Tradisi Per-peran di Sampang, Perayaan Perempuan Lajang Berubah Seiring Modernisasi
Dwi Prastika March 31, 2026 10:22 PM

TRIBUNMADURA.COM – Tradisi Per-peran yang menjadi warisan budaya masyarakat Desa Tanjung, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Madura, kini mulai mengalami perubahan seiring perkembangan zaman, Selasa (31/3/2026).

Tradisi yang dahulu sarat makna ini perlahan bergeser, baik dari segi pelaksanaan maupun pemahaman masyarakat terhadap nilai aslinya.

Per-peran dikenal sebagai tradisi tahunan yang digelar setelah Hari Raya Idulfitri, tepatnya saat Lebaran Ketupat.

Tradisi ini erat kaitannya dengan perayaan panen raya yang dilakukan masyarakat setempat.

Dalam pelaksanaannya, Per-peran identik dengan arak-arakan warga yang belum menikah, khususnya perempuan, menggunakan kereta kuda atau delman.

Dilansir dari TribunMadura.com, seorang warga Desa Tanjung, Faridi, mengungkapkan, saat ini tidak banyak masyarakat yang memahami makna sebenarnya dari tradisi Per-peran.

Ia menilai kondisi tersebut terjadi karena para sesepuh yang dahulu menjadi penjaga nilai-nilai tradisi telah banyak yang meninggal dunia.

Baca juga: Tradisi Ojung Sumenep, Ritual Saling Cambuk Sarat Makna dan Doa Keselamatan

Menurut Faridi, Per-peran dulunya merupakan bentuk syukur masyarakat atas hasil panen yang bertepatan dengan momen Idulfitri.

Karena itu, tradisi tersebut selalu dilaksanakan setelah Lebaran atau saat Lebaran Ketupat.

Ia juga menjelaskan, peserta Per-peran biasanya adalah warga yang belum berkeluarga, dengan mayoritas diikuti oleh kaum perempuan.

Mereka akan menaiki delman dan berkeliling dari Jalan Raya Desa Bandaran menuju Desa Tanjung yang berbatasan dengan Kabupaten Pamekasan, lalu kembali ke titik awal.

Lebih lanjut, Faridi menyebutkan, istilah Per-peran berasal dari kata “per” dalam Bahasa Madura, yang merujuk pada komponen pegas pada delman yang berfungsi meredam guncangan.

Hal ini menggambarkan eratnya hubungan antara tradisi tersebut dengan penggunaan kereta kuda sebagai sarana utama.

Namun, seiring perkembangan teknologi, pelaksanaan Per-peran kini mengalami perubahan signifikan.

Hiburan Tambahan

Jika dahulu setiap keluarga menyewa delman untuk mengikuti tradisi tersebut, kini banyak peserta yang menggunakan sepeda motor hingga kendaraan odong-odong.

Baca juga: 5 Fakta Menarik Rokat Tase, Tradisi Syukuran Laut di Madura

Selain itu, muncul pula berbagai kegiatan tambahan seperti hiburan musik dan tari-tarian dengan menggunakan sound system.

Meski demikian, Faridi menegaskan, unsur tersebut bukan bagian dari tradisi asli Per-peran, melainkan hanya bentuk hiburan tambahan yang berkembang di masyarakat.

Ia menambahkan, sebagai generasi muda, dirinya bersama warga lainnya terus berupaya mengembalikan esensi asli tradisi Per-peran agar tidak semakin tergerus oleh modernisasi.

Dengan berbagai perubahan yang terjadi, tradisi Per-peran kini berada di persimpangan antara pelestarian budaya dan arus modernisasi.

Upaya menjaga nilai-nilai tradisi menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Desa Tanjung agar warisan leluhur ini tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.