Sidang DK PBB Memanas, Indonesia-Israel Saling Tuding Usai Gugurnya 3 Prajurit TNI: Kami Tak Terima
Adrianus Adhi April 01, 2026 03:32 PM

SURYA.co.id - Sidang darurat Dewan Keamanan PBB di New York, Rabu (1/4/2026) memanas. Indonesia dan Israel saling tuding menyusul gugurnya tiga prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon Selatan.

Dikutip SURYA.co.id dari video United Nations, Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric, menyatakan bahwa investigasi awal menunjukkan konvoi pasukan Indonesia dihantam ledakan saat melintasi wilayah Bani Hayyan pada 30 Maret lalu.

Pihak PBB lalu mengidentifikasi ketiga prajurit yang gugur adalah:

  • Kopral Farizal Rambe (28 tahun)
  • Mayor Zulmi Aditya Iskandar (33 tahun)
  • Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan (26 tahun)

Dujarric menyampaikan belasungkawa mendalam dan menegaskan bahwa keselamatan personel PBB adalah prioritas yang harus dijaga oleh semua pihak yang berkonflik sesuai hukum internasional.

Indonesia: Israel Bertanggung Jawab atas Eskalasi

Duta Besar RI untuk PBB, Umar Hadi, menyampaikan kecaman keras atas serangan terhadap pasukan UNIFIL yang terjadi pada 29 dan 30 Maret tersebut.

Ia menegaskan bahwa insiden ini merupakan dampak langsung dari agresi militer Israel di wilayah Lebanon.

"Eskalasi saat ini tidak terjadi begitu saja. Ini bermula dari pelanggaran berulang oleh militer Israel ke wilayah Lebanon," ujar Umar Hadi.

Baca juga: Sosok Umar Hadi, Wakil RI di PBB yang Kutuk Serangan Israel ke Lebanon Berujung 3 Prajurit TNI Gugur

Indonesia juga mendesak agar Israel menghentikan serangan yang melanggar kedaulatan Lebanon dan membahayakan nyawa penjaga perdamaian.

Israel: Hizbullah Gunakan Pasukan PBB sebagai Tameng

Di sisi lain, Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menolak tuduhan tersebut dan justru menuding kelompok Hizbullah sebagai pihak yang menempatkan pasukan PBB dalam bahaya.

Menurut Danon, Hizbullah sengaja beroperasi di dekat posisi UNIFIL untuk menjadikan mereka tameng di garis depan pertempuran.

Danon juga mengungkapkan bahwa Israel telah mengirimkan surat peringatan resmi kepada UNIFIL pada 22 Maret terkait bahaya di area Janbat.

Israel juga mengklaim telah meminta relokasi sementara posisi PBB untuk melindungi personel mereka.

"Hizbullah memanfaatkan keberadaan posisi PBB dengan cara yang membahayakan personel UNIFIL. Kami meminta reposisi sementara, bukan untuk eskalasi, tetapi untuk perlindungan," klaim Danon sambil menunjukkan dokumen peringatan tersebut di hadapan Dewan Keamanan.

Baca juga: Imbas 1 Prajurit TNI Gugur dalam Serangan Israel ke Markas UNIFIL di Lebanon, Indonesia Kecam Keras

Hingga saat ini, situasi di perbatasan Lebanon Selatan masih terus memanas, sementara PBB terus mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri dan menghormati mandat pasukan perdamaian di wilayah tersebut.

Dua Insiden Fatal dalam 24 Jam

Untuk diketahui, dua insiden terpisah menewaskan tiga prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan perdamaian UNIFIL di Lebanon Selatan.

  • Insiden Pertama (28 Maret 2026, malam): Sebuah proyektil menghantam posisi UNIFIL di Adchit al-Qusayr. Satu prajurit Indonesia gugur, satu luka kritis, dan tiga lainnya terluka. Asal proyektil belum teridentifikasi, penyelidikan segera dilakukan.
  • Insiden Kedua (30 Maret 2026): Ledakan bom menghantam konvoi logistik UNIFIL di Bani Hayyan. Dua prajurit Indonesia meninggal di lokasi, sementara dua lainnya terluka, satu dalam kondisi serius dan dievakuasi ke Beirut.

PBB mengutuk keras kedua insiden tersebut, menegaskan bahwa penjaga perdamaian tidak boleh menjadi target. Serangan terhadap mereka dianggap sebagai pelanggaran serius hukum humaniter internasional. UNIFIL menekankan bahwa mandat Dewan Keamanan tetap dijalankan meski dalam kondisi berbahaya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.