PT SSP Akhirnya Batalkan Wacana Pembangunan Real Estate
Haorrahman April 01, 2026 09:43 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Pasuruan - PT Stasiunkota Sarana Permai (SSP) memastikan wacana pembangunan real estate di lereng Gunung Arjuno - Welirang yang sempat disosialisasikan dibatalkan.

Manajemen perusahaan bersepakat untuk mengurungkan niat pembangunan real estate itu setelah melihat banyak gelombang penolakan dari warga Prigen.

Saat dikonfirmasi, salah satu staf PT SSP Teguh Djatmiko membenarkan keputusan manajemen yang memperhatikan dan mempertimbangkan aspirasi warga.

“Manajemen sudah memastikan tidak akan melanjutkan wacana pembangunan real estate di sana,” kata Teguh saat dihubungi, Rabu (1/4/2026) sore.

Disampaikannya, kondusifitas warga harus menjadi salah satu dasar pembangunan real estate. Karena banyak yang menolak, maka wacana ini diurungkan.

Baca juga: Pansus Real Estate Matangkan Rekomendasi Alih Fungsi Lahan Gunung Arjuno dan Welirang

Perusahaan tersebut saat ini, sedang mempertimbangkan perubahan konsep dari rencana awal pembangunan real estate menjadi kawasan wisata alam terpadu.

“Perubahan konsep menjadi wisata alam terpadu ini merupakan bagian dari upaya kami mendengarkan aspirasi tokoh masyarakat, tokoh - tokoh disana,”’urainya.

Menurutnya, konsep baru dirancang berbeda dengan rencana sebelumnya. Pengembangan wisata tidak akan dilakukan dengan pembukaan lahan secara besar-besaran.

Selain itu, kata Teguh, perusahaan juga berkomitmen untuk terus menjaga kelestarian lingkungan di kawasan tersebut agar tetap terjaga.

Baca juga: Pemkab Tegaskan Belum Ada Izin Real Estate Prigen, Mas Rusdi Minta Investasi Tetap Kondusif

“Kami tidak ingin keberadaan kami justru merugikan masyarakat atau menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Karena itu rencana awal kami ubah,” jelasnya.

Ia menambahkan, konsep pengembangan kawasan saat ini masih dalam tahap kajian oleh konsultan serta sejumlah perguruan tinggi.

Dalam rancangan tersebut, pembangunan akan dilakukan dengan kepadatan rendah dan tetap mempertahankan tegakan pohon yang ada.

“Sekalipun nanti menjadi kawasan wisata, bangunan tidak akan padat. Tegakan pohon tetap dipertahankan agar kawasan tetap asri,” ungkapnya.

Dalam rencana pengembangan wisata tersebut, pembukaan lahan diproyeksi dibawah 35 persen dari total lahan yang akan dimanfaatkan untuk pembangunan.

Sementara sisanya tetap dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau (RTH). “Jangan dibayangkan hutannya akan gundul,” terangnya.

Baca juga: Pansus Real Estate Tepis Isu Keretakan, Akhir April Rekomendasi Akan Dikeluarkan

Teguh memastikan bahwa pihaknya akan ikut terus menjaga keseimbangan lingkungan dengan menata kawasan hijau agar lebih terpelihara dan terawat.

Ia menegaskan, konsep pengembangan yang disiapkan perusahaan mengacu pada prinsip pembangunan berkelanjutan atau sustainable development.

“Kami akan menyeimbangkan aspek ekologi, sosial, dan ekonomi. Pembangunan akan dilakukan bertahap dan melihat aspek sosial,” tutup dia. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.