TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, menyampaikan duka mendalam atas gugurnya Praka Farizal Rhomadhon, prajurit TNI asal Kulon Progo yang bertugas di Lebanon, Senin (30/3/2026).
Meski menyadari sepenuhnya bahwa penugasan di daerah konflik membawa risiko besar, Ngarsa Dalem berharap agar peristiwa tragis ini jangan sampai terulang kembali.
"Yang namanya penugasan itu memang dari awal juga sudah disadari, pasti ada pengorbanan. Jadi, risiko-risiko itu ada," katanya, di Balai Kota Yogyakarta, Selasa (31/3/2026).
Sri Sultan menekankan, setiap prajurit yang dikirim ke daerah konflik sejatinya sudah dibekali pemahaman mengenai konsekuensi terburuk yang bisa terjadi.
Kendati demikian, secara kemanusiaan, hilangnya nyawa seorang prajurit ketika bertugas tetap menjadi luka bagi keluarga, maupun daerah asalnya.
"Yang namanya (tugas) di daerah konflik itu konsekuensinya akan jauh lebih mungkin ada korban, daripada tempat yang aman dan nyaman," ungkapnya.
Baca juga: Cerita Prajurit TNI yang Wafat di Lebanon: Tahun Lalu Lebaran Terakhir Praka Farizal di Kulon Progo
Lebih lanjut, Ngarsa Dalem memberi desakan tersirat agar pengamanan dan prosedur penugasan di masa depan dapat lebih meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa.
Dirinya berharap, dalam misi-misi berikutnya, jangan sampai ada lagi keluarga di DIY maupun di Indonesia yang harus menerima kabar duka serupa dari medan tugas.
"Harapan saya ini (insiden) yang terakhir, jangan ada korban lagi, kan gitu," pungkas Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut.
Sebagai informasi, Praka Farizal Rhomadhon merupakan anggota TNI yang tergabung dalam misi perdamaian PBB di Lebanon, di area sarat dinamika konflik bersenjata.
Berdasar kabar terkini, jenazah prajurit berusia 28 tahun ini rencananya akan dipulangkan ke rumah duka di Kulon Progo untuk dimakamkan secara militer. (*)