SERAMBINEWS.COM, JAKARTA – Mantan personel United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), Muhtar Efendi, menilai bahwa serangan yang menewaskan prajurit TNI di Lebanon bukanlah insiden yang terjadi secara tidak sengaja.
Dalam keterangannya di program televisi pada Rabu (1/4/2026), Muhtar menyampaikan keyakinannya bahwa tindakan militer Israel tersebut sudah dilakukan dengan kesadaran penuh, bukan akibat salah sasaran.
Menurutnya, pola serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian, khususnya dari Indonesia, sudah terjadi berulang kali sejak 2009.
Ia mengingatkan bahwa kejadian serupa pernah dialami prajurit TNI bahkan sebelum dirinya bertugas di Lebanon pada 2010–2011.
Muhtar menjelaskan, dalam salah satu insiden sebelumnya, prajurit TNI sempat ditembaki hanya karena posisi mereka dianggap tidak netral.
Dalam tugas sebagai penjaga perdamaian, pasukan PBB diwajibkan menjaga posisi yang tidak memihak, termasuk arah hadap yang tidak condong ke salah satu pihak, baik ke Lebanon maupun Israel.
Ia juga menyinggung kejadian pada 2024, ketika markas pasukan Indonesia di wilayah Aadsyid al-Qusayr turut menjadi sasaran tembakan, yang mengakibatkan dua prajurit terluka.
Baca juga: 4 Tentara Israel Tewas dalam Penyergapan Hizbullah di Lebanon Selatan, 3 Lainnya Terluka
Serangan terbaru pada 29 Maret lalu menjadi yang paling fatal, karena menyebabkan gugurnya prajurit TNI yang tengah menjalankan misi perdamaian di wilayah konflik tersebut.
Lebih lanjut, Muhtar menilai keberadaan pasukan penjaga perdamaian PBB belum sepenuhnya dihormati oleh pihak Israel.
Ia menekankan bahwa United Nations seharusnya memiliki otoritas kuat untuk menekan semua pihak agar mematuhi aturan yang telah disepakati.
Selain itu, ia juga menyoroti aktivitas drone Israel yang disebut sering memasuki wilayah Lebanon, bahkan sejak dirinya bertugas di sana.
Ia menduga penggunaan drone tersebut tidak hanya untuk pengawasan umum, tetapi juga untuk memetakan posisi pasukan UNIFIL, termasuk kontingen dari Indonesia.
Berdasarkan pengalamannya, Muhtar meyakini bahwa lokasi pasukan penjaga perdamaian sudah diketahui secara rinci, sehingga kecil kemungkinan serangan terjadi karena kekeliruan.
“Kalau disebut salah sasaran, saya kira itu tidak tepat,” tegasnya yang dikutip dari Kompas.tv.
Ia pun kembali menegaskan pentingnya penghormatan terhadap misi perdamaian internasional, serta perlunya langkah tegas dari PBB untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
Baca juga: Netanyahu Tegaskan Israel Tetap Serang Lebanon Meski AS–Iran Capai Kesepakatan
3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon
Jumlah prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di bawah UNIFIL, bertambah menjadi tiga orang pada Senin (30/3/2026).
Menurut PBB, seorang prajurit TNI gugur dalam serangan artileri ke pangkalan UNIFIL di Ett Taibe, Lebanon selatan pada Minggu (29/3/2026).
Satu penjaga perdamaian lainnya kritis. Prajurit TNI yang gugur tersebut bernama Praka Farizal Rhomadhon.
Sehari kemudian, Senin, dua personel TNI lainnya gugur saat konvoi UNIFIL diserang.
"Pagi ini, dua penjaga perdamaian dari Indonesia gugur dalam sebuah ledakan yang menghantam konvoi logistik UNIFIL, menghancurkan kendaraan mereka, di dekat Bani Hayyan di Sektor Timur.
Dua penjaga perdamaian lainnya terluka, salah satunya serius," kata Wakil Sekjen PBB untuk Operasi Perdamaian Jean Pierre Lacroix di New York, Senin waktu setempat, dikutip dari siaran pers PBB.
Dia mengatakan sumber ledakan belum dapat dipastikan.
Sementara dilansir Times of Israel, militer Israel mengaku sedang menyelidiki insiden pada Minggu yang membunuh satu anggota TNI.
Serangan terhadap personel UNIFIL terjadi di tengah operasi militer Israel ke Lebanon selatan.
Israel telah menyerang Lebanon selama berbulan-bulan dan semakin mengintensifkan gempurannya sejak kelompok paramiliter Hizbullah menembakkan roket ke wilayahnya sebagai balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei pada 28 Februari.
Israel dilaporkan meluncurkan pengeboman intensif dan serangan darat ke selatan Lebanon sejak awal Maret.
Otoritas Lebanon melaporkan lebih dari 1.200 orang terbunuh akibat serangan Israel sejak awal Maret.