Hotong: Si Butiran Emas dari Bumi Bupolo yang Kini Terancam Dilupakan
Mesya Marasabessy April 01, 2026 02:52 PM

Penulis : Piter A. Sayaranamual, S.Sos 

Pamong Nilai Budaya, Ahli Pertama BPK Wilayah XX .Maluku 

Di sebuah ladang berbatu di pedalaman Pulau Buru, seorang petani tua menabur benih ke arah angin berhembus. Gerakannya terlatih, penuh keyakinan. Bukan sekadar kebiasaan, itu adalah pelaksanaan pesan leluhur yang telah diwariskan berabad-abad lamanya. Itulah hotong, atau dalam bahasa Buru disebut feten. Tanaman pangan mungil yang menyimpan sejarah besar. 

Bagi sebagian besar orang Indonesia, hotong mungkin terdengar asing, namun bagi masyarakat adat Pulau Buru di Maluku tanaman ini adalah segalanya. Ia adalah makanan, ia adalah ritual, ia adalah identitas. 

"Hotong bukan sekadar pangan lokal. Ia adalah simbol pengorbanan, keberkahan, dan jembatan penghubung antara manusia, alam, dan leluhur orang Buru" - Pelik Tasane, 48 tahun, petani hotong, Dusun Waenewen, Desa Labuang, Kecamatan Namrole.  

Putri yang Menjadi Butiran Pangan 
Kisah asal-usul hotong sungguh menyentuh hati, menurut kepercayaan masyarakat Buru, konon pada zaman dahulu hiduplah sekelompok orang yang hendak melakukan pelayaran panjang, masalahnya, mereka tidak punya cukup bekal makanan. Seorang putri bermuka cantik berhati mulia pun bersedih melihat kondisi saudara-saudaranya.

Dengan penuh keikhlasan, sang putri berdoa kepada Opulastala (Tuhan Yang Maha Kuasa), memohon agar dirinya bisa memberikan makanan bagi mereka yang dicintai sekalipun harus mengorbankan tubuhnya sendiri dan Tuhan pun mengabulkan. Sebagian tubuh sang putri berubah menjadi benih hotong yang kemudian ia berikan sambil berpesan: "Ambil dan bagikanlah benih ini, taburlah mengikuti arah angin." 

Pesan sederhana namun sarat makna itu kini masih dijalankan oleh para petani hotong di Buru. Menabur benih harus searah angin bukan sekadar teknik bertani, melainkan penghormatan kepada sang putri yang telah mengorbankan segalanya. 

HOTONG BARU PANEN
HOTONG - Masyarakat kampung Nusarua, Buru Selatan berfoto bersama setelah panen hotong, ekspresi kebanggaan dan syukur atas warisan leluhur yang masih terjaga.

Tiga Jenis, Satu Jiwa 
Masyarakat di Buru Selatan mengenal tiga jenis hotong: Fet Folot (hotong berbulu), Fet Kikin (hotong tidak berbulu), dan Fet Gilat (hotong hitam/loreng). Ketiganya tumbuh di lahan yang oleh sebagian orang dianggap tidak produktif, tanah kering, berbatu, marjinal.

Justru di situlah kekuatan hotong: ia tidak butuh manja, tidak butuh irigasi canggih, tidak butuh pupuk kimia berlebihan. Hotong termasuk dalam jenis Setaria italica (L) Beauv saudara jauh dari padi dan lebih mirip alang-alang dalam penampilannya. Ia bisa tumbuh dari dataran rendah hingga pegunungan, membutuhkan waktu hanya 75-90 hari dari tanam hingga panen. Singkat, tapi hasilnya sangat berarti. 

Ritual Sebelum Benih Ditebar 
Menanam hotong bukan pekerjaan asal-asalan. Ada serangkaian ritual yang harus dilalui. Dimulai dari pembersihan lahan di bulan Oktober - November, pembakaran (pefa hawa), hingga "mendinginkan" lahan selama beberapa hari. Laki-laki mengerjakan bagian yang berat ini menebang pohon, membersihkan semak, menyiapkan tanah.

"Doa syarat tidak bisa disampaikan kepada orang lain karena itu pamali dan rahasia. Ini warisan dari orang tua kami"- Benhard Lesnussa, 85 Tahun, Kepala Soa Masbait, Desa Labuang, Namrole  

Lebih dari Makanan: Sajian Para Raja 
Dalam tata nilai masyarakat adat Buru hotong memiliki kedudukan istimewa yang tak tertandingi tanaman lain. Pada zaman kerajaan, upeti kepada raja tidak akan diterima jika tidak disertai hotong. Lebih spesifik lagi: hotong yang dipersembahkan haruslah hasil panen pertama yang disebut ulu hasil sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan dan penghormatan kepada raja.  

Hotong juga hadir di meja makan dalam setiap momen penting: perkawinan, upacara adat, bahkan acara kematian. Dalam tradisi lama, feten konit (hotong kuning) selalu dihidangkan untuk semua yang hadir dalam upacara kematian. Warna kuningnya yang hangat seolah menjadi simbol kehidupan di tengah duka. 

Baca juga: Dituduh Selingkuh, Penjual Rujak Natsepa ini Polisikan Konten Kreator Liliz

Baca juga: Dugaan Korupsi Bansos Malteng, Saksi HA Kembalikan Uang ke Kas Negara, Akankah Nama Lain Menyusul?

Una Lamat: Pesta Syukur Setelah Panen 
Setiap kali panen selesai, masyarakat Buru menggelar Una Lamat sebuah makan bersama di meja panjang beralaskan daun pisang. Di atasnya tersaji hasil kebun segar: hotong, ikan, dan daging hewan buruan dari hutan. Pemilik kebun, keluarga, pendeta, majelis jemaat semua duduk bersama dalam kebersamaan yang tulus.  

Una Lamat bukan sekadar pesta makan, ini adalah ungkapan syukur kepada Tuhan dan leluhur, pengakuan atas kerja keras bersama, dan penghormatan kepada tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di sini, hotong menjadi pusat dari sebuah ekosistem budaya yang hidup. 

Dari Butiran ke Piring: Ragam Olahan Hotong 
Kepiawaian perempuan Buru dalam mengolah hotong sungguh memukau. Dari butiran kecil yang ditumbuk dalam lesung kayu lahirlah beragam sajian: bubur hotong yang hangat dan mengenyangkan, feten konit (hotong kuning) yang mirip nasi kuning tapi punya karakter rasa tersendiri, hingga wajik hotong yang manis legit dari campuran gula aren dan santan. Di era kini, kreativitas kian berkembang lahirlah kue kering, cookies, bahkan mie instan berbahan hotong. 

Resep Olahan Hotong Tradisional 

  • Feten Konit (Hotong Kuning); biji hotong, santan, kunyit, daun pandan, garam. Dimasak seperti nasi kuning tanpa dikukus.
  • Bubur Hotong; biji hotong dimasak dengan air atau santan, tambah daun pandan dan garam secukupnya.
  • Wajik Hotong; biji hotong, gula aren, santan, kayu manis. Dituang ke loyang lalu dipotong-potong setelah dingin.
  • Kue Kering / Cookies Hotong; tepung hotong dicampur tepung terigu, gula, margarin, dan telur. Dipanggang hingga renyah.
  • Hotong dalam Bambu; olahan tertua: hotong dimasak dalam bambu bersama daging kusu (kuskus) hasil buruan hutan. 

Ancaman yang Nyata
Namun di balik keagungan tradisi itu, kenyataan pahit tidak bisa ditutup-tutupi. Hotong kini menghadapi ancaman serius. Luas lahan tanam terus menyusut. Generasi muda lebih akrab dengan nasi putih, mie instan, dan roti. Hotong sering dicap sebagai "makanan orang tua" atau "makanan kampung" padahal kandungan gizinya jauh lebih kaya dari beras biasa, serat tinggi, karbohidrat kompleks, protein nabati, tahan disimpan lama.

Urbanisasi menyedot tenaga muda keluar dari kampung, lahan-lahan hotong beralih fungsi, Pengetahuan tentang doa syarat, teknik menabur benih, cara membaca arah angin semua itu terancam tidak sempat diwariskan. Jika dibiarkan, dalam satu atau dua generasi, hotong bisa menjadi sejarah yang hanya bisa dibaca di buku. 

"Pelestarian hotong bukan hanya soal makanan. Ini tentang menjaga jati diri, kedaulatan pangan, dan keberlanjutan lingkungan masyarakat adat pulau Buru". 

 
Secercah Harapan dari Rekor MURI 
Di tengah kekhawatiran itu, ada kabar menggembirakan. Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Buru pernah menggagas program "One Day No Rice"  satu hari tanpa nasi beras, diganti produk olahan hotong.

Hasilnya luar biasa: ratusan bahkan ribuan produk olahan hotong ditampilkan serentak, dan program ini berhasil mendapatkan pengakuan Rekor MURI pada tanggal 19 Desember 2016.  sebagai olahan pangan lokal terbanyak.  

Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XX Maluku pun terus bekerja melalui Studi mendalam tentang hotong sebagai makanan tradisional bersama masyarakat adat di Kabupaten  Buru dan Buru Selatan, kini tengah diproses untuk diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia di Tahun 2026.

Langkah ini diharapkan dapat memberi perlindungan hukum sekaligus mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis hotong di Pulau Buru dan Buru Selatan.

Hotong adalah cermin dari siapa orang Buru, dalam setiap butirannya tersimpan pengorbanan, cinta, doa, dan kearifan yang merentang ribuan tahun. Ia tumbuh di tanah yang keras persis seperti masyarakat yang melahirkannya 

Pertanyaannya kini: akankah kita membiarkan butiran emas itu hilang ditelan zaman? Atau kita pilih untuk bersama menjaganya demi mereka yang datang setelah kita? - Piter A. 

Syaranamual, S.Sos. Pamong Budaya Ahli Pertama - Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX | Pamong budaya yang aktif mendokumentasikan kekayaan warisan budaya Maluku.

Terlibat langsung dalam studi pelestarian makanan tradisional hotong dan ketahanan pangan masyarakat adat Buru Selatan tahun 2025. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.