Warga Pasrah jika Jalan Ditutup PT KAI Imbas dari Aksi Blokade Rel Kereta Api di Kota Bandar Lampung
Akmal KhoirulHabib April 01, 2026 07:42 PM

- Ketua RT 01 Lingkungan 2, Faizal Amir, mengaku menyesalkan aksi blokade rel yang dilakukan oleh warga.

Faizal mengaku tidak mengetahui pasti alasan warga melakukan pemblokiran rel saat itu karena tidak ada konfirmasi kepada pihak RT.

“Saya menyesalkan kejadian seperti itu. Harapannya warga juga bisa memahami aturan dan hukum terkait perlintasan kereta api,” ujarnya saat diwawancarai Tribun Lampung dalam program Saksi Kata, Senin (30/3/2026).

Ia menambahkan, selama ini ada warga yang secara sukarela membantu mengatur lalu lintas di perlintasan sebidang, terutama pada siang hari.

Warga itu hanya memberi tanda jika ada kereta yang akan melintas.

Namun, Faizal menegaskan orang tersebut bukan petugas resmi.

“Itu warga yang membantu saja. Biasanya masyarakat memberi sedikit rezeki secara sukarela,” jelasnya.

Karena itu, selain palang pintu, warga juga berharap ada petugas resmi dari PT KAI yang ditempatkan di perlintasan tersebut.

Usulan pemasangan palang pintu sebenarnya sudah beberapa kali disampaikan melalui musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang).

Warga berharap usulan itu bisa diteruskan oleh pemerintah kota ke dinas terkait dan PT KAI.

Menurut Faizal, pemasangan palang pintu jauh lebih realistis dibandingkan pembangunan underpass.

“Kalau underpass rasanya tidak mungkin, karena ini bukan jalan utama,” katanya.

Meski begitu, Faizal menegaskan warga tidak akan keberatan jika suatu saat PT KAI memutuskan menutup perlintasan tersebut.

“Meskipun nanti ditutup, kami tidak masalah. Itu memang jalur kereta dan menjadi kewenangan PT KAI,” ujarnya.

Faizal mengingatkan masyarakat yang melintas di rel tersebut, baik warga Garuntang maupun dari luar daerah, agar selalu berhati-hati dan mematuhi rambu lalu lintas.

Ia menjelaskan, jalan di wilayah itu merupakan jalur alternatif dari Jalan Bypass menuju Jalan Yos Sudarso. Jalan tersebut juga bisa tembus ke arah Sukaraja maupun Panjang.

“Jalan ini sekarang sudah bagus, sudah dicor rabat beton sejak 2016,” ujarnya.

Dulu, kata Faizal, kondisi jalan di sana rusak dan belum banyak dilalui kendaraan.

Karena itu, sejak awal memang belum pernah ada palang pintu perlintasan.

Setelah pemerintah melakukan pembangunan dan jalan diperbaiki hingga tembus ke kawasan Kuala menuju Jalan Yos Sudarso, aktivitas kendaraan pun semakin ramai.

Di sekitar lokasi juga terdapat kawasan pendidikan. Ada dua SMP negeri dan satu SMA negeri, sehingga lalu lintas di jalan itu semakin padat.

Selama ini, kata Faizal, PT KAI hanya memasang portal pembatas tinggi kendaraan agar truk besar tidak melintas di jalur tersebut. Tujuannya untuk mencegah kemacetan sekaligus meminimalkan risiko kecelakaan di area sekolah.

“Kalau palang pintu memang dari dulu tidak ada. Tapi harapan kami setelah kejadian ini mudah-mudahan bisa dipasang demi keselamatan bersama,” ujarnya.

Faizal menyebut, selama dirinya menjabat sebagai RT, sudah tiga kali terjadi kecelakaan di perlintasan tersebut.

Peristiwa paling parah terjadi beberapa waktu lalu ketika sebuah minibus yang membawa karyawan bank tertabrak kereta pada siang hari.

Mobil itu ringsek dan para penumpangnya sempat terjebak di dalam kendaraan. Warga harus membantu mengeluarkan korban dengan mendongkrak dan memotong bagian mobil.

“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, hanya luka-luka,” katanya.

Kejadian lain terjadi sekitar dua tahun lalu ketika sebuah truk fuso bermuatan semen mengalami rem blong. Truk tersebut terguling dan muatannya berserakan di sekitar rel.

“Korban jiwa tidak ada, tapi kondisinya memang parah waktu itu,” kata Faizal.

Sementara kejadian terakhir yang sempat memicu aksi blokade rel disebutnya tidak terlalu parah. Menurutnya hanya terjadi senggolan kecil dan sopir kendaraan kaget.(*)

 

Program: Saksi Kata
Sumber: Tribun Lampung
Editor: Akmal Khoirul Habib

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.