TRIBUNMANADO.CO.ID,SANGIHE – Warga Sangihe Sulawesi Utara saat ini sedang merasakan cuaca yang lumayan panas.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Naha, Astrid Yesica Lasut menjelasakan penyebabnya.
Memang suhu udara panas ini dipengaruhi faktor iklim.
Baca juga: Ternyata Ini Penyebab Cuaca di Sangihe Sulut Terasa Panas, BMKG Minta Warga untuk Waspada
Dalam wawancara bersama Tribun Manado pada Rabu (1/4/2026), Astrid mengungkapkan bahwa secara umum wilayah Sangihe termasuk dalam tipe iklim ekuatorial.
Artinya, pola cuaca di daerah ini sangat dipengaruhi oleh pergerakan semu matahari.
“Wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe ini masuk dalam tipe iklim ekuatorial, sehingga berpotensi mengalami hujan sepanjang tahun. Jadi tidak ada istilah awal atau akhir musim kemarau seperti di daerah lain,” jelasnya.
Ia menambahkan, meskipun demikian, terdapat periode tertentu dengan curah hujan yang lebih rendah, yang diprediksi terjadi pada bulan Agustus.
Namun kondisi tersebut tidak akan sesignifikan wilayah lain di Sulawesi Utara.
Terkait cuaca panas yang dirasakan masyarakat belakangan ini, Astrid menyebutkan hal tersebut dipengaruhi oleh adanya pola divergensi di atas wilayah Sulawesi Utara.
Kondisi ini menyebabkan pembentukan awan menjadi tidak maksimal.
“Akibatnya, cuaca cenderung cerah hingga cerah berawan dalam beberapa hari terakhir dan diperkirakan masih berlangsung dalam sepekan ke depan,” ujarnya.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap dampak cuaca panas, termasuk potensi kebakaran akibat kondisi kering di beberapa wilayah.
Selain itu, masyarakat diminta untuk terus memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG, baik melalui aplikasi Info BMKG maupun media sosial resmi BMKG Sulawesi Utara dan BMKG Sangihe.
Sementara itu, terkait kondisi gelombang laut akibat angin timur yang mulai bertiup, BMKG memastikan masih dalam kategori aman.
“Untuk tinggi gelombang saat ini berkisar antara 0,5 hingga 1,25 meter, atau masuk kategori rendah hingga sedang. Artinya masih relatif aman bagi nelayan untuk beraktivitas di laut,” pungkas Astrid. (EDU)