Gaduh Antivaksin Jadi 'Biang Kerok' Kasus Campak Ngegas Lagi, Inikah Kaitannya?
GH News March 31, 2026 08:08 PM
Jakarta -

Gerakan antivaksin belakangan dituding menjadi 'biang kerok' dari rendahnya capaian imunasi Indonesia. Salah satu dampaknya adalah kasus campak yang kembali meningkat.

Ketua Satgas Vaksinasi PAPDI Dr dr Sukamto Koesnoe, SpPD K-A.I FINASIM mengatakan benar adanya bahwa ada penurunan capaian imunisasi beberapa tahun terakhir, salah satunya di penyakit rubella atau Campak Jerman.

"Cakupan dosis pertama itu turun dari 92 persen di tahun 2025, menjadi 82 persen. Tadi WHO (menyarankan) 95 persen ya, kalau mau herd immunity itu 95 persen," kata dr Sukamto di Jakarta Pusat, Selasa (31/3/2026).

"Sementara dosis kedua lebih turun lagi, dari 82,3 persen menjadi 77,6 persen. Jadi angka ini masih jauh dari target WHO sebesar 95 persen," sambungnya.

Seberapa Pengaruh Golongan Antivaksin?

Menurut dr Soekamto para antivaksin ini sebenarnya jumlahnya tidak banyak, namun derasnya informasi di media sosial membuat banyak masyarakat yang mulai menjadi ragu untuk melakukan vaksinasi.

"Karena sangat viral, bisa di media sosial, dilihat oleh ribuan orang dan ini menjadikan orang itu bingung. Kalau bingung akhirnya dia meng-hold, kalau itu masih mending, kalau kemudian dia menjadi ikut, karena sebelumnya ragu-ragu," kata dr Sukamto.

Selain golongan antivaksin, dr Sukamto juga menyoroti faktor lain yakni mudahnya mobilisasi masyarakat di era modern dari satu titik ke titik lain.

"Kedua, ada sebab lain. Mobilisasi masyarakat yang tinggi membuatn lonjakan kasus. Misalnya, di daerah outbreak, Aceh, kan sekarang gampang banget ya, baik pesawat, darat, laut itu mudah sekali orang berpindah," kata dr Sukamto.

"Mengenai antivaksin, itu salah satunya yang menyebabkan cakupan itu turun," sambungnya.

dr Sukamto menambahkan, peran dokter saat ini sangat krusial untuk mengajak masyarakat untuk vaksinasi. Ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat.

"Kalau dokternya itu gencar, pandai menyampaikan manfaat vaksin, itu keberhasilan vaksinasi bisa mencapai 70 persen lebih. Itu kalau dokter dan pasiennya mau," katanya.

"Bahkan kalau pasiennya nggak mau, itu kalau dokternya mau, itu pasien bisa menjadi mau (vaksinasi)," tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.