Laporan Wartawan Tribunpalu.com, Ismet
TRIBUNPALU.COM, MOROWALI - Perjalanan politik Herdianto Marzuki bukan sekadar cerita tiga periode di kursi legislatif.
Lebih dari itu, kisahnya adalah potret jatuh bangun, ketidakpastian, hingga momentum tak terduga yang mengantarkannya ke pucuk pimpinan DPRD Kabupaten Morowali.
Dalam podcastnya bersama Tribunpalu.com menceritakan.
Karier politiknya dimulai dengan kenyataan yang tidak mudah.
Pada Pemilu 2014, Herdianto belum berhasil meraih kursi.
Ia hanya berada di posisi kedua di internal Partai Nasdem di daerah pemilihannya, sementara partainya saat itu hanya memperoleh satu kursi.
“Waktu itu saya tidak lolos karena kuota kursi terbatas. Saya peringkat kedua di partai,” kenangnya.
Namun dinamika politik membuka jalan lain.
Pemekaran wilayah yang melahirkan Kabupaten Morowali Utara menjadi titik balik penting.
Baca juga: Ketua DPRD Morowali Ajak Masyarakat Jaga Kondusivitas, Tekankan DPRD adalah Wakil Rakyat
Pembagian kursi DPRD dari 30 menjadi masing-masing 25 kursi untuk Morowali dan Morowali Utara menciptakan kekosongan kursi yang harus diisi.
Melalui mekanisme tersebut, Herdianto masuk sebagai salah satu dari sepuluh anggota tambahan, bahkan berada di peringkat pertama.
Ia resmi dilantik pada Desember 2014, empat bulan setelah pelantikan anggota DPRD lainnya.
Masuk dari jalur tambahan tidak membuatnya berhenti berkembang.
Ia memulai dari anggota Komisi I, lalu perlahan menunjukkan kapasitasnya.
Di pertengahan periode pertama, ia dipercaya menjadi Ketua Komisi I.
Pada periode kedua, posisinya semakin kuat.
Ia berhasil meraih suara terbanyak di Kabupaten Morowali.
Baca juga: Perjalanan Ketua DPRD Morowali Herdianto Marzuki: Dari Perantau hingga Tiga Periode Mengabdi
Meski demikian, kepercayaan untuk menduduki kursi pimpinan DPRD belum diberikan oleh partai.
“Walaupun suara terbanyak, partai punya pertimbangan sendiri,” ujarnya.
Di periode tersebut, ia menjabat sebagai Ketua Komisi III.
Perjalanan paling dramatis justru terjadi pada periode ketiga.
Di daerah pemilihan Bahodopi, persaingan berlangsung sangat ketat.
Herdianto hampir tidak lolos, berada di posisi terakhir dari tiga kursi yang diraih Partai NasDem.
Ketidakpastian semakin panjang ketika hasil pemilu digugat hingga ke Mahkamah Konstitusi.
Selama beberapa bulan, status kelolosannya belum final.
Baca juga: Halal Bihalal TP-PKK Sulteng, Anwar Hafid Tekankan Konsep 4K
“Teman-teman sudah pasti sejak Maret, saya baru tahu tanggal 21 Mei setelah putusan Mahkamah Konstitusi keluar,” ungkapnya.
Setelah gugatan ditolak, ia dipastikan lolos sebagai anggota DPRD untuk periode ketiga.
Namun, kejutan terbesar justru datang setelah itu.
Dari posisi yang nyaris tersingkir, Herdianto justru mendapat mandat partai untuk maju sebagai pimpinan DPRD.
Langkah yang hampir terhenti itu berubah menjadi loncatan besar mengantarkannya ke kursi Ketua DPRD Morowali.
“Dulu suara terbanyak tapi tidak jadi pimpinan, sekarang hampir tidak lolos tapi justru jadi ketua. Mungkin ini memang skenario Tuhan,” tuturnya.
Perjalanan tersebut, menurutnya, penuh dinamika mulai dari kegagalan, penantian panjang, hingga keberhasilan yang datang di waktu yang tidak terduga.
Di balik semua itu, Herdianto menegaskan bahwa tujuan utamanya tetap sederhana.
Menjadi sosok yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Yang penting bagaimana kita bisa hadir dan memberi manfaat,” pungkasnya.
Di tengah kerasnya dinamika politik, kisah Herdianto Marzuki menjadi pengingat bahwa jalan berliku tidak selalu berakhir pada kegagalan justru bisa menjadi jalan menuju puncak. (*)