TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pernah merasa jantung tiba-tiba berdegup kencang padahal sedang duduk santai atau rebahan?
Kondisi ini sering membuat panik, apalagi jika terjadi tanpa sebab yang jelas.
Namun, dokter spesialis jantung konsultan aritmia dari Eka Hospital MT Haryono, dr. Evan Jim Gunawan, Sp.PD, Sp.JP, (K) CCDS, menegaskan bahwa tidak semua jantung berdebar adalah tanda bahaya.
“Pernah merasa jantung tiba-tiba berdegup kencang padahal sedang bersantai? Bagi yang pertama kali pasti merasakan pastinya jadi cemas. Tapi tak perlu khawatir, tidak semua kondisi jantung berdebar tiba-tiba adalah berbahaya,” jelasnya pada keterangannya, Rabu (1/4/2026).
Fenomena ini berkaitan dengan kondisi yang disebut aritmia, yaitu gangguan irama jantung akibat masalah pada sistem kelistrikan jantung.
Jantung manusia bekerja dengan sistem listrik yang kompleks. Sinyal listrik ini mengatur kapan jantung harus berdetak agar aliran darah tetap lancar ke seluruh tubuh.
Dalam kondisi normal, sinyal berjalan lancar sehingga detak jantung terasa stabil.
Baca juga: Ditanggung Sepenuhnya oleh BPJS Kesehatan, Pasien Aritmia Pulih Lewat Ablasi Jantung
Namun, ketika ada gangguan, irama jantung bisa menjadi terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan.
Secara umum, aritmia terbagi menjadi tiga jenis utama, yaitu takikardia (detak terlalu cepat), bradikardia (terlalu lambat), dan atrial fibrilasi yang tidak beraturan.
Atrial fibrilasi menjadi salah satu jenis yang perlu diwaspadai karena bisa meningkatkan risiko stroke jika tidak ditangani.
Menariknya, tidak semua jantung berdebar perlu dikhawatirkan. Dalam dunia medis, kondisi ini dibagi menjadi dua kategori: fisiologis (wajar) dan patologis (berbahaya).
Pada kondisi fisiologis, jantung berdebar biasanya dipicu oleh hal-hal yang umum, seperti konsumsi kafein berlebihan, olahraga berat, atau emosi kuat seperti stres, panik, hingga jatuh cinta.
Biasanya, detak jantung akan kembali normal setelah pemicunya hilang.
Sebaliknya, kondisi patologis perlu diwaspadai karena muncul tanpa pemicu jelas, berlangsung lama, atau disertai gejala lain.
“Patologis (bahaya), muncul secara tiba-tiba tanpa pemicu yang jelas, bertahan dalam waktu lama, atau disertai dengan gejala fisik lainnya. Ini menandakan adanya gangguan pada sirkuit listrik jantung yang memerlukan pemeriksaan medis,"paparnya.
Ada sejumlah kondisi kesehatan yang sering tidak disadari bisa memicu gangguan irama jantung.
Mulai dari hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol, gangguan tiroid, sleep apnea, hingga ketidakseimbangan elektrolit seperti kekurangan kalium dan magnesium.
Kondisi-kondisi ini dapat mengganggu sistem listrik jantung dan membuat iramanya tidak stabil.
Tubuh sebenarnya memberikan sinyal ketika kondisi jantung mulai bermasalah.
Jika jantung berdebar disertai gejala seperti pingsan, sesak napas, nyeri dada, atau kelelahan ekstrem tanpa sebab, sebaiknya segera mencari bantuan medis.
Gejala tersebut bisa menjadi tanda bahwa aliran darah ke organ vital, termasuk otak, terganggu.
Karena aritmia sering muncul dan hilang, pemeriksaan medis menjadi langkah penting untuk memastikan diagnosis.
Salah satu pemeriksaan awal yang umum dilakukan adalah elektrokardiogram (EKG) untuk merekam aktivitas listrik jantung.
Namun, jika gangguan tidak muncul saat pemeriksaan, dokter biasanya menyarankan penggunaan alat seperti Holter monitoring.
“Holter monitoring, alat kecil yang dipasang pada tubuh selama 24–48 jam (atau lebih) untuk merekam setiap detak jantung saat Anda beraktivitas normal hingga tidur. Ini sangat efektif menangkap gangguan yang tidak muncul saat pemeriksaan EKG biasa,"imbuhnya.
Kabar baiknya, perkembangan teknologi medis membuat aritmia kini bisa ditangani secara efektif.
Salah satu metode yang banyak digunakan adalah ablasi jantung, yaitu prosedur minimal invasif untuk memperbaiki jalur listrik jantung yang bermasalah.
Selain itu, penggunaan alat pacu jantung atau pacemaker juga dapat membantu menjaga irama jantung tetap stabil.
Jika sering mengalami jantung berdebar tanpa sebab jelas, jangan abaikan.
Melakukan pemeriksaan sejak dini bukan hanya membantu menenangkan pikiran, tetapi juga bisa mencegah risiko komplikasi serius di kemudian hari.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)