beng, yang identik dengan tradisi sembahyang dan ziarah keluarga.
Di sisi lain, pembeli cenderung memilih ayam yang sudah dipotong dan dibersihkan. Pedagang juga terlihat sibuk melayani permintaan tersebut, mulai dari menangkap ayam hidup hingga memotong dan membersihkannya di tempat.
“Biasanya langsung dipotong, bersih,” ujar Tinar.
Deretan lapak yang berjejer membuat suasana pasar tampak padat. Pembeli harus bergantian untuk dilayani, sementara beberapa lainnya terlihat menunggu sambil memperhatikan ayam yang tersedia di dalam kandang.
Meski cuaca panas, aktivitas pasar tetap berjalan ramai tanpa jeda. Kenaikan harga, keterbatasan stok serta meningkatnya permintaan menjadi gambaran kondisi penjualan ayam kampung menjelang puncak perayaan Ceng Beng.
Dalam beberapa hari kedepan, permintaan diperkirakan masih akan terus meningkat seiring mendekatnya hari pelaksanaan tradisi tersebut.
(Bangkapos.com/Rindu Venisa Valensia)