Sebanyak 627.261 siswa dinyatakan belum lolos SNBP 2026 dari total 806.242 pendaftar. Pada laman resmi pengumuman, peserta yang tidak lolos ditandai dengan tampilan berwarna merah.
Sebaliknya, hanya 20,09 persen peserta yang dinyatakan lolos di PTN akademik, atau 155.543 siswa dari total 774.263 pendaftar. Di PTN vokasi, 23.438 siswa lolos SNBP 2026 dari 77.256 pendaftar (30,34%). Peserta yang berhasil lolos akan melihat pengumuman dengan latar berwarna biru.
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB, Eduart Wolok, mengungkapkan ada sejumlah faktor penyebab yang membuat siswa eligible 1 pun bisa tak lolos SNBP 2026. Istilah "siswa eligible 1" adalah sebutan bagi siswa yang masuk kelompok peringkat teratas di sekolahnya lewat pemeringkatan siswa eligible.
Status tersebut menurut Eduart tidak otomatis menjamin kelulusan dalam SNBP karena seleksi tetap mempertimbangkan berbagai aspek lain secara nasional.
Faktor Komponen Seleksi
Eduart mengatakan, kriteria pemilihan siswa eligible di sekolah dan yang diterima PTN dapat berbeda. Siswa eligible dalam hal ini juga perlu memenuhi komponen seleksi selain nilai rapor, seperti mata pelajaran pendukung dan prestasi lain.
"Eligible 1 yang ditetapkan oleh sekolah itu kan akan berbeda kriteria yang ditetapkan oleh sekolah dengan kriteria penilaian di PTN. Kenapa? Biasa, satu, orientasinya nilai rapor," ucapnya pada Konferensi Pers Hasil Seleksi Jalur SNBP dan KIP Kuliah 2026 di kantor Kemdiktisaintek, Jl Pintu I Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (31/3/2026),
"Padahal, di proses penilaian SDBP nilai rapor itu adalah 50% dari komponen penilaian yang dilakukan. Kemudian ada hasil-hasil prestasi lainnya yang juga ada penilaiannya, berikut mata pelajaran pendukung terhadap prodi yang dipilih. Itu juga ada pembobotannya," imbuhnya.
Prestasi Perlu Signifikan
Ia mengingatkan, prestasi yang disertakan pada proses SNBP juga harus signifikan agar nilainya lebih tinggi.
"Terkadang dari pihak sekolah merasa 'Oh ini udah dimasukin sertifikat nih untuk prestasi.' Tetapi di kampus kan dilakukan validasi ulang. Oh ternyata ini kegiatannya, mohon maaf, terkadang ada kegiatan yang tidak terlalu signifikan. Nah itu biasanya bobotnya kan menjadi lebih rendah," jelasnya.
Diketahui, komponen seleksi pada SNBP 2026 terdiri dari nilai rapor seluruh mata pelajaran (bobot minimal 50%) dan komponen pendukung (bobot maksimal 50%). Komponen pendukung mencakup nilai rapor 2 mata pelajaran pendukung, portofolio, dan/atau prestasi. Nilai TKA digunakan sebagai validator nilai rapor.
"Sehingga kadang dengan kompilasi dua item ini, nilai rapor dan prestasi lainnya, ketika kita lakukan nilai total, bisa saja yang eligible 1 berdasarkan rapor di sekolah itu, pada pilihan prodi yang sama,bisa saja dia menjadi ranking di bawah, dibanding daripada yang eligible di bawahnya," imbuhnya.
Diketahui, keketatan masuk prodi pilihan pun bisa sangat tinggi di berbagai jurusan. Sebagai contoh, dari 2.022 pendaftar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB), sebanyak 95 siswa yang lolos seleksi jalur SNBP 2026.
Keketatan ini juga tampak di prodi favorit SNBP lainnya seperti S1 Pendidikan Dokter Universitas Indonesia (1.943 pendaftar, 60 diterima) dan S1 Kedokteran Universitas Gadjah Mada: 1.899 pendaftar, 53 diterima. Simak rincian lebih jauh di bawah ini.
Baca juga: 20 Prodi dengan Pendaftar Terbanyak di SNBP 2026, Ada Prodi Incaranmu?
Semoga bermanfaat dan tetap semangat mengikuti seleksi masuk selanjutnya, detikers!





