Seniman Gayo: Muazin Mudereje, Mainkan Rebeb di Panggung "Sengkewe Sepanjang Musim"
Sri Widya Rahma April 01, 2026 07:54 PM

TribunGayo.com, TAKENGON - Di tengah geliat kebangkitan kembali seni tradisi Gayo, nama Muazin Mudereje muncul sebagai salah satu generasi muda yang bekerja sunyi namun berdampak besar: menghidupkan kembali alat musik rebeb, instrumen gesek tradisional Gayo yang sempat lama hilang dari praktik pertunjukan.

Baca juga: Musisi Muda Gayo Ciptakan Alat Musik dari Batang Kopi, Tampil di “Sengkewe Sepanjang Musim”

Lahir di Arul Latong, Kecamatan Bies, Aceh Tengah, 30 November 1995, Muazin tumbuh dalam lingkungan budaya yang dekat dengan seni tradisi.

Alat musik rebeb akan dimainkan  Muazin dalam panggung "Sengkewe Sepanjang Musim" pada Sabtu (4/4/2026), di Taman Inen Mayak Teri Takengon, Kabupaten Aceh Tengah.

Pertunjukan tersebut diselenggarakan Komunitas Desember Kopi Gayo atas dukungan Dana Indonesia, LPDP dan Kementerian Kebudayaan. 

Ketertarikan Muazin pada musik tradisional tidak hanya berhenti pada kemampuan memainkan alat musik, tetapi berkembang menjadi kerja kreatif yang lebih jauh: riset, rekonstruksi dan penghidupan kembali instrumen yang hampir punah.

Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Pendidikan Seni Tari dan Musik pada tahun 2020, yang memperkuat fondasi akademik sekaligus praktik keseniannya. 

Bagi Muazin, rebeb bukan sekadar alat musik lama.

Baca juga: Seniman Perempuan Dominasi Pertunjukan “Sengkewe Sepanjang Musim” di Taman Inen Mayak Teri

Rebeb adalah ingatan kolektif masyarakat Gayo yang pernah menjadi bagian penting dalam ekspresi musikal tradisi, terutama dalam pengiring sastra lisan dan pertunjukan.

Ketika instrumen ini nyaris tidak lagi ditemukan dimainkan secara aktif, Muazin melakukan upaya rekonstruksi mempelajari bentuk, bunyi, teknik gesek, serta konteks penggunaannya hingga rebeb kembali hadir sebagai suara yang hidup di panggung.

Langkah rekonstruksi ini bukan pekerjaan sederhana.

Ia membutuhkan ketekunan membaca jejak-jejak tradisi, mendengar cerita para pelaku seni lama, serta melakukan eksperimen bunyi untuk mendekati karakter musikal rebeb yang autentik.

Upaya tersebut menjadikan Muazin sebagai salah satu seniman muda Gayo yang berperan penting dalam menjaga kesinambungan pengetahuan musikal tradisi.

Selain dikenal sebagai rekonstruktor rebeb, Muazin juga aktif sebagai musisi tradisional dalam berbagai forum nasional dan internasional.

Ia pernah terlibat dalam International Rapa’i Festival di Banda Aceh, Lhokseumawe dan Bireuen, tampil dalam Parade Musik Nusantara di TMII Jakarta, mengikuti Malay Rentak Festival di Langsa, serta berpartisipasi dalam pertunjukan lintas negara dalam jaringan IMT-GT (Indonesia–Malaysia–Thailand).

Pengalaman ini memperlihatkan konsistensinya sebagai seniman pertunjukan yang menjembatani tradisi lokal dengan ruang ekspresi yang lebih luas.

Kehadiran rebeb dalam pertunjukan Sengkewe Sepanjang Musim, menjadi simbol bahwa tradisi yang hampir hilang masih bisa kembali berbunyi, selama ada generasi yang bersedia merawatnya.

Di tangan Muazin Mudereje, rebeb tidak hanya direkonstruksi sebagai benda, tetapi dihidupkan kembali sebagai suara yang menyambung ingatan budaya Gayo dari masa lalu menuju masa depan. (***Fikar W Eda***)

Baca juga: Tiga Penyair Perempuan Gayo Tampil Membaca Puisi dalam “Sengkewe Sepanjang Musim”

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.