Jakarta (ANTARA) - Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Barat menggencarkan gerakan gerebek pilah serta "workshop" untuk menekan produksi sampah di tingkat hulu atau warga.

Kasudin LH Jakbar, Achmad Hariadi mengatakan, dalam gerakan itu, petugasnya mendatangi rumah warga atau rumah susun untuk mengetahui cara warga memilah sampah.

"Jadi kita datangi langsung ke rumah warga. Kalau sampahnya masih tercampur (organik dan anorganik), kita edukasi untuk dipilah sampahnya. Itu gerebek pilah sampah," kata Hariadi saat dihubungi di Jakarta, Rabu.

Adapun kegiatan itu telah dimulai di beberapa lokasi dan akan terus dilanjutkan di lokasi-lokasi lainnya secara tematik.

"Beberapa waktu lalu kita sudah mulai di Rusun Cinta Kasih, RW 17 Cengkareng Timur. Kemudian kita lakukan juga di Kembangan bekerja sama dengan Damkar ya, mereka dukung juga program ini," kata Hariadi.

Selanjutnya, kegiatan yang diinisiasi di tingkat Sudin itu akan diteruskan oleh Satuan Pelaksana (Satpel) di tingkat kecamatan.

"Selanjutnya nanti kita datangi rumah warga di RW 04 Tegal Alur, Kalideres, lalu di RW 09 Keagungan, Tamansari. Kemudian, di Rusun Tambora, lalu ke RW 07 Slipi dan RW 01 Tanjung Duren Selatan," ujarnya.

Program ini akan menyasar setiap RW di Jakarta Barat lantaran telah menjadi strategi pengentasan masalah sampah yang disetujui Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah.

"Jadi nanti kita upayakan dalam satu minggu itu ada dua kali kegiatan gerebek pilah sampah," tutur Hariadi.

Dia menambahkan pembatasan kuota pembuangan sampah Jakbar ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang dari 308 menjadi 190 truk per hari harus menjadi alarm bagi masyarakat untuk semakin sadar akan pentingnya pengelolaan sampah.

"Melihat kondisi seperti ini tidak bisa lagi mengandalkan TPST Bantargebang. Jadi, warga harus bijak dalam mengelola sampah," katanya.