TRIBUNGORONTALO.COM – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menjadi pusat pelaksanaan kegiatan penguatan kapasitas Hak Asasi Manusia (HAM) yang dihadiri Menteri HAM RI, Natalius Pigai, Rabu (1/4/2026).
Kegiatan ini dinilai menjadi momentum penting dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap nilai-nilai HAM.
Rektor UNG, Eduart Wolok, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga karena kampus yang dipimpinnya dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan berskala besar tersebut.
“Merupakan sebuah kebanggaan bagi Universitas Negeri Gorontalo ketika diminta memfasilitasi kegiatan ini. Apalagi kegiatan ini sangat bermanfaat bagi adik-adik mahasiswa dan siswa yang hadir hari ini,” ujar Eduart di hadapan ribuan peserta.
Kegiatan penguatan kapasitas HAM ini merupakan kolaborasi antara Direktorat Penguatan Kapasitas HAM Masyarakat, Komunitas, dan Pelaku Usaha (MKPU) Kementerian HAM bersama Kantor Wilayah setempat.
Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman, kesadaran, serta partisipasi aktif masyarakat dalam penghormatan, perlindungan, pemenuhan, penegakan, dan pemajuan HAM.
Menurut Eduart, kehadiran langsung Menteri HAM di tengah mahasiswa menjadi kesempatan langka yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, terutama untuk berdiskusi dan mendapatkan pemahaman yang benar terkait isu-isu HAM.
“Momentum seperti ini jangan disia-siakan. Kita bisa belajar langsung dari sumber yang benar-benar berkompeten di bidang hak asasi manusia,” katanya.
Ia juga melaporkan sejumlah capaian dan kondisi terkini UNG kepada Menteri HAM.
Baca juga: Nama-nama 16 SPPG Gorontalo Ditutup Pemerintah karena Tak Punya Instalasi Pembuangan Air Limbah
Saat ini, jumlah mahasiswa aktif UNG mencapai 21.595 orang pada semester berjalan.
Jumlah tersebut akan meningkat hingga kisaran 26.000 hingga 27.000 mahasiswa jika ditambah dengan penerimaan mahasiswa baru setiap tahunnya.
“Baru-baru ini kami juga telah menerima hampir 2.000 mahasiswa melalui seleksi nasional berdasarkan prestasi,” jelasnya.
Selain itu, UNG juga terus menunjukkan perkembangan dalam aspek internasionalisasi kampus.
Eduart mengungkapkan bahwa pihaknya memiliki mahasiswa asing, khususnya dari Timor Leste, yang aktif mengikuti perkuliahan.
Menariknya, mahasiswa asal Timor Leste tersebut menggunakan bahasa Indonesia dalam proses belajar.
Hal ini, menurutnya, menjadi bagian dari kontribusi UNG dalam memperluas penggunaan bahasa Indonesia di kawasan regional.
“Alhamdulillah, sekarang bahasa Indonesia sudah diajarkan sampai tingkat SMA di Timor Leste,” ungkapnya.
Tak hanya itu, UNG juga mencatat memiliki 1.054 dosen, dengan 72 di antaranya merupakan guru besar.
Di sisi lain, kampus ini juga memberikan perhatian besar terhadap akses pendidikan melalui program beasiswa.
“Jumlah mahasiswa penerima beasiswa kami sekitar 7.900 orang, termasuk mahasiswa dari Papua yang juga kami fasilitasi untuk menempuh pendidikan di sini,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Eduart turut menyinggung pentingnya afirmasi pendidikan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Ia menyebut UNG telah mengambil peran dalam mendukung kebutuhan tenaga medis di daerah, salah satunya melalui pembinaan mahasiswa kedokteran dari wilayah tertentu.
“Kami juga membina mahasiswa, termasuk dari daerah yang membutuhkan tenaga dokter, agar setelah lulus bisa kembali dan mengabdi di daerahnya,” tambahnya.
Lebih lanjut, Eduart menekankan bahwa desain kegiatan yang melibatkan ribuan peserta ini memang dirancang agar interaktif.
Mahasiswa dan siswa diberi ruang untuk berdialog langsung dengan Menteri HAM, sehingga tidak hanya bergantung pada informasi dari media sosial.
“Dengan interaksi langsung seperti ini, kita bisa berdiskusi, bertanya, dan mendapatkan pemahaman yang lebih utuh,” jelasnya.
Kegiatan ini direncanakan melibatkan sekitar 5.000 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, pelajar, hingga unsur masyarakat lainnya. Antusiasme peserta terlihat dari membludaknya kehadiran hingga memenuhi area kegiatan.
Di akhir sambutannya, Eduart menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut, termasuk Pemerintah Provinsi Gorontalo.
Ia berharap kegiatan penguatan kapasitas HAM ini tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi mampu memberikan dampak nyata dalam membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya penghormatan terhadap hak asasi manusia.
“Selamat mengikuti kegiatan ini. Semoga berjalan lancar dan membawa keberkahan serta kebaikan bagi kita semua,” tutupnya.(***)