TRIBUN-MEDAN.COM - Sikap Presiden Prabowo Subianto terhadap Israel yang bunuh tiga prajurit TNI dan melukai sejumlah lainnya menjadi sorotan pengamat.
Pengamat mendesak agar Prabowo menyatakan sikap yang lebih keras lagi.
Dilansir dari Tribunnews, tiga prajurit TNI yang sedang menjalankan misi perdamaian di Lebanon tewas diserang oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Saat ini UNIFIL (Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon) sedang menyelidiki serangan tersebut. Sementara itu, Israel belum secara resmi mengaku berada di balik serangan.
Yulius Purwadi Hermawan, pakar hubungan internasional dari Universitas Katolik Parahyangan, berkata bahwa informasi dari jurnalis menyebutkan proyektil yang membunuh prajurit TNI memang berasal dari IDF.
Dia kemudian menyinggung respons pemerintah Indonesia terhadap Israel yang menurutnya terkesan normatif dan retorik saja.
“Yang sudah dilakukan Pak Menlu, kan, menyampaikan kutukannya, kemudian menuntut investigasi penuh, lalu meminta deeskalasi,” ujar Yulius dalam acara Kompas Siang di Kompas TV, Rabu, (1/4/2026).
Yulius mendesak pemerintah Indonesia agar bersikap lebih keras dan tegas kepada Israel.
“Kesannya bahwa kita tidak menghargai tiga jiwa anak bangsa yang meninggal, yang sedang menjalankan mandat konstitusional. Seharusnya lebih keras lagi daripada itu.”
Lalu, dia berharap Dewan Keamanan (DK) PBB bisa mengeluarkan resolusi karena pasukan yang diserang Israel berada di bawah payung DK PBB. “Ada pelanggaran yang dilakukan oleh Israel. Tentu saja nanti berbasis investigasi seperti apa gitu.”
Adapun dalam rapat darurat DK PBB yang digelar Selasa malam, (31/3/2026, delegasi Indonesia sudah menyampaikan kritik atas serangan itu. “Kalau di DK PBB agak sulit, mungkin kita bisa berharap Majelis Umum PBB menyelenggarakan rapat darurat, lalu mengeluarkan resolusi, mengutuk. Setidaknya sampai di situ. Seharusnya lebih dari itu,” ujarnya.
“Paling tidak, tidak sekadar menyampaikan di media sosial berbahasa Indonesia, sekalipun dikutip di media internasional, kemudian selesai.”
Lalu, Yulius berharap Presiden Prabowo Subianto bisa lebih serius bersikap, tidak hanya menyampaikan belasungkawa di media sosial.
“[Harusnya] bereaksi yang lebih tegas, lebih keras lagi gitu secara formal," ucap dia.
Menurut Yulius, Prabowo mungkin bisa menelepon Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebagai Ketua Board of Peace (Bop) untuk menyampaikan kekecewaan Indonesia terhadap perilaku Israel. Adapun saat ini Indonesia termasuk anggota BoP.
Dia menilai gugurnya tiga prajurit TNI itu menunjukkan bahwa keanggotaan Indonesia dalam BoP tidak memberikan manfaat bagi Indonesia. Bahkan, Indonesia malah kehilangan independensinya.
Tiga prajurit TNI gugur
Kementerian Pertahanan Republik Indonesia mengonfirmasi dua prajurit TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Kontingen Garuda (Konga) gugur dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon di Lebanon Selatan pada Senin (30/3/2026).
Dengan tambahan tersebut, total prajurit TNI yang gugur menjadi tiga orang dalam dua hari terakhir.
Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menyampaikan bahwa selain korban jiwa, dua prajurit lainnya mengalami luka berat dan saat ini menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan di Beirut.
“Dalam insiden tersebut, dua prajurit TNI dilaporkan gugur, sementara dua prajurit lainnya mengalami luka berat. Para prajurit yang mengalami luka saat ini telah mendapatkan penanganan medis intensif di fasilitas kesehatan di Beirut,” ujar Rico dalam keterangan resmi, Selasa, (31/3/2026).
Dia menjelaskan insiden terjadi saat para prajurit tengah menjalankan tugas pengawalan untuk mendukung kegiatan operasional UNIFIL. Peristiwa tersebut berlangsung di tengah meningkatnya intensitas pertempuran di wilayah Lebanon Selatan.
Hingga kini penyebab pasti kejadian masih dalam proses penyelidikan oleh pihak UNIFIL sesuai mekanisme yang berlaku. Pemerintah Indonesia melalui Kemhan dan TNI terus berkoordinasi dengan markas besar UNIFIL guna memastikan keselamatan seluruh personel serta penanganan terbaik bagi para korban.
“Langkah-langkah evakuasi dan penanganan medis juga telah dilaksanakan secara cepat sesuai prosedur operasional Perserikatan Bangsa-Bangsa,” katanya.
Kemhan menegaskan bahwa keselamatan pasukan perdamaian harus menjadi prioritas utama. Semua pihak yang terlibat konflik diharapkan menghormati hukum humaniter internasional dan menjamin keamanan personel penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Indonesia tetap berkomitmen untuk berkontribusi aktif dalam menjaga perdamaian dunia dan mendukung stabilitas kawasan melalui partisipasi dalam misi perdamaian PBB,” kata Rico.
Identitas korban
Minggu (29/3/2026)
Praka Farizal Romadhon, anggota Yonif 113/J, gugur setelah sebuah proyektil meledak di markas UNIFIL yang berada di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan. Peristiwa ini terjadi di tengah eskalasi kontak senjata antara militer Israel (IDF) dan Hizbullah.
Senin (30/3/2026)
Kapten Infanteri Zulmi dari Grup 2 Kopassus dan Sersan Satu Ichwan dari Kesdam IX Udayana gugur ketika kendaraan tempur yang mereka tumpangi terkena ledakan di Bani Hayyan, Lebanon Selatan.
Sumber ledakan masih belum diketahui. UNIFIL tengah melakukan investigasi terhadap peristiwa ini.
Insiden pada hari Minggu juga menyebabkan tiga personel TNI luka-luka, yakni Praka Rico Pramudia yang mengalami luka berat.
Lalu, Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan yang mengalami luka ringan.
Sementara, dalam insiden ledakan pada Senin, dilaporkan ada dua prajurit yang mengalami luka-luka, yakni Lettu Inf. Sulthan dari Yonif 320 dan Prajurit Kepala (Praka) Deni dari AU Lanud Atang Sanjaya.
(*/Tribun-medan.com)
Baca juga: Israel Bantah Terlibat Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon, Tuding Hizbullah
Baca juga: Hasil Penyelidikan PBB Gugurnya TNI di Lebanon, Milter Israel Tuding Hizbullah Terlibat